Berita

Nusantara

Komnas HAM: Infrastruktur Jalan Di Papua Cuma Pembohongan Publik

SENIN, 20 FEBRUARI 2017 | 14:08 WIB | LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO

Komisioner Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) Natalius Pigai mengaku secara konsisten memperjuangkan agar ada pemerataan keadilan di negeri ini, termasuk keadilan untuk Papua.

"Segala daya upaya telah saya pertaruhkan agar rakyat Papua juga merasakan sentuhan pembangunan dan pemerataan pembangunan insfrastruktur sebagai salah satu urat nadi pembangunan dan potret kemajuan bangsa dan negara," ujarnya dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi sesaat lalu, Senin (20/2).

Pigai mengaku kecewa dengan pemberitaan di salah satu media yang menyebut "Jalan Jayapura ke Merauke Bisa Dilalui dengan Mobil". Menurutnya, pemerintah telah melakukan pembohongan publik atas pernyataan itu.  


"Saya menduga pemerintah ini tidak kredibel dan tidak berintegritas, selalu melakukan pembohongan publik hanya sekadar demi sebuah pencitraan," sambungnya.

Menurutnya, pemerintah saat ini mengalami hilang ingatan. Pasalnya, baru saja dikritik tapi sudah mulai berbohong lagi.

Lebih lanjut, Pigai menceritakan bahwa 4 hari lalu dirinya telah bertemu dengan Kementerian Pekerjaan Umum Perumahan Rakyat. Mereka, kata Pigai meminta maaf atas kesalahan dan berjanji akan memperbaiki jalan Merauke ke Boven Digul.

Kata Pigai, pimpinan Kementeri PUPR tidak mampu menunjukkan fakta-fakta riil. Mereka juga tidak mampu menjawab 5 item permintaan saya untuk pembangunan insfrastruktur terpadu di Papua:

"Pertema, soal penerbitan instruksi Presiden untuk percepatan pembangunan infrastruktur Papua. Kedua, menganai ercepatan penyelesaian jalan dan jembatan yang rusak di Papua. Ketiga, mengenai peningkatan kualitas pembangunan infrastruktur yang ada. Keempat, soal pembangunan jalan dan jembatan yang baru. Terakhir mengenai pemberdayaan putra asli Papua sebagai kepala balai dan prioritaskan kontraktor utama bagi putra papua mulai tahun anggaran 2017," paparnya.

"Permintaan saya tidak terlalu rumit dan juga bukan untuk kepentingan pribadi saya, tetapi rakyat kita beraneka warga suku yang ada di Papua dan Papua Barat.  Jadi jangan berulah bohongi rakyat Papua dan Indonesia lagi," pungkasnya. [ian]

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

UPDATE

IJTI: Buku Saku 0 Persen Rujukan Penting Pers dan Publik

Sabtu, 11 April 2026 | 18:18

Prabowo Minta Maaf Belum Bawa Pencak Silat ke Olimpiade

Sabtu, 11 April 2026 | 17:50

Aktivis Tegas Lawan Pengkhianat Konstitusi

Sabtu, 11 April 2026 | 17:27

OTT KPK Tangkap 18 Orang, Bupati Tulungagung Digulung

Sabtu, 11 April 2026 | 16:19

Ingatkan JK, Banggar DPR: Kenaikan Harga BBM Bisa Turunkan Daya Beli Masyarakat

Sabtu, 11 April 2026 | 16:14

Wamen Ossy: Satgas PKH Wujud Penyelamatan Kekayaan Negara

Sabtu, 11 April 2026 | 15:54

Jawab Tren, TV Estetik dengan Teknologi Flagship Diluncurkan

Sabtu, 11 April 2026 | 15:21

KNPI Soroti Gerakan Pemakzulan: Sebut Capaian Pemerintahan Prabowo Sangat Nyata

Sabtu, 11 April 2026 | 14:54

Setelah 34 Tahun, Prabowo Pamit dari Kursi Ketum IPSI di Munas XVI

Sabtu, 11 April 2026 | 14:47

Hadiri Munas IPSI, Prabowo Ungkap Jejak Keluarga dalam Dunia Pencak Silat

Sabtu, 11 April 2026 | 14:28

Selengkapnya