Berita

Foto/Net

Bisnis

Harga Gas Impor Kudu Di Bawah 6 Dolar AS

Berantas Trader Nakal
SENIN, 30 JANUARI 2017 | 10:05 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Asosiasi Industri pengguna gas mengapresiasi langkah pe­merintah yang terus berusaha menurunkan harga gas industri. Namun, langkah pemerintah impor gas disayangkan.

Ketua Umum Forum Industri Pengguna Gas Bumi (FIPGB) Ahmad Safiun mengatakan, ke­bijakan pemerintah melakukan impor gas memperlihatkan jika mereka kesulitan menghapuskan para trader gas. Akhirnya dica­rilah jangka pendeknya dengan impor gas.

"Mereka lakukan dengan im­por gas untuk putus trader gas nakal," ujarnya kepada Rakyat Merdeka, kemarin.


Menurut dia, jika pemerintah mau tegas memberantas para trad­er gas ini, tidak perlu impor gas. Sebab, pasokan gas dalam negeri sangat banyak. Bahkan, Indonesia juga sampai mengekspor gas.

"Gas kita banyak, tinggal bagaimana menyalurkan ke in­dustri langsung tanpa melewati trader," kata Safiun.

Dia mengakui, jika harga gas impor akan lebih murah dibandingkan dengan membeli dari dalam negeri. Harganya diprediksi dikisaran 5 dolar AS per million metric british ther­mal unit (MMBTU).

"Harga dari sana sekitar 3,5 dolar AS. Ditambah biaya ang­kut dan regasifikasi sekitar 1,5 dolar AS, maka totalnya sekitar 5 dolar AS. Harganya harus di bawah 6 dolar AS," ujarnya

Menurut dia, pelaku industri sudah sangat berharap harga gas industri bisa turun. Hal ini untuk meningkatkan daya saing produk industri. Apalagi, industri meru­pakan masa depan Indonesia.

"Industri manufaktur itu ujung tombak ekonomi nasional, kar­ena itu industri harus jalan," tambah Safiun.

Menurut Safiun, kendala indus­tri manufaktur masih berkutat di energi yang mahal. Seharusnya, pemerintah bisa memberikan sub­sidi untuk biaya energi. "Misalnya harga gas disubsidi saja. Pengu­rangan pendapatan dari sektor gas bisa ditutup dari pendapatan pajak industri yang naik," tukasnya.

Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Haryadi Sukamdani mengatakan, dengan impor gas, industri memiliki pili­han menggunakan gas dari dalam negeri atau impor. Apalagi, jika salah satunya jauh lebih murah.

"Strategi ini idealnya hanya dilakukan untuk jangka pendek. Adapun untuk jangka panjang, pemerintah harus memetakan masalah kenapa harga gas dalam neg­eri jauh lebih mahal," papar dia.

Haryadi menambahkan, distri­busi gas juga diperhatikan karena mencakup siapa yang akan men­gelola dan membuat akses menuju pelanggan industri. Dengan be­gitu, strategi ini bisa berdampak positif bagi industri. "Kalau bisa menjangkau lebih banyak industri dan harganya lebih murah, sangat bagus sekali," ujar Haryadi.

Sebelumnya, Menteri Perin­dustrian (Menperin) Airlangga Hartarto mengatakan, pemer­intah telah menyetujui untuk mencari skema impor untuk memenuhi kebutuhan akan gas murah. "Izin yang sudah dilaku­kan adalah impor gas. Nanti akan kita bahas lagi," kata Airlangga

Ia menjelaskan, impor gas ini bukan karena Indonesia tidak memiliki gas untuk disalurkan. Namun, jarak yang cukup jauh dari sumber gas menuju industri membuat perusahaan yang mem­butuhkan gas sebagai bahan baku kerap kesulitan mendapatkan suplai. "Hal tersebut membuat harga gas bisa melambung. Untuk itu perlu disiapkan skema untuk impor gas," tukasnya. ***

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

Sikap Adem Ayem Seskab Teddy Mencurigakan

Selasa, 05 Mei 2026 | 02:06

KPK Dalami Peran Haji Her dan Suryo di Skandal Cukai Rokok

Jumat, 01 Mei 2026 | 20:51

Omongan Amien Rais Dibenarkan Publik selama Tak Dibantah Teddy

Kamis, 07 Mei 2026 | 02:15

UPDATE

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

Abu Janda Cs Jangan Sampai Lolos

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:00

Herman Deru Perintahkan Jalinsum Diperbaiki Usai Tragedi Bus ALS

Minggu, 10 Mei 2026 | 01:22

Inilah Bupati Sitaro Chyntia Ingrid Kalangit yang Diborgol Kejati

Minggu, 10 Mei 2026 | 01:09

Pemakzulan Trump Mencoreng Citra Demokrasi Barat

Minggu, 10 Mei 2026 | 01:01

Politik Mesias Digital

Minggu, 10 Mei 2026 | 00:27

Saksi Sidang di PN Jakbar Dikejar-kejar hingga Diduga Dianiaya

Minggu, 10 Mei 2026 | 00:06

Pendidikan Bukan Komoditas Ekonomi

Minggu, 10 Mei 2026 | 00:03

Korban Kecelakaan Bus ALS Jadi 18 Orang

Sabtu, 09 Mei 2026 | 23:32

Kritik Amien Rais Jadi Momentum Perbaikan Tata Kelola Pemerintahan

Sabtu, 09 Mei 2026 | 23:14

Selengkapnya