Berita

Politik

Presidential Threshold Menista Figur Terbaik Bangsa

MINGGU, 22 JANUARI 2017 | 14:38 WIB | OLEH: ARIEF GUNAWAN*

NAIKNYA Trump jadi presiden yang disertai penolakan masyarakat Amerika terhadap triliuner-pesohor yang bekas produser programa televisi itu memunculkan pertanyaan:

Pilpres Amerika soal uang atau soal figur?

Ternyata esensinya adalah soal figur.


Meski menang dan terpilih Trump tidak disukai karena visinya yang anti populis, nepotis, rasis, dan potensial memicu instabilitas dunia.

Dalam sejarah kepresidenan Amerika Trump seperti anomali atau semacam antiklimaks. Kursi kepresidenan Amerika lazimnya diisi oleh figur-figur negarawan seperti Abraham Lincoln, Franklin Delano Rosevelt, Harry Truman, John F Kennedy, Lyndon Jhonson, dan beberapa nama lain.

Bagaimana Indonesia?
Masyarakat Indonesia hari ini kesulitan dalam asumsi mengenai kepemimpinan, model kepemimpinannya selalu stereotipe, fisik dan citra diri dianggap lebih penting. Karena partai-partai yang seharusnya jadi model rekrutmen kepemimpinan umumnya bermasalah tidak punya kader yang punya integritas, track record, kompetensi, dan keberpihakan kepada rakyat secara konkret.

Sering dikeluhkan elit Indonesia hari ini umumnya seperti kelas pemimpin negara-negara Afrika dengan simbol Idi Amin; korup, nepotis, hedonis, fasis. Visi tidak penting, yang penting happy, dan yang penting lagi mewakili suku tertentu. Parahnya ini dilanggengkan oleh oligarki partai-partai...

Menjelang Pilpres 2019 seperti saat ini partai-partai bertahan dengan oligarki yang mereka bangun; tidak memberi ruang kepada figur terbaik bangsa untuk maju jadi calon presiden. Mereka menjadi penghambat dengan mempertahankan sistem presidential threshold (ambang batas pengajuan capres dan cawapres dalam RUU Pemilu, pasal 190, yang menyatakan yang berhak mengajukan capres adalah parpol atau gabungan parpol yang memiliki 20 persen kursi di DPR atau memiliki 25 persen suara sah hasil pemilu terakhir).

Mungkin bukan sebuah kebetulan, partai-partai pendukung presidential threshold ini; PDIP, Nasdem, Golkar, (sementara Hanura dikabarkan menolak presidential threshold), adalah juga partai-partai pendukung Ahok, terdakwa penista agama. Mereka berada dalam satu tarikan nafas: mendukung presidential threshold; mendukung Ahok...

Oligarki partai-partai pro status quo ini tidak punya figur pendorong perubahan, sehingga bertumpu pada presidential treshold dan kekuatan uang...

Memang benar kata Bung Karno, 'Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tetapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri...'.

Dalam konteks ini perjuangan yang dimaksud adalah melawan status quo oligarki partai-partai pendukung presidential treshold yang tidak ingin bangsa dan negeri ini berubah dengan memberi ruang kepada figur terbaik bangsa untuk maju menjadi calon presiden.

Kata orang, kalau kebudayaan lebih banyak direfleksikan dalam seni, sastra, religi, dan moral, maka peradaban terrefleksikan dalam politik, ekonomi, dan tekhnologi. Orang berpolitik maknanya antara lain untuk membangun peradaban. Karena ternyata yang dibangun oleh partai-partai pendukung presidential threshold adalah oligarki, bukan peradaban demokrasi yang sehat, maka bolehlah kita kutip satu bait sajak 'Peringatan', karya Wiji Thukul:

"...apabila usul ditolak tanpa ditimbang suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan dituduh subversif dan mengganggu keamanan maka hanya ada satu kata: LAWAN !...".

Melawan oligarki dan statuq quo demi peradaban demokrasi yang sehat dan berkeadilan, karena presidential treshold menista figur terbaik bangsa untuk berpeluang memperbaiki negeri yang sedang sakit ini. [***]

Penulis merupakan wartawan senior Rakyat Merdeka

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

UPDATE

Tourism Malaysia Gencarkan Promosi Wisata di Tiga Kota Indonesia

Selasa, 28 April 2026 | 10:20

DPR Desak Evaluasi Nasional Perlintasan Sebidang Usai Tabrakan Kereta di Bekasi

Selasa, 28 April 2026 | 10:13

Bus Shalawat Gratis 24 Jam Disiapkan untuk Jemaah Haji di Makkah

Selasa, 28 April 2026 | 10:09

Update Korban Jiwa Tabrakan KA di Bekasi Bertambah Jadi 14 Orang

Selasa, 28 April 2026 | 10:00

Prabowo Minta Segera Investigasi Kasus Tabrakan Kereta Bekasi

Selasa, 28 April 2026 | 09:56

Lokomotif Argo Bromo Berhasil Dipindahkan, Tim SAR Fokus Evakuasi Korban

Selasa, 28 April 2026 | 09:53

Purbaya Pede IHSG Bisa Terbang 28.000, Pasar Langsung Terkoreksi

Selasa, 28 April 2026 | 09:51

Dinamika Global Tekan Indeks DXY ke Level 98,45 Jelang Keputusan Federal Reserve

Selasa, 28 April 2026 | 09:48

Kopdes Jadi Instrumen Capai Nol Kemiskinan Ekstrem

Selasa, 28 April 2026 | 09:39

Imbas Tabrakan Kereta di Bekasi Timur, Belasan Perjalanan KA Jarak Jauh dari Jakarta Resmi Dibatalkan

Selasa, 28 April 2026 | 09:27

Selengkapnya