Berita

Foto/Net

Bisnis

Petani & Nelayan Beri Sinyal Pasokan Pangan Bakal Anjlok

Untuk Kendalikan Harga, Pemerintah Kudu Kawal Distribusi
MINGGU, 19 FEBRUARI 2017 | 10:08 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Pasokan cabe dan bawang kemungkinan belum bisa normal dalam waktu dekat ini. Soalnya sebagian sentra pertanian kembali gagal panen akibat cuaca yang kurang bersahabat. Pemerintah disarankan membantu kelancaran distribusi untuk menjaga stabilitas harga.

Ketua Umum Asosiasi Agri­bisnis Cabai Indonesia (AACI) Dadi Sudiana membenarkan kabar yang menyebutkan se­jumlah petani cabe mengalami gagal panen. Namun demikian, dia yakin penurunan produksi tersebut tidak sampai membuat stok defisit.

"Kami lihat data Kementerian Pertanian (Kementan) sebagai acuan. Walau ada gagal panen di beberapa sentra produksi, kita masih surplus. Kami me­lihat harga mahal belakangan ini karena ada faktor distribusi yang tidak merata," kata Dadi kepada Rakyat Merdeka, pada akhir pekan.


Dia menyebutkan untuk tahun ini, produksi cabe diperkira­kan mencapai 857.045 ton, sedangkan konsumsi hanya 364.570 ton atau surplus sebanyak 51.062 ton.

Soal gagal panen, Dadi menerangkan, penyebabnya masih sama, karena cuaca ekstrim. Akibat banyak kena air hujan, cabe mudah busuk.

Selain itu, banyak cabe juga terkena serangan hama. "Kalau curah hujan tinggi itu banyak memunculkan hama, ulat, ja­mur, dan penyakit lainnya," terangnya.

Dia menuturkan, di Indonesia ada tiga provinsi yang menjadi sentra cabe dengan sawah terluas di yakni Jawa Timur seluas 862.590 hektare (ha), Jawa Barat dengan luas 744.090 ha dan Jawa Tengah dengan luas 683.735 ha. Dan, di ketiga wilayah itu curah hujan belakangan ini cukup tinggi.

Seperti diketahui, sejumlah petani dan nelayan baru-baru ini menyampaikan kabar kurang menggembirakan. Petani cabe di Surabaya, Samiran mengin­formasikan produktivitas cabe belum normal karena tingginya curah hujan.

Kondisi yang sama disam­paikan petani di sentra perta­nian bawang di Brebes. Petani Bawang, Daroji mengungkapkan, banyak petani terancam gagal panen. Karena, tanaman bawang yang mereka tanam pada Januari 2017 dan seharus­nya panen pada bulan depan, na­sibnya mengenaskan. Produksi tidak optimal karena lahan pertanian terendam banjir.

Tidak hanya produk pertanian, produksi perikanan juga belum ada perubahan. Data Kesatuan Nelayan Trandisional Indonesia (KNTI) menyebutkan puluhan ribu nelayan di Jawa Tengah, Jawa Timur, Madura dan Nusa Tenggara Barat (NTB) tidak melaut sejak curah hujan tinggi di wilayah mereka.

Dadi kecewa bergolaknya harga cabe setiap pada musim hujan terus terulang setiap tahun. "Agar tidak terulang harus ada penanganan yang serius. Selama ini pemerintah selalu mengambil kesimpulan yang nggak pas sehingga per­soalan tidak selesai-selesai," ungkapnya.

Dia mengakui pemerintah se­lama ini telah memberikan ban­tuan seperti bibit cabe dan rain shelter (pelindung dari hujan). Tapi, dia menilai, sebagian ban­tuan itu harus dievaluasi karena teryata tidak efektif. Misal­nya, rain shelter mudah rusak.

Dadi mengusulkan pemerintah menerapkan pengunaan teknologi untuk menjaga produksi. Misalnya seperti Ma­laysia menggunakan teknologi greenhouse guna meningkatkan produktivitas cabe.

Dia menjelaskan, Greenhouse adalah bangunan konstruksi dengan atap tembus cahaya. Penggunaan greenhouse dalam budidaya tanaman cabe diguna­kan untuk melindungi tanaman cabe dari curah hujan yang tinggi. Namun, memang untuk membangun greenhouse biayanya tinggi. Petani tidak mampu kalau harus mengeluarkan biaya sendiri karena cukup mahal.

"Mahal tapi awet untuk jangka panjang. Tidak hanya Malaysia, ropa dan AS juga sama pakai teknologi green­house," imbuhnya.

Bencana Nasional

Ketua Bidang Penggalangan dan Partisipasi Publik Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) Misbachul Munir men­gungkapkan, pasokan perikanan belum ada tanda-tanda akan membaik.

"Cuaca masih ekstrim, banyak nelayan masih takut melaut," ungkapnya.

Dia meminta, pemeirntah me­netapkan status bencana nasional untuk sektor perikanan. Karena, cuaca ekstrim berlangsung sudah lama, sejak September 2016. Kondisi kesejahteraan nelayan memilukan. Karena mereka hanya mengandalkan melaut sebagai mata pencaharian.

"Dengan menetapkan status bencana, pemerintah bisa mem­berikan bantuan ke nelayan untuk melanjutkan hidup," pungkasnya. ***

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Ganti Rugi Lahan Belum Tuntas, Warga Medan Polisikan Developer

Minggu, 07 Juni 2026 | 01:40

iPhone Raffi Ahmad Dikirim dari AS Tanpa Disebut dalam Dokumen

Selasa, 09 Juni 2026 | 00:01

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

UPDATE

Sejarah Baru! Hattrick Perdana Messi Bawa Argentina Libas Aljazair dan Samai Rekor Klose

Rabu, 17 Juni 2026 | 10:15

KPK Buka Peluang Kembangkan Penyidikan Kasus Bea Cukai yang Seret Nama Djaka Budi Utama

Rabu, 17 Juni 2026 | 10:01

Reog Sekolah Rakyat Ponorogo Raih Penghargaan di Ajang Piala Presiden

Rabu, 17 Juni 2026 | 09:34

Pemerintah Hentikan Sementara MBG Selama Libur Sekolah

Rabu, 17 Juni 2026 | 09:32

Mahfud MD Nilai Dadan Hindayana Layak Dihukum Mati Jika Terbukti Korupsi

Rabu, 17 Juni 2026 | 09:23

Harga Minyak Brent Kembali ke Level 78 Dolar AS

Rabu, 17 Juni 2026 | 09:19

Harta Wamenko Pangan Hanif Faisol Tembus Rp8,9 Miliar, Naik Tajam Sejak 2022

Rabu, 17 Juni 2026 | 09:04

Bursa Asia Dibuka Merah, Kospi Pimpin Penurunan

Rabu, 17 Juni 2026 | 08:52

Bayan Resources Siap Tebar Dividen Rp 8,96 Triliun dari Laba Buku 2025

Rabu, 17 Juni 2026 | 08:40

Wall Street Variatif, Dow Jones Terbang Tinggi

Rabu, 17 Juni 2026 | 08:23

Selengkapnya