Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memprediksi penyaluran kredit di kuartal I-2017 masih melambat. Hal itu dinilai wajar terjadi, lantaran permintaan pembiayaan yang masih rendah pada awal tahun.
Menurut Ketua Dewan KomiÂsioner OJK Muliaman D Hadad, melambatnya pertumbuhan kredit di awal tahun ini meruÂpakan tren di setiap awal tahun. Di mana permintaan (demand) kredit di awal tahun masih renÂdah. Padahal di 2017 ini OJK memproyeksi kredit bakal tumÂbuh di kisaran 9-12 persen.
"Biasanya di awal trennya masih rendah. Seperti tahun lalu sampai di bulan keenam saja itu masih di bawah terus. PermintÂaan kredit baru akan meningÂkat pada kuartal II-2017. Kita juga yakin target OJK kredit di kisaran 9-12 persen masih bisa diraih," ucapnya.
Muliaman melihat, saat ini perbaikan pertumbuhan kredit sejalan dengan prediksi pemerÂintah, yang menyatakan bahwa ekonomi nasional akan tumbuh lebih baik dibandingkan 2016. Sehingga kondisi ini akan menÂdorong pertumbuhan kredit.
Dari data Bank Indonesia (BI) per 31 Januari 2017, perbankan membukukan kredit sebesar Rp 4.402,0 triliun pada akhir Desember 2016, atau tumbuh 7,81 persen dibandingkan posisi Rp 4.083,2 triliun pada akhir Desember 2015.
Direktur Eksekutif DeparteÂmen Kebijakan Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia (BI) Juda Agung mengatakan, secara kuartalan, pertumbuhan kredit baru diperkirakan melambat pada kuartal I-2017. Ini tercermin dari saldo bersih tertimbang (SBT) permintaan kredit baru pada kuartal I-2017 sekitar 74,1 persen atau lebih rendah dari kuartal sebelumnya 85,6 persen.
"Pertumbuhan kredit diperÂkirakan meningkat mencapai 13,1 persen pada 2017. Angka ini meningkat dibandingkan realisasi pertumbuhan kredit November 2016 sekitar 8,3 persen," katanya saat ditemui
Rakyat Merdeka.
Pertumbuhan kredit, kata Juda, dipengaruhi oleh kualitas likuiditas masyarakat, penuÂrunan suku bunga kredit, dan kondisi ekonomi yang diperkiraÂkan semakin membaik.
Kondisi industri perbankan secara garis besar tersebut tidak mempengaruhi PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) menentukan target pertumÂbuhan kredit. Bank spesialis kredit wong cilik ini membidik pertumbuhan kredit di angka 12-14 persen pada tahun ini. Mulai membaiknya pertumÂbuhan ekonomi domestik dan global, menjadi salah satu alasan bank beraset Rp 1.000 triliun itu optimistis menapak bisnisnya tahun ini.
Direktur Utama BRI Asmawi Syam menuturkan, perseroan akan tetap mengandalkan sektor usaha mikro, kecil dan menenÂgah (UMKM) sebagai distribusi utama penyebaran kreditnya. Ditambah pada tahun ini, peÂmerintah menargetkan pertumÂbuhan ekonomi 5,1 persen dalam APBN, untuk mengejar pertumÂbuhan tersebut diperlukan penyÂaluran kredit yang masif.
"Tahun ini target kita sama dengan permintaan presiden, di angka 12 persen sampai 14 persen," tuturnya.
Pun begitu dengan PT Bank Central Asia Tbk (BCA), yang percaya diri mampuh meraih pertumbuhan kredit double digit atau tepatnya 10 persen pada 2017. Pertumbuhan kredit ini lebih tinggi dari realisasi 2016 sebesar 7,5 persen.
Direktur Utama BCA Jahja SeÂtiaatmadja menyebutkan, sebeÂnarnya target optimistis untuk pertumbuhan kredit pada 2017 sebesar 12-13 persen. Tahun ini, BCA mengincar beberapa bisnis untuk meningkatkan penyaluran kredit. Beberapa segmen penyÂaluran kredit yang dibidik, seperti modal kerja, investasi, korporasi, komersial, ritel dan UKM.
Ada beberapa faktor yang membuat bank beraset di atas Rp 500 triliun optimistis kredit pada 2017 lebih baik dibandingkan 2016. Pertama, faktor relaksasi ketentuan ekspor bahan mentah pertambangan. Relaksasi ini seiring dengan mulai merangkak naiknya beberapa harga komodiÂtas seperti mineral dan sawit.
Kedua, proyeksi kenaikan daya beli pada tahun ini. Hal ini didorong proyeksi membaiknya ekonomi pada tahun ini. Lalu, faktor ketiga adalah pembanguÂnan infrastruktur.
"Namun, memang efek langÂsung dari pembangunan inÂfrastruktur ini diperkirakan setelah beberapa proyek selesai dibangun yaitu setelah 2020," pungkasnya. ***