Berita

Jaya Suprana/Net

Jaya Suprana

Mengutamakan Tenaga Kerja Indonesia

KAMIS, 26 JANUARI 2017 | 18:24 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

PEMERINTAH baru Amerika Serikat di bawah pimpinan Donald Trump telah menyiapkan strategi untuk melindungi lapangan pekerjaan bagi warga AS.  

Strategi itu dimulai dengan menarik diri dari perjanjian kerja sama perdagangan Trans Pacific Partnership (TPP).

Rilis pihak Gedung Putih yang dikeluarkan segera setelah pelantikan Trump menyebutkan, pemerintah AS akan mengambil tindakan tegas terhadap negara-negara yang melanggar kerja sama perdagangan dan merugikan para tenaga kerja AS.


Pernyataan itu juga menyebutkan, Trump akan renegosiasi kesepakatan perdagangan yang tercantum dalam North American Free Trade Agreement (NAFTA), yang ditandatangi pada 1994 oleh AS, Kanada, dan Meksiko. Gedung Putih juga menyebut perjanjian perdagangan yang adil dan kuat akan dipakai untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan mengembalikan jutaan lapangan pekerjaan di AS.

Selain itu, jika negara mitra di NAFTA menolak memberikan kesepakatan yang adil dalam renegosiasi perjanjian, maka Presiden AS akan memberi peringatan untuk menarik diri dari NAFTA. Perjanjian TPP, yang telah ditandatangani AS namun tidak diratifikasi, telah menjadi primaddona ekonomi bagi kepemerintahan Barack Obama.  

Para pendukung  mazhab pasar bebas menilai gejala presiden Trump memusuhi TPP sebagai blunder alias kekeliruan parah perdana dalam kebijakan perdagangan luar negeri mau pun ekonomi dalam negeri AS di masa kepresidenan Trump.

Namun terlepas dari pro-kontra, yang paling penting untuk diperhatikan adalah ketegasan presiden Trump dalam berupaya mengutamakan kepentingan perlindungan terhadap lapangan kerja dan tenaga kerja dalam negeri AS dalam setiap perjanjian dagang yang dijalin AS dengan negara atau negara-negara lain. Donald Trump tegas dalam upaya melindungi kepentingan tenaga kerja dalam negeri agar jangan sampai dikorbankan dalam perjanjian dagang dengan luar negeri.

Sikap mengutamakan kepentingan tenaga kerja dalam negeri sendiri tidak ada salahnya dijadikan pedoman bagi semua pemerintah negara didunia masa kini, termasuk pemerintah  Indonesia.  

Tekad Trump mengingatkan saya kepada ajaran Bung Hatta yang secara visioner serupa dengan anjuran Samuel Huntington tentang pentingnya nasionalisme sebagai kubu pertahanan terakhir demi bertahan apalagi berjaya di tengah kemelut globalisasi ekonomi.

Imperialisme melalui jalur ekonomi memang potensial menggantikan imperialisme melalui jalur militer yang sudah dianggap anakronis alias tidak sesuai perkembangan zaman. Negara-negara adhi kuasa melampiaskan hawa nafsu imperialistik demi menguasai dunia bukan lagi dengan bedil dan peluru.

Demi meminilasir perlawanan, kaum penjajah abad XXI memilih imperialisme melalui jalur ekonomi berkedok perjanjian kerja sama perdagangan antar bangsa yang lebih menguntungkan bangsa dengan kekuasaan ekonomi lebih kuat ketimbang yang lebih lemah.

Pemerkosaan ekonomi diperhalus bahkan dikaburkan dengan pengesahan lewat sistem perjanjian kerja sama ekonomi antar bangsa yang pada hakikatnya merupakan bentuk pernikahan ekonomi. Maka Bung Hatta selalu mengingatkan kita agar jangan lalai mengutamakan kedaulatan ekonomi termasuk di dalamnya pengutamaan perlindungan kepentingan pasar, lapangan kerja dan tenaga kerja dalam negeri.

Para investor asing kerap memaksakan penggunaan tenaga kerja asing dengan alasan tenaga kerja Indonesia tidak profesional. Sesuai dengan semangat kedaulatan ekonomi, alasan bahwa tenaga kerja Indonesia  belum profesional justru merupakan kewajiban para investor asing untuk mendidik tenaga kerja Indonesia sehingga mampu menguasai ketrampilan dan keahlian profesional yang mereka syaratkan.

Sementara pemerintah AS di masa kepresidenan Donald Trump wajib mengutamakan kepentingan tenaga kerja AS sendiri maka Insya Allah pemerintah Indonesia di masa kepresidenan siapa pun juga hukumnya wajib dalam mengutamakan kepentingan tenaga kerja Indonesia sendiri. Merdeka... [***]

Penulis adalah pemerhati tenaga kerja Indonesia 

Populer

Jumlah Personel TNI Tidak Masuk Akal

Sabtu, 30 Mei 2026 | 03:36

Penutupan Alfamart dan Indomaret Jangan Salahkan KDKMP

Kamis, 28 Mei 2026 | 06:00

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

UPDATE

Istana Minta Kritik terhadap BI Dijadikan Evaluasi Penguatan Komunikasi

Sabtu, 06 Juni 2026 | 14:23

Kursi Dua Wamen Kosong, Pemerintah Belum Siapkan Pengganti

Sabtu, 06 Juni 2026 | 14:10

Mensesneg soal Kabar Said Iqbal Masuk Kabinet: Masih Didiskusikan

Sabtu, 06 Juni 2026 | 13:59

Mubes V Kosgoro 1957 Digoyang Penolakan Daerah

Sabtu, 06 Juni 2026 | 13:52

AS Hantam Iran dengan Sanksi Baru, Jaringan Penyelundupan LPG Jadi Target

Sabtu, 06 Juni 2026 | 13:37

Istana Bantah Isu Menkeu dan Gubernur BI Bakal Dicopot

Sabtu, 06 Juni 2026 | 13:31

Prasetyo Hadi: Sinergi Pemerintah, DPR, dan BI Kunci Jaga Stabilitas Ekonomi

Sabtu, 06 Juni 2026 | 13:20

Bank Indonesia Sudah Intervensi, Mengapa Rupiah Tetap Melemah?

Sabtu, 06 Juni 2026 | 13:08

Menkeu Purbaya Bantah Omzet Warteg Turun Jadi Bukti Daya Beli Lesu

Sabtu, 06 Juni 2026 | 12:47

Daftar Komoditas Dirilis, Danantara SDI Siap Kendalikan Rezim Baru Ekspor RI

Sabtu, 06 Juni 2026 | 12:21

Selengkapnya