Sentimen kesukuan diyakini bakal berdampak pada pemberian dukungan putaran kedua Pilgub DKI Jakarta. Warga mayoritas yakni suku Jawa diprediksi bakal memberikan suaranya kepada paslon bersuku Jawa juga.
"Jakarta itu kan disebut miniaturnya Indonesia. Peristiwa politik yang terjadi di Jakarta merupakan refleksi perpolitikan nasional. Ditingkat nasional, dari tiga kali Pilpres yang menang bersuku Jawa. Dua kali SBY dan terakhir 2014 Joko Widodo," kata Peneliti Senior Indonesia Public Institute Karyono Wibowo kepada Rakyat Merdeka, kemarin.
Kemenangan itu karena secara nasional jumlah penduduk berÂdasarkan suku bangsa ialah yang paling banyak Jawa 95,22 juta atau 40,22 persen dari jumlah penduduk. Di Jakarta pun penduduk terbanyaknya bersuku Jawa yakni 3,453 juta jiwa atau 37 persen dari penduduk Jakarta.
Terbukti, dari dua kali pemilihan gubernur pemenang baik itu gubernur ataupun wakilnya berasal dari suku Jawa. Hal ini dikarenakan suku Jawa sangat loyal dengan sesamanya terkait perebutan kekuasaan.
"Pada putaran pertama ada dua calon yang bersuku Jawa, AHY dan Djarot. Suara Jawa pecah. Di putaran kedua hanya ada satu calon Jawa yakni Cawagub
incumbent Djarot. Loyalitas Jawa kepada sesamanya sulit digoyang," tegasnya.
Sebagaimana diketahui, hasil putaran pertama meloloskan pasangan Ahok-Djarot dan Anies-Sandi. Perolehan suara mereka bersaing ketat di angka 43 persen versus 40 persen. Sedangkan 17 persen diraih oleh Agus-Sylvi.
"Suara AHY inilah yang keÂmungkinkan mengalihkan suaranya ke Djarot," tegasnya.
Karyono mengatakan, suara pemilih Jawa ini menjadi penentukemenangan di putaran kedua. Dia pun yakin, Ahok-Djarot akan terpilih kembali sebagai gubernur dan wakil gubernur diperiode 2017-2022.
"Ini menjadi bumerang bagi penantang karena memainkan sentimen SARA untuk mendaÂpatkan dukungan. Mereka tidak menghitung bahwa itu memÂbuat masyarakat terkotak-kotak. Ternyata membangkitkan sentimen bukan berdampak positif bagi perolehan suara jusÂtru menimbulkan antipati dari masyarakat Jakarta yang memang sangat rasional," tegasnya.
Wakil Gubernur DKI Djarot Saiful Hidayat mengklaim dan merasa bangga jika dirinya merupakan satu-satunya orang Jawa, yang maju di Pilgub DKI Jakarta 2017.
"Dari pilkada ini
sing Jowo yo karek aku thok iki," tegasnya.
Selain itu, Djarot merasa bangga jika saat ini ada sekitar 36 persen warga Jawa yang palingbanyak adalah warga Jawa Tengah. Bahkan, dari 36 persen itu, 15 persen merupaÂkan warga Jawa Tengah yang sudah mempunyai hak pilih di Pilkada DKI Jakarta pada putaran keduanya nanti.
"Ini, warga Jawa yang ada di Jakarta sekitar 36 persen dari 36 persen itu yang palingbanyak Jawa Tengah. Jawa Tengah itu populasinya hampir 15 persen yang punya hak pilih," terangnya.
Djarot mengaku sudah berÂtemu Ganjar agar mengimbau kepada warga Jawa Tengah yang ada di DKI Jakarta untuk betul-betul menjaga kondusivitas menjelang Pilkada DKI Jakarta pada putaran keduanya nanti.
"Selanjutnya, warga Jawa Tengah di Jakarta banyak. Komunitasnya banyak, luar biasa. Dalam rangka Pilkada ya kiÂta dukungannya warga Jawa Tengah untuk bisa menjaga suÂpaya Jakarta bisa aman, damai," pintanya.
Djarot menilai, jika warga Jawa Tengah yang ada di DKI Jakarta merupakan warga yang mempunyai jiwa bisnis yang tangguh dan kuat dalam berÂjuang hidup. "Dan warga Jawa Tengah di sana (di Jakarta) kan warga yang betul-betul punya jiwa entrepreneurship yang tinggi," ujarnya.
Sebagai informasi. Berdasarkan hasil Sensus Penduduk (SP) tahun 2010 yang diselenggarakan oleh Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk Provinsi DKI Jakarta telah mencapai 9.607.787 jiwa. Ternyata hasil SP 2010 tersebut mengungkapkan bahwa penduduk Provinsi DKI Jakarta didominasi oleh Suku Jawa (3,453 juta jiwa), baru pada posisi kedua sampai kelima berturut-turut ditempati oleh Suku Betawi (2,700 juta); Sunda (1,395 juta); Cina (632 ribu); dan Batak (327 ribu). ***