Berita

Didik Mukrianto/Net

Politik

Demokrat: Tudingan Antasari Bentuk Pelecehan Lembaga Yudikatif

RABU, 15 FEBRUARI 2017 | 04:11 WIB | LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO

Tudingan mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Antasari Azhar yang menuding Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) terlibat dalam dugaan kriminalisasi terhadap dirinya terkait kasus pembunuhan bos Putra Rajawali Banjaran, Nasrudin Zulkarnaen disesalkan politisi Demokrat.

Ketua DPP Bidang Hukum Partai Demokrat Didik Mukrianto menilai tudingan itu tidak mendasar.

"Kelasnya Antasari Azhar masih melempar wacana dan isu yang tidak ada substansi dan tidak ada dasar kebenarannya. Mungkin itu memang kelasnya selama ini," kata Didik seperti diberitakan RMOLJakarta Selasa (14/2).


Apalagi, sambungnya dalam kasus tersebut Antasari telah terbukti melakukan tindak pidana sebagaimana proses hukum yang sudah dijalaninya.

"Opini yang dibangun beliau terkait dengan kriminalisasi di satu sisi dihadapkan kepada keputusan pengadilan yang sudah inkrah. Di sisi lain sangat berbanding terbalik dan menjawab apa yang diopinikan secara nyata," katanya.

Didik menilai pernyataan Antasari seperti pelecehan terhadap segenap lembaga yudikatif. Didik juga menyebut Antasari seharusnya memahami bahwa proses hukum tidak bisa diintervensi oleh siapapun.

"Antasari Azhar tentu paham dan tahu bahwa hukum dan kekuasaan yudikatif adalah independen, dan tidak boleh diintervensi dan diinfiltrasi oleh kekuatan mana pun," kata Didik.

Sebelumnya, Antasari meminta SBY untuk jujur kepada publik tentang siapa yang diperintah untuk merekayasa kasusnya dan mengkriminalisasi dirinya.

"Saya minta Susilo Bambang Yudhoyono jujur. Beliau tahu perkara saya. Beliau jujur cerita apa yang beliau alami dan apa yang beliau lakukan. Beliau memerintahkan siapa untuk rekayasa dan mengkriminalisasi Antasari," kata Antasari dalam konferensi pers di kantor Bareskrim Polri. [ian]

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

KPK Panggil Sekretaris Camat hingga Direktur Perusahaan dalam Kasus OTT Bupati Bekasi

Rabu, 14 Januari 2026 | 12:09

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Ijazah Asli Kehutanan UGM

Rabu, 14 Januari 2026 | 05:09

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

UPDATE

Sekolah Rakyat dan Investasi Penghapusan Kemiskinan Ekstrim

Kamis, 15 Januari 2026 | 22:03

Agenda Danantara Berpotensi Bawa Indonesia Menuju Sentralisme

Kamis, 15 Januari 2026 | 21:45

JMSI Siap Perkuat Peran Media Daerah Garap Potensi Ekonomi Biru

Kamis, 15 Januari 2026 | 21:34

PP Himmah Temui Menhut: Para Mafia Hutan Harus Ditindak Tegas!

Kamis, 15 Januari 2026 | 21:29

Rezim Perdagangan dan Industri Perlu Dirombak

Kamis, 15 Januari 2026 | 21:15

GMPG Pertanyakan Penanganan Hukum Kasus Pesta Rakyat Garut

Kamis, 15 Januari 2026 | 21:02

Roy Suryo Ogah Ikuti Langkah Eggi dan Damai Temui Jokowi

Kamis, 15 Januari 2026 | 21:00

GMNI: Bencana adalah Hasil dari Pilihan Kebijakan

Kamis, 15 Januari 2026 | 20:42

Pakar Hukum: Korupsi Merusak Demokrasi Hingga Hak Asasi Masyarakat

Kamis, 15 Januari 2026 | 20:28

DPR Setujui Anggaran 2026 Komnas HAM Rp112 miliar

Kamis, 15 Januari 2026 | 20:26

Selengkapnya