Berita

Politik

Budaya Proyekisme Sedang Terjadi Di Jakarta

MINGGU, 12 MARET 2017 | 08:40 WIB | LAPORAN:

Paradoks atau ketidakseimbangan (imbalances) wajar terjadi di Indonesia khususnya di ibukota. Namun demikian, imbalances yang akhirnya menciptakan suasana chaos (chaotic) dan kasar atau terjal (abrupt) di setiap fase sejarah bangsa di masa lalunya tak bisa lepas dari kondisi saat ini.

Hal itu disampaikan peneliti senior bidang kemasyarakatan dan kebudayaan asal Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Riwanto Tirtosudarmo saat urun rembug kelirumologi bertema "Sungai Yang Normal"di Jaya Suprana Of Performing Arts di MOI, Jakarta.

Suasana chaotic dan abrupt itu yang kemudian mewarisi watak pelaksana kebijakan di negeri ini sudah muncul sejak Indonesia merdeka. Saat itu kondisi yang seharusnya konstitusi dan Pancasila bisa diubah jadi sakralisasi. Selain itu, kata Riwanto, negara yang seharusnya melindungi kaum fakir miskin (komunitarisme) malah menjelma dan menumbuhsuburkan individualisme.


"Tumpang tindih proyek lebih penting dari policy. Proyek itu sempit kepentingannya, karena untuk golongan tertentu saja. Sementara policy itu untuk kebijakan semua. Nah proyekisme ini sedang terjadi di Jakarta," kata Riwanto

Riwanto mengaku menemukan istilah proyekisme bukan berdasarkan hasil studinya. Namun ada studi di Kanada yang meneliti negara-negara bagian selatan, dalam hal ini Indonesia. Kecenderungan budaya proyekisme di Indonesia masih terus berlanjut dan memang dampaknya tidak berkelanjutan.

"Nah itu termasuk normalisasi, giant sea world, betonisasi seperti sekarang ini. Itu budaya proyekisme," kata Riwanto.

Suasana chaotic dan abrupt menurut Riwanto, pun terjadi di era tahun 1965.  Budaya oligarki, membuka invetasi asing yang luas dan kolonialisme di bidang budaya ekonomi politik, dan berubahnya agama menjadi politik pun meluas dan terjadi hingga hari ini.

"Sekaran pun kita lihat tak ada yang berubah, ini cuma reorganisasi pemimpin, ya masih itu-itu saja," ucap Riwanto.[wid]

Populer

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

UPDATE

Fenomena, Warga Sumsel Ramai-Ramai Siarkan Banjir Secara Live

Minggu, 05 April 2026 | 21:48

Besok Jusuf Kalla Laporkan Rismon Sianipar ke Bareskrim Polri

Minggu, 05 April 2026 | 21:29

Kejagung Periksa Kajari Karo Danke Rajagukguk

Minggu, 05 April 2026 | 20:57

Rekan Akmil Kenang Dedikasi Mayor Zulmi di Medan Tugas

Minggu, 05 April 2026 | 20:47

LPSK: RUU PSDK Harus Perkuat SIstem Perlindungan Saksi dan Korban

Minggu, 05 April 2026 | 20:31

JK: Saya Kenal Roy Suryo, Tapi Tak Pernah Danai Isu Ijazah Jokowi

Minggu, 05 April 2026 | 19:58

Simpan Telur di Kulkas, Dicuci Dulu atau Tidak?

Minggu, 05 April 2026 | 19:56

BRIN Ungkap Asa-Usul Cahaya Misterius di Langit Lampung

Minggu, 05 April 2026 | 19:15

Mayor Anumerta Zulmi Salah Satu Prajurit Terbaik Kopassus

Minggu, 05 April 2026 | 18:51

Terendus Skema Gulingkan Prabowo Lewat Rekayasa Krisis dan Kerusuhan

Minggu, 05 April 2026 | 18:33

Selengkapnya