Berita

Politik

Moeldoko Kampanyekan Politik Tanah Dan Air Ke Tengah Mahasiswa

KAMIS, 02 MARET 2017 | 21:43 WIB | LAPORAN: ALDI GULTOM

Dunia akan berubah secara cepat dan ekstrem. Kalangan intelektual muda di Indonesia harus bisa cepat menyikapinya mengingat kondisi bangsa yang masih jauh tertinggal dari bangsa-bangsa lain.

Imbauan itu disampaikan mantan Panglima TNI, Jenderal (Purn) TNI Moeldoko, saat memberi pandangan mengenai politik tanah dan air untuk menuju kedaulatan pangan, di hadapan mahasiswa dan mahasiswi dalam Temu Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Nusantara se Indonesia di Universitas Islam Riau, Kamis (2/3).

Dalam keterangan tertulisnya, Moeldoko membeberkan sepuluh tren masa depan yang harus segera disikapi bersama. Ia mengutip pemikiran futuris, James Canton, soal dunia yang akan berubah cepat dan ekstrem. Ia mewanti-wanti para mahasiswa bahwa Indonesia masih berada di posisi ke-88 dari 128 negara di Global Innovation Index (GII) dan dalam masih berada di urutan ke-110 dari 187 negara pada Indeks Pembangunan Manusia .


Selain itu, perubahan iklim juga menjadi salah satu sorotan yang penting. Menurut Moeldoko, perubahan iklim menyebabkan risiko banjir, kekeringan, dan bencana alam lain. Hal itu berdampak terhadap penurunan produksi pangan yang akan memengaruhi status keamanan pangan Indonesia.

"Salah satu resikonya, impor pangan Indonesia pada 2015-2016 seperti beras, jagung, gandum, daging, kedelai, garam, dan lain-lain masih tembus di atas Rp 50 triliun," kata pria asal Kediri itu.

Mengenai ancaman keamanan pangan, Moeldoko memberikan fakta menarik. Berdasarkan global food security index, Indonesia berada di urutan ke-71 dari 113 negara. Sementara itu, negara tetangga seperti Malaysia berada di urutan ke-35, Thailand urutan 51, dan Vietnam urutan 57.

Moldoko menyampaikan gagasan "Politik Tanah dan Air" untuk mengatasi kedaulatan pangan. Politik ini adalah politik yang menghidupkan, mampu mengubah tongkat kayu dan batu kembali menjadi tanaman. Politik ini juga percaya bahwa tugas utama para pemimpin adalah memastikan sejumlah kebutuhan dasar dan perkembangan sebuah masyarakat yang tercerahkan.

"Secara teknis, politik tanah dan air ini juga memerlukan langkah taktis untuk mencapai kedaulatan pangan. Yaitu, mempersenjatai petani dengan pengetahuan dan teknologi, memperkuat benteng komoditas sesuai konteks ekologi, dan menciptakan sekutu kedaulatan pangan,” imbuhnya.

Moeldoko menyampaikan kata kunci untuk menuju kedaulatan pangan adalah "holopis kuntul baris", meminjam istilah Soekarno.

Di situ, peran negara dan masyarakat, terutama kalangan mahasiswa, bergotong royong membanting tulang dan memeras keringat bersama untuk mewujudkan cita-cita bangsa. [ald]

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

UPDATE

Dua Nama Hilang dari Daftar Calon BPK

Kamis, 10 September 2026 | 00:17

UAG Perkuat Sekolah Rakyat dan Talenta Halal Nasional

Kamis, 10 September 2026 | 00:06

Langkah Berani Gubernur Sultra Tertibkan Aset Usik Zona Nyaman Oknum Tertentu

Rabu, 09 September 2026 | 23:52

DPRD DKI Dukung Perluas Program Pendidikan bagi Santri Perkotaan

Rabu, 09 September 2026 | 23:32

Salat Istisqa Digelar di Lahat, Bursah Zarnubi Mohon Hujan segera Turun Merata

Rabu, 09 September 2026 | 23:22

DPR Dorong Pembangunan dari Desa Lewat Rakernas AKSI

Rabu, 09 September 2026 | 23:20

Rosan Roeslani Masuk Dua Besar Menteri Berkinerja Terbaik

Rabu, 09 September 2026 | 23:00

DPR: Kalau Ada Laporan Masyarakat, Polri Tak Perlu Ragu

Rabu, 09 September 2026 | 22:59

Jangan Sampai Indonesia jadi Sasaran Empuk Jaringan Narkoba Internasional

Rabu, 09 September 2026 | 22:45

Mantan Napi KDRT Diduga Kriminalisasi Istri Lewat Kesaksian Palsu ART

Rabu, 09 September 2026 | 22:31

Selengkapnya