Berita

Presiden Jokowi/net

Politik

Presiden Jokowi Harus Dinginkan Suasana Cegah Kerusuhan Sosial

SELASA, 07 FEBRUARI 2017 | 02:57 WIB | LAPORAN: ALDI GULTOM

. Presiden Joko Widodo harus turun tangan dinginkan suasana politik seiring kian dekat hari pencoblosan Pilkada DKI Jakarta.

Jokowi juga dituntut menunjukkan sikap netral dan mengendalikan bawahannya di kabinet, khususnya Menko Maritim Luhut Panjaitan, agar tidak terlalu banyak turut campur dalam permasalahan hukum yang sedang dihadapi calon incumbent, Basuki Purnama alias Ahok.

Demikian disampaikan Wakil Ketua Umum DPP Partai Gerindra, Arief Poyuono. Menurut dia, kunjungan Luhut Panjaitan ke rumah K.H Maruf Amin setelah insiden perlakuan tak etis oleh Ahok di tengah persidangannya, menunjukkan ketidaknetralan pihak Joko Widodo dalam Pilkada ibu kota negara.


"Seperti prediksi Mantan Kepala BIN AM Hendropriyono tahun lalu, menilai stabilitas politik di RI sedang mengalami gangguan, menjelang Pilkada di DKI. Instabilitas dapat membuat negara terperosok, dari keadaan tertib sipil ke dalam darurat sipil," ungkapnya, Senin malam (6/2).

Arief mewanti-wanti, kerusuhan sosial akibat Pillkada Jakarta sangat berpotensi terjadi. Ia menilai sudah terjadi suasana yang kurang kondusif dan mengarah pada kerusuhan sosial.

"Saya sudah cek ke akar rumput Jakarta," klaimnya.

Salah satu bukti suhu politik semakin panas terkait Pilkada Jakarta adalah insiden demonstrasi 100-an mahasiswa di depan rumah Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

"Karena itu saya mengimbau Presiden Joko Widodo untuk segera turun tangan untuk mendinginkan suasana jelang Pilgub Jakarta. Banyak kawan saya di luar negeri juga sudah banyak bertanya tentang situasi Jakarta jelang pilkada, terutama soal potensi kerusuhan sosial yang mengarah pada sentimen SARA," ujarnya.

Kalau kerusuhan benar-benar terjadi, lanjut Arief, nama Presiden Jokowi tentu tercoreng. Lebih parah, situasi itu akan berdampak besar pada perekonomian nasional, seperti potensi capital flight dan rush di perbankan. Apalagi, kondisi ekonomi nasional memang sedang menuju ancaman krisis. [ald]

Populer

MA Koreksi Kerugian Negara Kasus Korupsi Timah, Bukan Rp300 Triliun

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 22:36

Giliran Kepemimpinan TNI Kembali Diberikan kepada Matra Laut

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 06:27

Keluarga Eks Pangkostrad Kemal Idris Akhirnya Raih Keadilan

Senin, 10 Agustus 2026 | 23:00

Febrie Bisa Diamuk Koruptor Lain Jika Ditahan di Rutan Kejaksaan

Selasa, 11 Agustus 2026 | 11:18

Mendadak Berubah, Jaksa Agung Lantik Saiful Bahri jadi Dirdik Jampidsus

Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:21

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

Jokowi Masih Berperilaku seperti Penguasa RI

Senin, 10 Agustus 2026 | 03:00

UPDATE

Yang Rada Gila

Selasa, 18 Agustus 2026 | 12:23

KPK Wanti-wanti Bantuan Korban Gempa NTT Jangan Dikorupsi

Selasa, 18 Agustus 2026 | 12:17

Utang Luar Negeri RI Tembus Rp8.090 Triliun di Triwulan II 2026

Selasa, 18 Agustus 2026 | 12:10

Putin dan Prabowo Bakal Gelar Pertemuan di Vladivostok Awal September

Selasa, 18 Agustus 2026 | 12:09

Pembukaan Rapat Paripurna Diawali Ucapan Duka Cita untuk Korban Gempa

Selasa, 18 Agustus 2026 | 12:06

Menanti Nasib Investasi INA-SRF Usai Menang Gugatan Lawan Kimia Farma

Selasa, 18 Agustus 2026 | 12:02

Penangguhan Penahanan Asrul Azis Taba Ditolak

Selasa, 18 Agustus 2026 | 11:56

BPK Dorong Tata Kelola Kementerian Hukum Naik Kelas

Selasa, 18 Agustus 2026 | 11:46

Kelahiran Anak Gajah Sumatera di Padang Sugihan Jadi Kado Istimewa HUT RI

Selasa, 18 Agustus 2026 | 11:40

Pelemahan Rupiah Bisa Tekan Subsidi hingga Inflasi

Selasa, 18 Agustus 2026 | 11:34

Selengkapnya