Berita

Net

Bisnis

Industri Keuangan Belum Optimal Dukung Pembangunan

SENIN, 20 FEBRUARI 2017 | 22:52 WIB | LAPORAN:

Peran industri jasa keuangan belum optimal dalam mendukung pembangunan bangsa. Padahal, Indonesia memiliki potensi sumber daya alam dan sumber daya manusia berupa jumlah penduduk yang lebih banyak daripada negara lain di Asia Tenggara.

Ketua Komisi XI DPR RI Melchias Marcus Mekeng menjelaskan, Gross Domestic Product (GDP) Indonesia lebih besar daripada Thailand, Singapura, dan Malaysia. Namun capital market masih di bawah ketiganya. Ratio market cap Indonesia pada November 2016 juga hanya sebesar -0,4 persen, dibanding Malaysia sebesar 1,5 persen, Singapura 2,4 persen, dan Thailand 1,1 persen.

"Industri jasa keuangan masih memiliki potensi yang luar biasa yang dapat dioptimalkan. Caranya dengan memperbesar investasi dalam negeri maupun luar negeri. Sayang hal itu tidak dilakukan lembaga-lembaga di industri keuangan," katanya dalam seminar bertema 'Problem Defisit Anggaran dan Strategi Optimalisasi Penerimaan Negara 2017' di Gedung DPR, Jakarta (Senin, 20/2).


Menurut Mekeng, seharusnya tugas dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) membuat berbagai aturan yang market oriented dan friendly sebagai instrumen pemacu pertumbuhan. Melihat perbandingan antara kapitalisasi pasar terhadap GDP dan jumlah investor yang ada di pasar modal seharusnya tugas dari OJK bersama bursa efek membuat aturan yang lebih market oriented dan friendly.

"Peraturan-peraturan itu merupakan instrumen yang diperlukan untuk memacu pertumbuhan," ujar Mekeng.

Politisi senior Partai Golkar itu mengatakan, industri jasa keuangan juga harus mendorong BUMN untuk go public. Serta mewajibkan perusahaan asing yang mengeksploitasi sumber daya alam Indonesia agar go public. Tujuannya agar industri keuangan di Tanah Air mampu mendukung pembangunan infrastruktur, mempermudah akses permodalan bagi UMKM, dan mengenalkan produk jasa keuangan sebagai alternatif investasi sampai pelosok daerah.

"Pembangunan infrastruktur dan sebagainya tidak hanya bertumpu pada APBN. Pemerintah pusat dan daerah dapat bersinergi dengan sektor industri jasa keuangan untuk membangun bangsa ini. Sehingga kesejahteraan rakyat adalah menjadi sebuah keniscayaan," beber Mekeng. 

Menurutnya, upaya mengatasi defisit anggaran tidak bisa dilakukan oleh pemerintah semata. DPR juga harus bantu mengatasi masalah tersebut. Pasalnya, parlemen juga memiliki kontribusi terhadap kenaikan defisit anggaran.

"Setiap tahun, semua komisi di DPR menginginkan dan memperjuangkan kenaikan anggaran untuk mitra kerjanya yaitu kementerian/lembaga. Ini tentunya berkonsekuensi terhadap sisi penerimaan negara yang juga harus ada kenaikan, sementara meningkatkan penerimaan negara bukanlah persoalan sepele," jelas Mekeng.

Dia menambahkan bahwa Kementerian Keuangan sendiri mengaku setuju dengan ide tersebut. Bahwa potensi industri keuangan khususnya pasar modal di Indoneaia sangat besar dan bisa mendorong pertumbuhan ekonomi.

"Tidak hanya mengandalkan APBN sebagai satu-satunya sumber pembiayaan pembangunan," demikian Mekeng. [wah] 

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Ganti Rugi Lahan Belum Tuntas, Warga Medan Polisikan Developer

Minggu, 07 Juni 2026 | 01:40

iPhone Raffi Ahmad Dikirim dari AS Tanpa Disebut dalam Dokumen

Selasa, 09 Juni 2026 | 00:01

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

UPDATE

Sejarah Baru! Hattrick Perdana Messi Bawa Argentina Libas Aljazair dan Samai Rekor Klose

Rabu, 17 Juni 2026 | 10:15

KPK Buka Peluang Kembangkan Penyidikan Kasus Bea Cukai yang Seret Nama Djaka Budi Utama

Rabu, 17 Juni 2026 | 10:01

Reog Sekolah Rakyat Ponorogo Raih Penghargaan di Ajang Piala Presiden

Rabu, 17 Juni 2026 | 09:34

Pemerintah Hentikan Sementara MBG Selama Libur Sekolah

Rabu, 17 Juni 2026 | 09:32

Mahfud MD Nilai Dadan Hindayana Layak Dihukum Mati Jika Terbukti Korupsi

Rabu, 17 Juni 2026 | 09:23

Harga Minyak Brent Kembali ke Level 78 Dolar AS

Rabu, 17 Juni 2026 | 09:19

Harta Wamenko Pangan Hanif Faisol Tembus Rp8,9 Miliar, Naik Tajam Sejak 2022

Rabu, 17 Juni 2026 | 09:04

Bursa Asia Dibuka Merah, Kospi Pimpin Penurunan

Rabu, 17 Juni 2026 | 08:52

Bayan Resources Siap Tebar Dividen Rp 8,96 Triliun dari Laba Buku 2025

Rabu, 17 Juni 2026 | 08:40

Wall Street Variatif, Dow Jones Terbang Tinggi

Rabu, 17 Juni 2026 | 08:23

Selengkapnya