Berita

Foto/Net

Politik

Ratusan Buruh Nyaris Berenang Seberangi Selat Sunda

SENIN, 27 FEBRUARI 2017 | 09:52 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Nyaris saja, ratusan buruh yang menggelar aksi jalan kaki dari Kota Medan menuju Jakarta sejak 20 Januari 2017 menye­berangi Selat Sunda dengan berenang massal.

Namun rencana itu keburu dilarang oleh petugas Kepolisian dan Syahbandar Pelabuhan Bakauheni, Lampung. Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (DPP SBSI) Prof Dr Muchtar Pakpahan keputusan larangan itu setelah dilakukan negosiasi alot.

Dia sengaja hadir menyong­song para buruh yang tergabung dalam aksi Pengurus Komisariat Serikat Buruh Sejatera Indonesia (PK SBSI) Kopkarpel UPTK Belawan-Pelindo I dari Federasi Industri, Kesehatan, Energi dan Pertambangan Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (FIKEP SBSI) Medan itu.


"Alasannya, sangat berbahaya dan bisa menimbulkan keka­cauan pelayaran di Selat Sunda. Petugas hanya mengizinkan para buruh menyeberang mengguna­kan kapal ferri hingga pelabu­han Merak," tutur Muchtar, di Pelabuhan Merak, Banten.

Dijelaskannya, dengan dikaw­al ketat petugas Kepolisian dan Angkatan Laut serta petugas pelabuhan, para buruh akhirnya bersedia menyeberang memper­gunakan kapal ferri ke Merak.

"Mereka tidak diperlakukan kasar, hanya tidak diizinkan berenang melewati Selat Sunda. Kesepakatannya naik ferri, gra­tis, dikawal sampai Merak. Selama penyeberangan dikasih makan minum," ujar Muchtar.

Dia mengingatkan, aksi ratu­san buruh ini merupakan salah satu bentuk protes terhadap Presiden Jokowi, karena dini­lai tidak membuktikan janjinya berpihak kepada buruh. Penindasan yang dialami buruh, ujarnya, menjadi contoh kega­galan Nawacita yang dijanjikan Jokowi saat kampanye.

"Saya yang pertama menya­takan diri mendukung Jokowi pada saat dia mencalonkan diri menjadi presiden. Tapi apa yang diberikan kepada buruh? Tidak terlihat upaya menyejahterakan buruh," cetus Muchtar.

Sebelumnya, Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi sudah mengundang perwaki­lan dari DPP SBSI pada 14 Februari lalu untuk membicara­kan permasalahan ini. Namun, diungkapkan Muchtar, dia me­nyayangkan karena tidak meli­hat ada itikad baik pemerintah menyelesaikannya. Apalagi per­temuan itu tidak menghadirkan pihak-pihak terkait.

Padahal, Muchtar menga­takan, sebelumnya ia sudah meminta agar Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan pihak PT Pelindo I agar turut diundang dalam pertemuan tersebut. Namun hal tersebut tidak dihiraukan sehingga tidak ada solusi.

Setelah pertemuan tersebut, lanjutnya, Kementerian Ketenagakerjaan berjanji melaku­kan pertemuan kembali dengan SBSI dan akan mengundang Menteri BUMN dan PT Pelindo I. "Namun, sampai saat ini be­lum juga dilakukan pertemuan tersebut," ujarnya.

Kedatangan ratusan buruh yang hendak menuju istana negara ini untuk bertemu Presiden Jokowi. Mereka menuntut pe­nyelesaian persoalan yang mereka hadapi di PT Pelindo I Medan. Selanjutnya, para buruh akan menuju Tanjung Priok, Jakarta Utara, untuk bertemu dengan para buruh korban lainnya dari PT Pelindo II, PT Pelindo III dan PT Pelindo IV. Dari sana, mereka akan bergerak menuju istana.

Koordinator SBSI Wilayah Banten Nurhamin menyampaikan, hingga hari ke 34 aksi long march para buruh itu, dari Banten akan dikawal oleh SBSI hingga ke istana. "Kami menyambut mereka dari pelabuhan bersama Ketua Umum DPP SBSI. Kemudian kami akan kawal mereka dari pelabuhan sampai perbatasan Tangerang Jakarta," katanya.

Rencananya, ratusan buruh tersebut juga akan disambut oleh sesama serikat buruh, yakni dari Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia (Kasbi). Selanjutnya, lanjut Nurhamin, mereka ke Cilegon untuk beristirahat satu malam.

Sementara itu, Sinaga, salah seorang buruh yang menjadi peserta aksi long march menga­takan, selama aksi yang mereka lakukan, tidak pernah memikir­kan risiko di jalan.

"Kami hanya memikirkan bagaimana bisa bertemu presi­den yang kami dukung dulu di pilpres, dan menyampaikan persoalan kami agar diberikan keadilan dan keputusan yang pro buruh," harapnya. ***

Populer

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

KPK Panggil Bos Rokok HS di Kasus Suap Cukai

Kamis, 02 April 2026 | 10:39

UPDATE

Tidak Mengutuk Tapi Ayo Gugat Israel di PBB

Minggu, 05 April 2026 | 01:55

Energi Transisi Sulap Desa Rentan jadi Resisten

Minggu, 05 April 2026 | 01:32

1.305 Rekomendasi Audit BPK di Kementerian PU Belum Tuntas

Minggu, 05 April 2026 | 01:10

Pakistan Gratiskan Transportasi Umum Buntut Demo Kenaikan BBM

Minggu, 05 April 2026 | 00:52

Menang di Tingkat Kasasi, Natalia Rusli Fokus Kawal Perkara Pidana

Minggu, 05 April 2026 | 00:32

Pemerintah Desak DK-PBB Lindungi Pasukan Perdamaian di Lebanon

Minggu, 05 April 2026 | 00:12

Pelni Sukses Layani 467 Ribu Penumpang Selama Arus Mudik-Balik Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 23:57

KSAD: Tiga Prajurit Gugur, Kami Sangat Kehilangan

Sabtu, 04 April 2026 | 23:32

Menlu Ungkap Ada Tiga Prajurit TNI Lagi Terluka di Lebanon

Sabtu, 04 April 2026 | 23:11

ITERA: Fenomena Langit Lampung Timur Diduga Sampah Antariksa Roket China

Sabtu, 04 April 2026 | 22:42

Selengkapnya