RMOL. PT Jasa Marga (Persero) Tbk. (JSMR) selaku pengelola Jalan Tol Jakarta-Tangerang, bersama dengan Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) lain yaitu PT Marga Mandala Sakti (MMS), selaku pengelola Jalan Tol Tangerang- Merak, terus mematangkan perÂsiapkan pemberlakuan integrasi sistem transaksi antara kedua ruas jalan tol tersebut.
Asistent Vice President CorÂporate Communication PT Jasa Marga (Persero) Tbk Dwimawan Heru mengatakan, integrasi sistem transaksi diharapkan dapat mengatasi kepadatan khususnya antrean Gerbang Tol Karang TenÂgah dan meningkatkan pelayanan kepada pemakai jalan tol.
"Ke depan kita juga akan meÂniadakan Gerbang Tol Karang Tengah. Sebagai konsekueÂnsi ditiadakannya transaksi, Jasa Marga saat ini sedang melakukan pembangunan konstruksi gerÂbang tol dan gerbang tol on/off ramp, di beberapa lokasi," kata Heru kepada Rakyat Merdeka.
Dilanjutkannya, gerbang tol yang dibangun antara lain, Karang Tengah Barat, Alam Sutera, Tangerang, Karawaci, dan Bitung. Jumlah gerbang tol yang sedang dibangun saat ini adalah 11 gerbang dengan total 51 gardu tol, dimana dari seluruh gardu tol tersebut, 28 di antaranya adalah Gardu Tol Otomatis (GTO).
Heru mengatakan, pembanÂgunan konstruksi ini ditargetkan dapat selesai bulan April 2017. Saat ini Jasa Marga juga dalam proses untuk mengadakan sarana prasarana peralatan tol untuk seluruh gerbang tol yang sedang dibangun tersebut.
Dengan adanya integrasi terseÂbut, maka nantinya terdapat dua sistem transaksi dan pentarifan, di Jalan Tol Jakarta-Tangerang- Merak terintegrasi, yaitu: JaÂkarta-Tangerang-Cikupa mengÂgunakan sistem Terbuka dengan pentarifan merata (Tomang sampai dengan Cikupa). SemenÂtara untuk Cikupa-Merak mengÂgunakan sitem Tertutup dengan pentarifan proporsional (Cikupa sampai dengan Merak).
Heru mengatakan, terkait rencana perubahan sistem pemÂbayaran tol yang dilakukan di Tomang hingga Cikupa (mengÂgunakan sistem terbuka atau satu harga), pihak Jasa Marga melakukan koordinasi denÂgan Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) sehingga nantinya tarif yang diberlakukan akan ditenÂtukan bersama dengan KemenÂterian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat.
"Kewenangan ada di BPJT, kita akan koordinasikan hargÂanya. Saat ini kami masih fokus pada upaya untuk mempersiapÂkan pekerjaan pembongkaran gerbang tol dan integrasi ruas tol Jakarta Tangerang, karena kan ada badan usaha lain selain Jasa Marga. Upaya pembongkaran ini sebagai upaya perseroan unÂtuk meningkatkan pelayanan," tegas Heru.
Seperti diketahui, Jasa Marga beserta Marga Mandala Sakti akan memberlakukan integrasi sistem transaksi di Jalan Tol Jakarta-Tangerang dan Jalan Tol Tangerang-Merak mulai April 2017. Dengan adanya inÂtegrasi sistem transaksi tersebut, maka Gerbang Tol (GT) Karang Tengah akan ditiadakan sehÂingga pengguna jalan tol hanya berhenti di satu gerbang untuk transaksi, yaitu di GT Cikupa.
Jasa Marga menilai, GT Karang Tengah merupakan salah satu gerbang tol utama yang digunakan para pengguna jalan dan commuter di wilayah Jakarta untuk menuju ke arah barat JaÂkarta atau sebaliknya.
Karena peran strategisnya menÂjembatani lalu lintas dari dua kota besar yaitu Jakarta dan Tangerang, pada saat jam sibuk, kepadatan di GT Karang Tengah cukup panjang dan kerap mencapai lebih dari 10 kilometer (km), karena itu, peniadaan GT Karang TenÂgah diharapkan bisa mengurangi kemacetan di ruas tersebut.
Jangan Sampai Merugikan Pengamat transportasi Azas Tigor Nainggolan mengatakan, penentuan tarif untuk gerbang tol yang menggunakan sistem terbuka harus dilakukan denÂgan perhitungan yang matang agar tidak merugikan pengguna jalan tol.
"Pengguna harus bayar denÂgan harga sama meski jaraknya dekat atau jauh. Maka dari itu, penentuan tarif harus jelas, janÂgan sampai merugikan. Selain itu, pengelola jalan tol juga harus memperhatikan pelayanan agar lebih baik, sesuai dengan uang yang dikeluarkan masyarakat untuk membayar tol," kata Azas kepada
Rakyat Merdeka. Ia juga meminta pengelola jalan tol memberi tarif yang terÂjangkau untuk kendaran umum. Dengan begitu, semakin banyak kendaraan umum yang lewat jalan tol dan mengurangi kepaÂdatan di jalan non tol.
"Kalau waktu tempuh dengan kendaraan umum jadi lebih singkat karena lewat tol, tentu semakin banyak masyarakat yang naik kendaran umum. Ini akan mengurangi kemacetan juga," tegas Azas. ***