Kementerian Pertanian (Kementan) memastikan tidak akan memberikan rekomendasi impor untuk menambah pasokan cabe dan bawang.
"Stok bawang dan cabe menÂcukupi. Kami tidak akan ambil opsi impor," kata Kepala Biro Humas dan Informasi Publik Kementan Agung Hendriadi kepada Rakyat Merdeka, pada akhir pekan.
Dia menilai, tingginya harga dan menurunnya pasokan cabe dan bawang semata-mata hanya masalah panjangnya rantai disÂtribusi. Maka tidak tepat bila persoalan itu dijawab dengan impor.
Kementan, lanjut Agung, terus berupaya memangkas rantai disÂtribusi seperti mendirikan Toko Tani Indonesia (TTI). "Antara lain kami mendirikan Toko Tani. Ini untuk memangkas rantai disÂtribusi dan menjaga pasokan," ungkapnya.
Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) juga menegaskan pemerintah tidak memiliki rencana impor. "Belum ada pikiran untuk membuka impor. Semua orang tahun cabe saat musim hujan rentan. Jadi itu faktor alam," ungkap JK.
JK memastikan apabila ada cabe impor di pasaran maka komoditas tersebut ilegal. "KaÂlau ada cabe impor itu pasti seludupan. Karena, pemerintah tidak mengeluarkan izin impor," tegasnya.
Sementara itu, Menteri KeÂlautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti mengamini pasokan ikan berkurang di wilayah terÂtentu.
"Nelayan enggan melaut karÂena cuaca tidak mendukung seÂhingga pasokan ikan berkurang. Makanya harga ikan naik," kata Susi.
Susi mengatakan, sebenarnya stok ikan nasional memadai. Hanya saja hasil laut belum bisa terdistribusi secara merata. Di beberapa wilayah Indonesia, ikan sangat berlimpah, tapi tidak memiliki pasar yang terorgaÂnisir sehingga harganya murah. Padahal, jika hasil tangkapan itu dibawa ke Pulau Jawa, harganya bisa sepuluh kali lipat.
"Itu jadi PR (pekerjaan rumah) kita untuk meratakan jumlah pengolahan dan transportasi, yang memudahkan ikan ini keluar dari wilayah tangkap ke pasar," katanya.
Susi mengaku sudah berkoordinasi dengan Menteri PerÂhubungan dan Menteri BUMN untuk mendistribusikan produkÂsi hasil perikanan.
Dia berharap, ada jalur transÂportasi dari beberapa wilayah yang kaya akan sumber daya lautnya. Tidak hanya ke Pulau Jawa, tetapi ke beberapa temÂpat lainnya, termasuk ke luar negeri.
Menurutnya, beberapa wilayah kaya akan hasil laut di Indonesia Timur lebih dekat dengan pasar di Australia jika dibandingkan dengan pasar di Jakarta.
"Ke Darwin itu lebih dekat, penerbangan cuma 1 jam. Jadi tidak harus ke Jawa, tapi yang Indonesia Timur itu juga harus dibuka saja langsung pemasaran ke luar negeri, lebih efisien. Jadi pemerataan ini PR kita," pungÂkasnya. ***