Berita

Foto/Net

Bisnis

Batubara Naik, Ekonomi RI Diproyeksi Tetap Moncer

Kebijakan Trump Picu Ketidakpastian Perekonomian Dunia
RABU, 01 FEBRUARI 2017 | 08:48 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Kebijakan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump diproyeksi menjadi salah satu pemicu ketidakpastian perekonomian global pada 2017. Namun demikian, pekonomian Indonesia diyakini tetap tumbuh lebih baik dari tahun lalu.

Direktur Eksekutif Kebi­jakan Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia (BI) Juda Agung menilai, ketidakpastian kebijakan perekonomian AS menjadi salah satu tantangan tahun ini. Menurutnya, jika kebijakan fiskal yang akan dike­luarkan Trump sesuai dengan janji kampanyenya, dolar akan menguat.

"Jika Trump melakukan pe­mangkasan pajak, kemudian The Fed (Bank Sentral AS Federal Reserve-red) menaikkan suku bunga, maka itu jadi resep untuk penguatan dolar," kata Juda Agung dalam diskusi 'Economic Outlook' di Hotel Pullman, Jakarta, kemarin.


Pada kesempatan itu, Juda juga menyampaikan kabar baik untuk Indonesia. Yakni, harga batubara naik sebesar 50 persen. Seperti diketahui, Indonesia merupakan salah satu produsen batubara terbesar di dunia.

"Tahun lalu kuartal III sam­pai akhir tahun batubara naik hingga 50 persen. Tapi pertanyaan apa ini berkelanjutan?" tuturnya.

Dia bilang, kenaikan harga komoditas tersebut merupa­kan dampak kenaikan impor batubara China. Negeri Tirai Bambu itu mengalami penurunan produksi sehingga industri di China menggunakan batubara impor.

Kenaikan harga komoditas, lanjutnya, akan memberikan dampak positif ke sektor in­vestasi. Hal tersebut menjadi sinyal bagus setelah konsumsi rumah tangga juga diproyeksi naik. Juda memprediksi, laju perekonomian global tahun ini akan lebih baik dibanding tahun sebelumnya. Jika pertumbuhan ekonomi global 2016 sebesar 3,1 persen, tahun ini BImem­prediksi 3,4 persen. Sementara pertumbuhan di dalam negeri berkisar 5 hingga 5,4 persen.

Pulihkan Ekspor

Direktur Riset Center of Re­form on Economics (Core) Indonesia Mohammad Faisal juga mengatakan, kenaikan harga komoditas dapat memulihkan kinerja ekspor.

"Tidak hanya batubara yang naik, beberapa komoditas lain juga harganya naik. Ada pertum­buhan positif tahun ini meskipun marginal, karena tahun-tahun sebelumnya ekspor kita minus terus," terang Faisal.

Faisal menuturkan, kenaikan harga komoditas dampak dari naiknya harga minyak dunia. Dia melihat prospek harga ko­moditas cukup bagus ke depan karena negara-negara pengekspor minyak, Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) sepakat me­mangkas produksinya.

Tak hanya itu, kebijakan Trump yang ingin memper­baiki industri manufaktur, menurutnya, akan memberikan ekspektasi akan terjadi kenaikan permintaan. "Sepanjang tahun ini, akan erus terjadi kenaikan, tetapi naiknya sedikit demi sedikit," katanya.

Kurang Happy

Direktur Indika Energy Azis Armand menilai, tingginya harga batubara (100 dolar AS per ton) tidak terlalu menggembirakan.

Menurutnya, lebih baik harga lebih rendah sedikit dari 100 dolar AS per ton. Yang terpenting berkelanjutan dan stabil.

Azis menuturkan, dari sisi pasokan, ada tantangan dari produsen global batubara seperti China dan Australia.

"China sebagai produsen be­sar, pengaruhnya besar ke pasar. Ketika mereka mengubah hari kerja, pengaruhnya besar ke produksi," katanya.

Sementara di Indonesia, lan­jutnya, produksi batubara sangat dipengaruhi musim. Hujan yang terus mengguyur di awal tahun seperti saat ini, tentu menyusah­kan operasi tambang batubara di Kalimantan.

Dengan melihat kemungki­nan produksi dan permintaan global, Azis menyebut, rencana produksi perseroan akan bagus dijalankan jika harga batubara 100 dolar AS per ton. "Namun, lebih baik lagi jika harganya stabil di kisaran 70-80 dolar AS per ton," ujarnya. ***

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Langsung Terbang ke Jakarta, Maukah Chatib Basri Ganti Purbaya?

Jumat, 05 Juni 2026 | 06:58

Ironis! Terima Penghargaan Negara tapi Terjerat Korupsi

Jumat, 05 Juni 2026 | 01:00

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

UPDATE

Besok Pantura Jateng Diprediksi Banjir Rob Lebih Lama

Minggu, 14 Juni 2026 | 22:22

Turun Ke Kupang, Komut Pertamina Pastikan Pasokan Energi di Perbatasan Aman

Minggu, 14 Juni 2026 | 21:47

Prabowo Terima Laporan Rosan soal Lonjakan Kepercayaan Investor Global

Minggu, 14 Juni 2026 | 21:40

Masyarakat Harus Jaga Persatuan di Tengah Tekanan Ekonomi Global

Minggu, 14 Juni 2026 | 21:26

Prabowo Kumpulkan Sejumlah Menteri di Kertanegara, Bahas Apa?

Minggu, 14 Juni 2026 | 21:21

Ketum PKB: Politik Bukan Cuma Rebutan Kekuasaan!

Minggu, 14 Juni 2026 | 21:19

Wakapolri dan Akpol '90 Bakti Sosial dan Kesehatan Gratis

Minggu, 14 Juni 2026 | 20:49

Tuan Guru Batak Kecam Eks Ketua BEM UGM yang Diduga Hina Presiden

Minggu, 14 Juni 2026 | 20:32

PKB Jabar Fest Siapkan Kader Muda jadi Pemimpin Masa Depan

Minggu, 14 Juni 2026 | 20:31

KPK Buka Fakta Viral Foto Tumpukan Uang Valas Silmy Karim

Minggu, 14 Juni 2026 | 19:53

Selengkapnya