Berita

Foto/Net

On The Spot

Pedagang Buka Pendaftaran Temui Gubernur Jakarta

Melihat Kegiatan Di Pasar Senen Usai Kebakaran
SENIN, 23 JANUARI 2017 | 09:59 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Ratusan kios pedagang di Blok Idan II Pasar Senen, Jakarta Pusat, ludes dilalap si jago merah, Kamis lalu. Dua hari pasca-kejadian, pemilik dan penyewa kios
telah melakukan sejumlah aktivitas di sekitar lokasi bekas kebakaran.
 
Siang itu, Riko Kifli bersama sejumlah rekannya menggelar meja di emperan Blok I Pasar Senen yang tidak ikut hangus. Di atas meja berwarna coklat itu, dia meletakkan beberapa lembar kertas dan sebuah pena.

Dengan tambahan beberapa kursi, Riko dan rekan-rekannya menunggu para pedagang yang lapak dagangannya ikut hangus terbakar. Di meja itu dibuka pendaftaran bagi para pedagang yang ingin ikut ke Balai Kota DKI Jakarta, menemui Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur DKI Jakarta, Sumarsono.

Dengan tambahan beberapa kursi, Riko dan rekan-rekannya menunggu para pedagang yang lapak dagangannya ikut hangus terbakar. Di meja itu dibuka pendaftaran bagi para pedagang yang ingin ikut ke Balai Kota DKI Jakarta, menemui Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur DKI Jakarta, Sumarsono.

Hingga menjelang sore, su­dah puluhan orang mendaftar.Namun, ada beberapa yang hanya sekadar mendatangi dan menanyakan tujuan Riko Cs. Kebanyakan para pendaftarmerupakan anggota Forum Silaturahmi Pedagang Pariaman Saiyo (Forsippas) Pasar Senen.

Menurut Riko, tujuannya menggelar stan tersebut adalah untuk mengajak para pedagangyang lapaknya menjadi korban kebakaran, menemui Sumarsono. Mereka menuntut agar Pemprov DKI mengizinkan mereka berdagang di seputaran areal parkir Blok I.

"Yang kita tuntut memang itu. Kita berharap diizinkan berda­gang di sini, sampai renovasi pasar selesai," katanya saat ngobrol dengan Rakyat Merdeka.

Riko menargetkan, ada seki­tar 250 pedagang, baik pemilik maupun penyewa kios yang akan berangkat ke Balai Kota. "Senin pagilah kita sudah sampai di sana," jelasnya.

Tak jauh dari stan yang didirikan Riko dan rekan-rekannya, Tobang mendirikan lapak dagangannya. Lapaknya berada persis di badan Jalan Pasar Senen. Letaknya per­sis di depan Blok I Pasar Senen yang ludes dilalap api.

Bersama seorang rekannya, pria paruh baya ini menggelar sejumlah pakaian bekas yang menjadi dagangannya. Beberapa pakaian digantung di bagian belakang. Sedangkan yang lain­nya digelar begitu saja di jalan dengan hanya dialaskan tikar. Tobang dan puluhan pedagang pakaian bekas lainnya tampak seperti tak terpengaruh kebakaran yang baru bisa dipadamkan seletah puluhan jam itu.

"Ya, sempat enggak dagang sih pas Kamis. Baru Jumat kita mulai dagang lagi. Yang lain juga begitu kayaknya," kata Tobang saat berbincang.

Di sekitar lapak dagangan Tobang, tampak jalanan yang dicat menggunakan cat semprot berwarna silver. Catnya dibentuk kotak dan di dalamnya diberi nama. Ukurannya bervariasi, 2x2 meter hingga 4x2 meter persegi. "Oh, itu kemarin dicat pengelola, sebagai lapak sementara untuk pedagang yang kiosnya terbakar di dalam," jelas Tobang.

Hingga sore hari, aktivitas jual beli di depan pasar yang terbakar masih tetap ramai. Para pedagang menggelar lapak mereka di sepa­njang badan Jalan Pasar Senen sejauh sekitar 200 meter, hingga trotoar yang berada di pinggir jalan Letjen Soeprapto yang mengarahke Stasiun Pasar Senen.

Para pedagang dan pembeli tampak tak terganggu dengan aktivitas sejumlah petugas yang masih bersiaga di sana. Puluhan mobil pemadam kebakaran masih terparkir di depan pasar yang terbakar.

Di bagian dalam, sekitar areal parkir Blok I, sejumlah tenda dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta dan dari kepolisian masih berdiri. Di bangunan pasar yang terbakar, sejumlah petugas keamanan dari internal pasar dan kepolisian masih terlihat siaga.

Bau hangus barang-barang ter­bakar yang tercampur air masih menyengat. Di depan kios-kios pun dipasang spanduk peringatan dari pengelola gedung. Isinya, "SELURUH PEDAGANG PASAR PROYEK SENEN BLOK I-II KAMI MOHON MAAF BELUM DAPAT MEMBERIKAN IJIN UNTUK PENGAMBILAN BARANG-BARANG SAMPAI DENGAN ADA PENYELESAIAN PENYIDIKAN DARI KEPOLISIAN".

Meski ada larangan, ada sejumlah pedagang diizinkan masuk mengambil barang yang bisa diselamatkan. Salah satunya, yakni Buyung. Ada sejumlah dagangannya yang bisa diselamatkan. Namun, dia terpaksa banting harga dagangannya. Penyebabnya, karena barang dagangan miliknya sedikit rusak.

"Mungkin rusaknya karena basah kena semprot air pemadam," ucapnya.

Dia masih beruntung karena ada barang dagangannya yang bisa diselamatkan. Sedangkan pedagang lainnya, banyak yang semua barang dagangannya ludes dimangsa api.

"Yang pentingasal bisa dijadi­kan duit lagi saja, sehingga buat modal lagi," tutur Buyung.

Senada, Yumnah, pedagang lainnya mengaku diizinkan petugas masuk ke lokasi kebakaran mengambil barang yang bisa dis­elamatkan. Pakaian dagangannya pun terpaksa diobral. "Dipilih saja, dipilih saja. Barang mahal dijual murah, tapi bukan murahan," teriaknya menawarkanda­gangan yang dijajakannya kepada orang-orang yang melintas.

Sementara Sarifah, mengaku terpaksa menggelar lapaknya di halte bus. "Kalau kita tak jualan, berarti sekeluarga di rumah tidak makan. Hanya ini dagangan yang tersisa, selebihnya ludes terbakar," papar Sarifah.

Sarifah yang di tokonya sebe­lum terbakar berjualan pakaian seperti baju, kaos, celana, rok, hijab, gaun, dan sebagainya, sebagian besar habis dilalap si Jago Merah. "Kami pajang di sini, selain untuk dijual juga mengamankan dagangan yang sempat kami selamatkan ke­marin," jelasnya.

Sarifah mengaku mengalami kerugian ratusan juta rupiah. "Sebagian modal pakai pinjaman bank, saya bingung bagaimana nanti cara mengembalikannya," ucap wanita yang sudah belasan tahun berjualan di Pasar Senen ini.

Latar Belakang
Api Yang Melalap Pasar Senen Baru Bisa Dipadamkan Setelah 60 Jam

Kebakaran yang melanda Blok I dan II Pasar Senen, Jakarta Pusat, sedikitnya menghanguskan 1.691 kios.

Petugas pemadam kebakaran (damkar) mesti bekerja ekstra keras sebelum benar-benar me­madamkan api setelah 60 jam.

Petugas Suku Dinas Pemadam Kebakaran (Sudin Damkar) Jakarta Pusat Sanudin mengata­kan, setelah kurang lebih 60 jam proses pemadaman, akhirnya api yang berkobar di Pasar Senen berhasil dipadamkan total pada Sabtu lalu, pukul 17.30 WIB.

Dalam proses pemadaman hari terakhir, setidaknya 42 unit pemadam kebakaran dan 160 petugas diterjunkan. Sanudin menambahkan, unit pemadam kebakaran maupun petugas, baru kembali ke sektor masing-masing setelah api betul-betul padam.

"Petugas yang 160 orang sudah kembali ke sektor masing-masing. Sejauh ini, tidak ada petugas yang dilaporkan sakit akibat melakukan pemadaman lebih dari dua hari itu," katanya.

Terpisah, Plt Gubernur DKI Jakarta Sumarsono mengatakan, telah meminta aparat kepolisan agar mengusut tuntas penyebab kebakaran yang terjadi di Pasar Senen. "Berdasarkan laporan sementara, kebakaran disebab­kan korsleting listrik. Tapi, kami minta kepolisian supaya mengusutnya sampai selesai," ucap Sumarsono di Balai Kota DKI.

Lebih lanjut, pria yang biasa dipanggil Soni itu pun menyerahkan seluruh proses penyelidikan kepada aparat kepolisian. Hal itu, kata dia, untuk dapat mengetahui penyebab kebakaran.

"Semoga bisa segera diketahui penyebabnya. Saya juga berharap, peristiwa seperti ini tidak terulang," ujar Sumarsono.

Di sisi lain, dia meminta agar para pedagang bersabar menghadapi peristiwa tersebut. Sumarsono juga meminta pedagangmenunggu hingga dibangunnya tempat relokasi untuk berjualan.

"Kami akan upayakan dan segera cari jalan keluar supaya para pedagang yang menjadi korban kebakaran, bisa cepat berjualan lagi. Kami sudah mulai bicarakan masalah ini," tutur Sumarsono.

Untuk jangka panjang, dia menyatakan akan melakukan evaluasi secara menyeluruh ter­hadap kondisi pasar-pasar yang tersebar di wilayah ibukota, ter­masuk sarana dan prasarananya. "Minggu depan, kami akan mu­lai evaluasi itu," tandasnya.

Seperti diketahui, Kamis lalu, sekitar pukul 04.00 WIB, api membakar Pasar Senen, Blok I dan Blok II. Dinas Damkar yang mendapat laporan, tiba di lokasi setengah jam kemudian dengan mengerahkan puluhan mobil. ***

Populer

Menyorot Nuansa Politis Penetapan Direksi Pelindo

Senin, 02 Maret 2026 | 06:59

10.060 Jemaah Umrah Telah Kembali ke Tanah Air

Kamis, 05 Maret 2026 | 09:09

Harga Tiket Pesawat Kembali Tidak Masuk Akal

Selasa, 03 Maret 2026 | 03:51

Rusia dan China akan Dukung Iran dari Belakang Layar

Minggu, 01 Maret 2026 | 04:20

Kecelakaan Moge di Kulon Progo, Istri Bos Rokok HS Meninggal

Senin, 02 Maret 2026 | 18:54

KAI Wisata Hadirkan Kereta Panoramic Rute Jakarta–Yogyakarta dan Solo

Sabtu, 28 Februari 2026 | 15:37

PKB Kutuk Pembunuhan Ali Khamenei dan Desak PBB Jatuhkan Sanksi ke Israel-AS

Minggu, 01 Maret 2026 | 18:07

UPDATE

Tiga ABK WNI Hilang dalam Ledakan Kapal UEA di Selat Hormuz

Minggu, 08 Maret 2026 | 13:50

Kemenhaj Dorong UMKM Masuk Rantai Pasok Oleh-oleh Haji

Minggu, 08 Maret 2026 | 13:15

KPK Sempat Cari Suami Fadia Arafiq Saat OTT Kasus Korupsi Pemkab Pekalongan

Minggu, 08 Maret 2026 | 13:08

AWKI Ajak Pelajar Produksi Film Pendek Bertema Kebangsaan

Minggu, 08 Maret 2026 | 13:06

Sambut Nyepi, Parade Ogoh-Ogoh Meriahkan Bundaran HI

Minggu, 08 Maret 2026 | 12:32

Sekjen PSI Jalankan Amanah Presiden Prabowo Benahi Tata Kelola Hutan

Minggu, 08 Maret 2026 | 12:15

Balas Serangan Israel, Iran Bombardir Kilang Minyak Haifa

Minggu, 08 Maret 2026 | 12:10

15 Vaksinasi Wajib untuk Anak Menurut IDAI dengan Jadwalnya

Minggu, 08 Maret 2026 | 12:05

Zendhy Kusuma Soroti Bahaya Penghakiman Digital Usai Video Restoran Bibi Kelinci

Minggu, 08 Maret 2026 | 12:01

3 Gejala Campak yang Perlu Diwaspadai, Jangan Sampai Salah

Minggu, 08 Maret 2026 | 12:00

Selengkapnya