Berita

Foto/Net

Bisnis

Bank Tajir Pede Patok Kredit Tumbuh Double Digit

Permintaan Pembiayaan Masih Rendah Di Awal Tahun
KAMIS, 02 FEBRUARI 2017 | 10:02 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memprediksi penyaluran kredit di kuartal I-2017 masih melambat. Hal itu dinilai wajar terjadi, lantaran permintaan pembiayaan yang masih rendah pada awal tahun.

Menurut Ketua Dewan Komi­sioner OJK Muliaman D Hadad, melambatnya pertumbuhan kredit di awal tahun ini meru­pakan tren di setiap awal tahun. Di mana permintaan (demand) kredit di awal tahun masih ren­dah. Padahal di 2017 ini OJK memproyeksi kredit bakal tum­buh di kisaran 9-12 persen.

"Biasanya di awal trennya masih rendah. Seperti tahun lalu sampai di bulan keenam saja itu masih di bawah terus. Permint­aan kredit baru akan mening­kat pada kuartal II-2017. Kita juga yakin target OJK kredit di kisaran 9-12 persen masih bisa diraih," ucapnya.


Muliaman melihat, saat ini perbaikan pertumbuhan kredit sejalan dengan prediksi pemer­intah, yang menyatakan bahwa ekonomi nasional akan tumbuh lebih baik dibandingkan 2016. Sehingga kondisi ini akan men­dorong pertumbuhan kredit.

Dari data Bank Indonesia (BI) per 31 Januari 2017, perbankan membukukan kredit sebesar Rp 4.402,0 triliun pada akhir Desember 2016, atau tumbuh 7,81 persen dibandingkan posisi Rp 4.083,2 triliun pada akhir Desember 2015.

Direktur Eksekutif Departe­men Kebijakan Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia (BI) Juda Agung mengatakan, secara kuartalan, pertumbuhan kredit baru diperkirakan melambat pada kuartal I-2017. Ini tercermin dari saldo bersih tertimbang (SBT) permintaan kredit baru pada kuartal I-2017 sekitar 74,1 persen atau lebih rendah dari kuartal sebelumnya 85,6 persen.

"Pertumbuhan kredit diper­kirakan meningkat mencapai 13,1 persen pada 2017. Angka ini meningkat dibandingkan realisasi pertumbuhan kredit November 2016 sekitar 8,3 persen," katanya saat ditemui Rakyat Merdeka.

Pertumbuhan kredit, kata Juda, dipengaruhi oleh kualitas likuiditas masyarakat, penu­runan suku bunga kredit, dan kondisi ekonomi yang diperkira­kan semakin membaik.

Kondisi industri perbankan secara garis besar tersebut tidak mempengaruhi PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) menentukan target pertum­buhan kredit. Bank spesialis kredit wong cilik ini membidik pertumbuhan kredit di angka 12-14 persen pada tahun ini. Mulai membaiknya pertum­buhan ekonomi domestik dan global, menjadi salah satu alasan bank beraset Rp 1.000 triliun itu optimistis menapak bisnisnya tahun ini.

Direktur Utama BRI Asmawi Syam menuturkan, perseroan akan tetap mengandalkan sektor usaha mikro, kecil dan menen­gah (UMKM) sebagai distribusi utama penyebaran kreditnya. Ditambah pada tahun ini, pe­merintah menargetkan pertum­buhan ekonomi 5,1 persen dalam APBN, untuk mengejar pertum­buhan tersebut diperlukan peny­aluran kredit yang masif.

"Tahun ini target kita sama dengan permintaan presiden, di angka 12 persen sampai 14 persen," tuturnya.

Pun begitu dengan PT Bank Central Asia Tbk (BCA), yang percaya diri mampuh meraih pertumbuhan kredit double digit atau tepatnya 10 persen pada 2017. Pertumbuhan kredit ini lebih tinggi dari realisasi 2016 sebesar 7,5 persen.

Direktur Utama BCA Jahja Se­tiaatmadja menyebutkan, sebe­narnya target optimistis untuk pertumbuhan kredit pada 2017 sebesar 12-13 persen. Tahun ini, BCA mengincar beberapa bisnis untuk meningkatkan penyaluran kredit. Beberapa segmen peny­aluran kredit yang dibidik, seperti modal kerja, investasi, korporasi, komersial, ritel dan UKM.

Ada beberapa faktor yang membuat bank beraset di atas Rp 500 triliun optimistis kredit pada 2017 lebih baik dibandingkan 2016. Pertama, faktor relaksasi ketentuan ekspor bahan mentah pertambangan. Relaksasi ini seiring dengan mulai merangkak naiknya beberapa harga komodi­tas seperti mineral dan sawit.

Kedua, proyeksi kenaikan daya beli pada tahun ini. Hal ini didorong proyeksi membaiknya ekonomi pada tahun ini. Lalu, faktor ketiga adalah pembangu­nan infrastruktur.

"Namun, memang efek lang­sung dari pembangunan in­frastruktur ini diperkirakan setelah beberapa proyek selesai dibangun yaitu setelah 2020," pungkasnya. ***

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

Sikap Adem Ayem Seskab Teddy Mencurigakan

Selasa, 05 Mei 2026 | 02:06

KPK Dalami Peran Haji Her dan Suryo di Skandal Cukai Rokok

Jumat, 01 Mei 2026 | 20:51

Omongan Amien Rais Dibenarkan Publik selama Tak Dibantah Teddy

Kamis, 07 Mei 2026 | 02:15

UPDATE

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

Abu Janda Cs Jangan Sampai Lolos

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:00

Herman Deru Perintahkan Jalinsum Diperbaiki Usai Tragedi Bus ALS

Minggu, 10 Mei 2026 | 01:22

Inilah Bupati Sitaro Chyntia Ingrid Kalangit yang Diborgol Kejati

Minggu, 10 Mei 2026 | 01:09

Pemakzulan Trump Mencoreng Citra Demokrasi Barat

Minggu, 10 Mei 2026 | 01:01

Politik Mesias Digital

Minggu, 10 Mei 2026 | 00:27

Saksi Sidang di PN Jakbar Dikejar-kejar hingga Diduga Dianiaya

Minggu, 10 Mei 2026 | 00:06

Pendidikan Bukan Komoditas Ekonomi

Minggu, 10 Mei 2026 | 00:03

Korban Kecelakaan Bus ALS Jadi 18 Orang

Sabtu, 09 Mei 2026 | 23:32

Kritik Amien Rais Jadi Momentum Perbaikan Tata Kelola Pemerintahan

Sabtu, 09 Mei 2026 | 23:14

Selengkapnya