Berita

Net

Bisnis

Indikasi Kuat, Tim Ekonomi Semakin Bikin Kecewa Jokowi

JUMAT, 03 MARET 2017 | 00:23 WIB | OLEH: ADE MULYANA

Presiden Joko Widodo menunjuk Menko Kemaritiman dan Sumber Daya Luhut B. Pandjaitan sebagai menjadi penanggung jawab penyelenggaraan Pertemuan Tahunan IMF dan Bank Dunia yang akan diselenggarakan bulan Oktober mendatang.

Penunjukan Luhut ini disampaikan Jokowi dalam rapat terbatas di Kantor Presiden, Kamis siang (2/3).

Sepintas ini adalah berita biasa.


Tetapi bila ditelisik dan ditelusuri kembali pernyataan-pernyataan Jokowi sebelum ini, tidak berlebihan bila kalangan pemerhati politik di tanah air mengaitkan penunjukan Luhut B. Pandjaitan itu dengan kekecewaan Jokowi pada tim ekonomi.

Pertanyaan yang sekarang mengemuka adalah, bukankah Indonesia memiliki seorang Menko Perekonomian dan Menteri Keuangan, yang rasa-rasanya lebih pantas untuk mengurus penyelenggaraan pertemuan tahunan IMF dan Bank Dunia itu.

Sebagai perbandingan, Pertemuan Tahunan IMF dan Bank Dunia di Peru, dua tahun lalu, juga dipimpin oleh Menteri Ekonomi dan Keuangan Peru, Alonso Segura.

Mengapa di Indonesia pertemuan penting yang biasanya dihadiri oleh tak kurang dari 1.500 ekonom dari berbagai negara di belahan dunia itu malah dipimpin oleh Menko Kemaritiman dan Sumber Daya? Apakah otoritas di sektor ekonomi dinilai tidak cakap?

Selain karena menyangkut domain dari Menko Perekonomian dan Menteri Keuangan, bukankah kedua orang yang sekarang menduduki dua posisi penting di tim ekonomi itu selama ini dikenal sebagai ekonom yang mumpuni, yang kerap dipuja dan puji?

Informasi beredar di kalangan pemerhati politik di tanah air mengatakan bahwa Presiden Jokowi belakangan ini kecewa berat dengan kemampuan tim ekonomi yang hanya seperti macan di atas kertas.

Kedua menteri dinilai gagal membantu presiden mewujudkan ambisi pembangunan infrastruktur demi memperbaiki kualitas konektivitas di Indonesia.

Disebutkan bahwa Presiden Jokowi sempat memperlihatkan keprohatinannya terhadap kinerja tim ekonomi dalam sebuah rapat yang membahas target pertumbuhan ekonomi 2017.

Menteri Keuangan awalnya hanya berani menawarkan target pertumbuhan ekonomi sebesar 5,1 persen dengan berbagai alasan faktor-faktor yang membebani. Angka yang ditawarkan Sri Mulyani di bawah asumsi pertumbuhan ekonomi 5,3 persen yang disampaikan Presiden Jokowi dalam nota keuangan di bulan Agustus 2016.

Keputusan Sri Mulyani menetapkan target pertumbuhan ekonomi 2017 sebesar 5,1 persen di bulan Oktober 2016 seakan koreksi terhadap isi pidato nota keuangan Jokowi. Bukan hanya koreksi, tapi ibarat tamparan keras.

Presiden Jokowi disebutkan belakangan ini mulai menyadari bahwa duet Darmin dan Sri Mulyani bukan tipe yang berani membuat terobosan dengan manuver yang terukur. Keduanya adalah tipe yang patut pada pakem-pakem yang dipatenkan di buku-buku teks.

Tipe text book thinking seperti ini tentu merepotkan pemerintahan Jokowi yang sedang membutuhkan dana besar untuk mengerjakan semua proyek infrastruktur yang dibayangkan.

Beberapa waktu lalu, Presiden Jokowi dalam sebuah pertemuan juga mengatakan bahwa APBN tidak bisa lagi dijadikan penopang pembiyaan proyek-proyek infrastruktur. Karena itu dibutuhkan keberanian dan kemampuan mengambil langkah di luar pakem yang terukur tingkat keberhasilannya.

Soal penunjukan Luhut B. Pandjaitan sebagai penanggung jawab Pertemuan Tahunan IMF dan Bank Dunia dapat diletakkan dalam konteks kekecewaan Jokowi pada tim ekonomi.

Pertanyaan lain yang berkembang adalah, sampai kapan Presiden Jokowi mau mempertahankan hal ini. [dem]

Populer

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

UPDATE

Keempat Kalinya Indonesia Jadi Tuan Rumah PENSA 2026

Minggu, 25 Oktober 2026 | 00:25

OMC Bantu Sejukkan Jakarta

Minggu, 25 Oktober 2026 | 00:02

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

TVRI dan PIM Jajaki Kolaborasi Angkat Kiprah Perempuan Indonesia

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:23

KNMP Kota Sorong Buka Peluang Pasar bagi Nelayan Lokal

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:00

Modal Asing Kabur Imbas Sentimen MSCI, BI Jamin Likuiditas Rupiah Memadai

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 22:44

Kapal Asal Malaysia Bawa 1,16 Ton Ketamin, Dasco Tegaskan Jaga Generasi Muda

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 22:16

BSI Himpun Dana Tabungan Haji Rp18 Triliun, Nasabah Gen Z Naik 30 Persen

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 21:15

Wilayah Berdekatan, Mengapa Jakarta Lebih Panas Saat Bogor Masih Diguyur Hujan?

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 21:03

KemenHAM Tampilkan Peta Pemenuhan Hak Dasar Hingga Tingkat Desa Berbasis Digital

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 18:35

Selengkapnya