Berita

Fikri Suadu/Net

Hukum

Teror 'Hoax' Penculikan Anak

SELASA, 21 MARET 2017 | 09:38 WIB | LAPORAN:

Pihak kepolisian telah memastikan informasi penculikan anak kecil yang ditebarkan lewat media sosial adalah hoax alias palsu.

Sejak sepekan terakhir masyarakat di beberapa daerah dibuat resah karena kabar itu.

Isunya si tukang culik anak yang berpura-pura orang gila dan membawa dua kantong plastik, serta sudah mendatangi tempat ngaji anak-anak di wilayah Kecamatan Krian Sidoarjo, Jawa Timur.  


Meski kabar itu telah dibantah, masyarakat masih saja gelisah. Para orang tua dan warga menjadi lebih protektif ketika melihat orang asing mendekati anak-anak. Seperti dialami Ira asal Serang, Banten. Ia nyaris jadi bulan-bulanan warga setempat di Tanah Tinggi, Benteng, Kota Tangerang, karena dikira hendak menculik anak.

Bisa jadi isu penculikan anak itu sengaja dihembuskan untuk menciptakan kepanikan massal di masyarakat.

Begitu pendapat penulis buku 'Otak Dan Perilaku', Fikri Suadu.

"Terkesan musiman alias pernah ada kehebohan yang sama di masyarakat beberapa tahun sebelumnya," kata Fikri yang juga dosen Neuroscience di Indonesia Brain Research Surya University kepada Kantor Berita Politik RMOL, Selasa (21/3).

Jika alasannya penjualan organ untuk anak konglomerat yang butuh donor ginjal, jantung dan lain-lain mestinya tidak musiman.

"Donor ginjal, jantung, dan lain-lain tidak mengenal musim," tegasnya.

Ia mengamati kehebohan penculikan muncul bersamaan hampir di setiap daerah, menghebohkan dan meresahkan jutaan rakyat Indonesia. Tujuannya menciptakan semacam kepanikan dan teror.

"Anehnya tak ada satu pun pelaku penculikan anak yang berhasil ditangkap. Kalaupun ada berita penculikan, judul beritanya agak menggelikan mulai dari pelaku bisa menghilanglah, berhasil kaburlah, dan lain sebagainya," jelas Fikri.

Logikanya, lanjut Fikri, di saat muncul kecemasan pasti kewaspadaan meningkat. Orang semakin hati-hati berjaga. Ini berarti seharusnya ada komplotan penculik yang berhasil ditangkap.

Ia curiga semacam ada "setting media" yang secara sengaja memberitakan kehebohan penculikan anak. Karena jumlah anak yang diculik hingga saat ini tidak terkonfirmasi sama sekali.

"Coba dicek, dalam seminggu terakhir sudah berapa anak yang menjadi korban penculikan yang tujuannya donor organ tersebut," katanya.

Jumlah korban, menurutnya pula, tak sebombastis kepanikan dan keresahan publik yang diciptakan.

"Ada operasi intelijen khusus?" tengarainya.  

Lebih lanjut ia memaparkan, bagi keluarga dan orang tua, tidak ada yang lebih berharga dari nyawa dan masa depan anaknya, Tak sedikit orang tua yang rela mati demi anaknya. Ada yang terpaksa menjual diri demi kelangsungan hidup sang anak.

Otomatis jika heboh kasus penculikan anak, pasti semua perhatian dan atensi langsung tertuju ke keselamatan si anak. Namun yang pasti, imbuh dia, efek psikologis kecemasan pada kasus penculikan anak itu sangat besar. Bahkan efek psikologisnya jauh lebih besar dari pada isu teroris dan wabah penyakit lainnya. Dengan kata lain, sangat efektif jika digunakan untuk pengalihan isu di ruang publik.

"Yang pasti efek dramatisasinya jauh lebih besar daripada jumlah korban anak yang diculik. Sangat efektif untuk menciptakan teror yang sifatnya mencekam dan menggelisahkan banyak orang," terangnya.

Ia berkeyakinan ada yang hendak dialihkan dari perhatian publik dengan isu penculikan anak ini.[wid]

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

UPDATE

Tourism Malaysia Gencarkan Promosi Wisata di Tiga Kota Indonesia

Selasa, 28 April 2026 | 10:20

DPR Desak Evaluasi Nasional Perlintasan Sebidang Usai Tabrakan Kereta di Bekasi

Selasa, 28 April 2026 | 10:13

Bus Shalawat Gratis 24 Jam Disiapkan untuk Jemaah Haji di Makkah

Selasa, 28 April 2026 | 10:09

Update Korban Jiwa Tabrakan KA di Bekasi Bertambah Jadi 14 Orang

Selasa, 28 April 2026 | 10:00

Prabowo Minta Segera Investigasi Kasus Tabrakan Kereta Bekasi

Selasa, 28 April 2026 | 09:56

Lokomotif Argo Bromo Berhasil Dipindahkan, Tim SAR Fokus Evakuasi Korban

Selasa, 28 April 2026 | 09:53

Purbaya Pede IHSG Bisa Terbang 28.000, Pasar Langsung Terkoreksi

Selasa, 28 April 2026 | 09:51

Dinamika Global Tekan Indeks DXY ke Level 98,45 Jelang Keputusan Federal Reserve

Selasa, 28 April 2026 | 09:48

Kopdes Jadi Instrumen Capai Nol Kemiskinan Ekstrem

Selasa, 28 April 2026 | 09:39

Imbas Tabrakan Kereta di Bekasi Timur, Belasan Perjalanan KA Jarak Jauh dari Jakarta Resmi Dibatalkan

Selasa, 28 April 2026 | 09:27

Selengkapnya