Presiden ADB Takehiko NaÂkao/Net
Asian Development Bank (ADB) menyatakan siap mengÂgelontorkan pinjaman sebesar 2 miliar dolar AS untuk Indonesia tahun ini. Pinjaman ini merupaÂkan bentuk komitmen ADB yang menjanjikan pinjaman sebesar 10 miliar dolar AS selama lima tahun (2016-2019).
Presiden ADB Takehiko NaÂkao mengungkapkan, kemiÂtraan dengan Indonesia terkait pinjaman, akan difokuskan untuk peningkatan layanan inÂfrastruktur, penguatan tata kelola ekonomi dan peningkatan penÂdidikan dan ketrampilan.
"Sementara dalam operasi sektor swasta, ADB akan berÂinvestasi di berbagai sektor seperti energi bersih dan terbaÂrukan, agribisnis, rumah sakit serta farmasi," kata Nakao saat menemui Presiden Jokowi di Istana Kepresidenan, kemarin.
Nakao menuturkan, peningÂkatan investasi di bidang inÂfrastruktur penting untuk memÂperluas basis perekonomian dan membuka lapangan kerja.
Menurutnya, dukungan ADB di sektor energi akan memperÂluas jangkauan dan efisiensi jaringan kelistrikan nasional serta membantu pengembangan sumber energi bersih seperti gas alam dan panas bumi.
Untuk investasi irigasi pedeÂsaan, ADB akan membantu meningkatkan produktivitas dan penghasilan pedesaan. SedangÂkan investasi di perkotaan akan mendukung program sanitasi di berbagai kota di Indonesia. Dan, bidang manejemen pengeluaran publik, akan membantu meningkatkan mutu belanja negara. Termasuk membuatnya yang lebih tepat sasaran untuk memÂbantu kelompok miskin.
Sementara itu, Menteri Keuangan Sri Mulyani IndraÂwati mengungkapkan, banyak hal yang dibicarakan Presiden Jokowi dengan Nakao dalam pertemuan. Antara lain, kebiÂjakan yang dilakukan pemerintah untuk memperbaiki iklim investasi. Dan, kebijakan untuk mengurangi kesenjangan dan kemiskinan.
Sri Mulyani menilai, ADB merupakan mitra penting InÂdonesia. Indonesia merupakan salah satu pemegang saham lemÂbaga keuangan tersebut. "InÂdonesia sebagai anggota ADB memiliki pangsa saham yang besar dan sekaligus peminjam dari ADB," katanya.
Sekadar informasi, sebagai salah satu negara pendiri ADB, Indonesia telah menerima 31,8 miliar dolar AS dalam bentuk pinjaman negara maupun non-negara, serta 3,2 juta dolar AS dalam bentuk bantuan teknis dan hibah. ***