Berita

KH Ma'ruf Amin

Politik

Ahok Berani Mengintimidasi Karena Menilai Kiai Ma'ruf Tak Punya Pengaruh Di NU

KAMIS, 02 FEBRUARI 2017 | 11:08 WIB | LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR

Terdakwa kasus penistaan agama Basuki T. Purnama dinilai sengaja memperlakukan Ketua Umum MUI KH Ma'ruf Amin tidak pantas pada saat persidangan Selasa lalu.

Dia sadar memojokkan kiai sepuh tersebut.

"Pemojokan kiai sepuh tersebut seirama dengan pengadilan yang sampai tujuh jam memaksa kiai tersebut di dalam sidang Ahok. Padahal beliau cuma saksi. Maksudnya jelas, untuk menekan psikologis kiai yang telah membuat fatwa yang akhirnya mentersangkakan Ahok," jelas Direktur The Indonesia Reform Institute, Syahrul Effendi Dasopang, (Kamis, 2/2).


"Hitungan mereka adalah, setelah Habib Rizieq, Kiai Ma’ruf Amin harus kena juga. Karena telah menghalangi kemenangan politik mereka," sambung mantan Ketua Umum PB HMI ini menganalisa.

Ahok dan timnya berani berbuat demikian karena mengira Kiai Ma'ruf hanya satu faksi yang tak berpengaruh di tubuh NU. Rais Am PBNU itu diasosiasikan bertentangan dengan faksi Ketua Umum KH. Said Aqil Siroj.

"Jadi jika diambil, hitungan mereka sikap nahdliyyin akan terbelah. Dengan terbelah, mereka mendapat keuntungan ganda. Memecah nahdliyyin sekaligus memamerkan bahwa mereka tak terkalahkan," ungkap Syahrul.

Namun, di luar perkiraan, jangankan terbelah, malah menimbulkan simpati yang luas dan bulat terhadap kiai keturunan ulama besar Nawawi Al-Bantani tersebut. Pemuda NU yang tergabung dalam GP Ansor yang tadinya digambarkan pro Ahok, tiba-tiba ikut mengecam. Bahkan mantan Presiden SBY bereaksi secara terbuka.

"Sadar Ahok makin terpojok dan memperluas barisan musuh baginya, tiada lagi yang dapat dilakukan kecuali minta maaf. Tertulis lagi, supaya terkesan menyesali," tandasnya. [zul]

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

UPDATE

PKS Minta Pemerintah Fokus Reformasi Kebencanaan, Bukan Merger Besar-Besaran

Kamis, 10 September 2026 | 10:25

Minyak Dunia Kembali Membara, Rupiah Tertekan ke Rp17.528 per Dolar AS

Kamis, 10 September 2026 | 10:10

Prabowo Bicara Masa Depan RI: 2050 Jadi Kekuatan Besar Dunia

Kamis, 10 September 2026 | 10:06

Usai Tiga Hari Ambruk, Harga Emas Antam Kembali Naik

Kamis, 10 September 2026 | 09:57

KPK Bidik Pemilik PT CMC dan Cara Dapat Proyek di Bengkulu

Kamis, 10 September 2026 | 09:39

Banding Kasus Penyiraman Air Keras, Imparsial: Status Tak Boleh Beri Jalur Hukum Khusus

Kamis, 10 September 2026 | 09:38

IHSG Dibuka Hijau, Investor Cermati Sentimen Global

Kamis, 10 September 2026 | 09:31

Mentan Amran Berduka, Tiga Petugas Pertanian Tewas Ditembak di Jayawijaya

Kamis, 10 September 2026 | 09:18

Prabowo Tekankan Pentingnya Persatuan dan Kerukunan dalam Demokrasi

Kamis, 10 September 2026 | 09:11

Bupati Lahat: Indonesia Terus Dukung Kemerdekaan Palestina

Kamis, 10 September 2026 | 09:04

Selengkapnya