Berita

Foto/Net

Jaya Suprana

ARTIKEL JAYA SUPRANA

Kunjungan Raja Salman Ke DPR

JUMAT, 03 MARET 2017 | 11:41 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

KETIKA bersama Ibu Aylawati Sarwono menghadiri acara DPR RI menyambut kunjungan Raja Salman bin Abdulaziz Al Saud beserta delegasi kenegaraan terbesar yang pernah berkunjung ke Indonesia, beberapa kali lubuk sanubari saya merasa tersentuh. Di balairung sidang paripurna DPR,  saya menyaksikan betapa umat Islam di Indonesia secara tulus menghargai dan menghormati kunjungan Yang Mulia Penjaga Dua Kota Suci Islam.

Demi menghormati Raja Salman yang sudah berusia 81 tahun maka mengalami kesulitan untuk lama berdiri, protokol mewajibkan Ketua DPR Setya Novanto menyampaikan pidato sambutannya dalam posisi duduk di kursi bersebelahan dengan Raja Arab Saudi.

Rasa haru menyelinap di lubuk sanubari saya ketika melihat dua tokoh senior putera terbaik bangsa Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono dan Try Sutrisno tampak hadir duduk berdampingan dan ketika disebut oleh Ketua DPR dalam pidato resmi, langsung disambut hadirin dengan gemuruh tepuk tangan.


Budaya bukan saling hujat namun saling hormat juga terbukti ketika Ketua DPR tidak lupa menyapa Ketua MPR dan Ketua DPD di samping juga menyebut nama Akbar Tanjung dan Agung Laksono sebagai para mantan Ketua DPR RI yang hadir di ruang sidang paripurna DPR demi ikut menyambut kunjungan Raja Arab Saudi.

Suasana lepas dari kebencian langsung terasa ketika beberapa kali akibat terlalu gugup, Ketua DPR, Novia Susanto melakukan kekeliruan di dalam pidatonya namun tidak malu mengaku bahwa dirinya memang grogi, ternyata tidak terdengar reaksi cemooh seperti lazimnya persidangan DPR namun riuh-rendah gelak-tawa hadirin penuh pengertian dan pengampunan.

Penayangan video rekaman bersejarah kunjungan Raja Faisal ke gedung DPR pada tahun 1970 sempat mengharukan hadirin termasuk tentu saja Raja Salman sebagai Raja Arab Saudi ketujuh pewaris pimpinan Wangsa Saud beserta para pangeran serta segenap anggota delegasi yang berduyun-duyun ikut berkunjung ke Indonesia setelah 47 tahun terlewati.

Di dalam pidato sambutannya, Ketua DPR atas nama umat Islam di Indonesia tidak lupa mengucapkan terima kasih atas penambahan kuota haji untuk Indonesia mengingat antre panjang penantian sampai puluhan tahun sehingga banyak warga yang meninggal dunia sebelum sempat menunaikan ibadah Haji.

Secara khusus, sebagai ketua lembaga yang mewakili rakyat, Setya Novanto memohon kepada Raja Salman agar berkenan  memberikan pengampunan kepada para Tenaga Kerja Indonesia yang terjerat hukum. "Apabila ada WNI yang bersalah, maka atas nama rakyat Indonesia, kami mohon kemurahan hati Sri Baginda untuk memberikan ampunan," demikian Novanto secara resmi atas nama rakyat Indonesia memohon Raja Salman yang duduk di samping Ketua DPR.

Novanto berharap agar persoalan TKI di Arab Saudi bisa dicarikan solusi yang baik dengan tetap menghormati sistem hukum yang ada di negara Arab Saudi. Sesuatu perbedaan yang sangat jelas tampak pada kunjungan Raja Faisal ke DPR 47 tahun yang lalu apabila diperbandingkan dengan kunjungan Raja Salam ke DPR RI pada tahun 2017.

Demi lepas dari sinisme politik, mohon dimaafkan bahwa saya pribadi menghargai permohonan Setya Novanto atas nama rakyat Indonesia sebagai bukti bahwa Ketua DPR masih belum lupa bahwa bukan parpol atau pemerintah namun adalah rakyat yang telah memilih dirinya untuk berhak duduk di singgasana Dewan Perwakilan Rakyat.

Ada sesuatu yang  tidak terbantahkan memang beda antara kunjungan Raja Faisal ke DPR pada tahun 1970 dibandingkan dengan kunjungan Raja Salman pada tahun 2017. Para hadirin sama sekali tidak sibuk melakukan sesuatu pada kunjungan Raja Faisal yang terbukti luar biasa sibuk dilakukan pada kunjungan Raja Salman. Sesuatu yang memang beda dalam jarak waktu 47 tahun itu adalah apa yang disebut swafoto sebagai suatu bentuk teknologi yang memang sama sekali belum hadir pada tahun 1970. [***]

Penulis  pembelajar geopolitik masa kini

Populer

Jumlah Personel TNI Tidak Masuk Akal

Sabtu, 30 Mei 2026 | 03:36

Penutupan Alfamart dan Indomaret Jangan Salahkan KDKMP

Kamis, 28 Mei 2026 | 06:00

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

UPDATE

Istana Minta Kritik terhadap BI Dijadikan Evaluasi Penguatan Komunikasi

Sabtu, 06 Juni 2026 | 14:23

Kursi Dua Wamen Kosong, Pemerintah Belum Siapkan Pengganti

Sabtu, 06 Juni 2026 | 14:10

Mensesneg soal Kabar Said Iqbal Masuk Kabinet: Masih Didiskusikan

Sabtu, 06 Juni 2026 | 13:59

Mubes V Kosgoro 1957 Digoyang Penolakan Daerah

Sabtu, 06 Juni 2026 | 13:52

AS Hantam Iran dengan Sanksi Baru, Jaringan Penyelundupan LPG Jadi Target

Sabtu, 06 Juni 2026 | 13:37

Istana Bantah Isu Menkeu dan Gubernur BI Bakal Dicopot

Sabtu, 06 Juni 2026 | 13:31

Prasetyo Hadi: Sinergi Pemerintah, DPR, dan BI Kunci Jaga Stabilitas Ekonomi

Sabtu, 06 Juni 2026 | 13:20

Bank Indonesia Sudah Intervensi, Mengapa Rupiah Tetap Melemah?

Sabtu, 06 Juni 2026 | 13:08

Menkeu Purbaya Bantah Omzet Warteg Turun Jadi Bukti Daya Beli Lesu

Sabtu, 06 Juni 2026 | 12:47

Daftar Komoditas Dirilis, Danantara SDI Siap Kendalikan Rezim Baru Ekspor RI

Sabtu, 06 Juni 2026 | 12:21

Selengkapnya