Berita

Hukum

Komplotan Penipu Spesialis Rumah Duka Bermalam Di Polda Metro

RABU, 18 JANUARI 2017 | 23:36 WIB | LAPORAN:

Suasana duka bagi orang lain justru menjadi sukaria bagi lima sekawan penipu spesialis menyamar sebagai petugas rumah duka.

Mereka, MT, ASS, BH, SH dan SAK, terpaksa menginap di balik jeruji besi Mapolda Metro Jaya setelah diamankan Tim Subdit Resmob Dit Reskrimum Polda Metro Jaya (PMJ), Selasa kemarin (17/1).

"Mereka dikenal sebagai komplotan penipu spesialis rumah duka," ujar Wadir Dit Reskrimum PMJ, Ajun Komisaris Besar Polisi Didi Sugiyarto, di kantornya, Rabu (18/1).


Penyelidikan kepolisian atas kejahatan mereka bermula dari kasus yang dialami korban, Teng Ie Ie, pada Desember 2016. Saat itu, salah satu tersangka, ASS, memantau iklan berita duka suami calon korbannya itu di media cetak nasional. Tanpa pikir panjang, empat tersangka lain pun menyiapkan strategi untuk menguras harta korban.

"Ada tugas masing-masing. MT aktor intelektualnya," tutur Didi.

Tersangka BH dan SA mencari nomor telepon rumah duka korban dengan menghubungi 108. Sedangkan, SAK bertugas menyiapkan nomor rekening dengan identitas palsu.

Selanjutnya, tersangka menelepon korban dengan nama samaran dan mengaku bernama Didi sebagai petugas rumah duka di kawasan Jakarta Barat.

"Kemudian komplotan ini meminta uang untuk pengurusan jenazah suami korban," lanjut Didi.

Awalnya tersangka meminta dikirimkan sejumlah uang bernominal Rp 40 juta dan disanggupi korban. Masih kurang cukup, tersangka kembali meminta uang dengan nominal Rp 20 juta. Namun, saat meminta untuk ketiga kalinya, korban tidak bersedia menyanggupi.

"Korban mentransfer uang tersebut saat dalam perjalanan ke rumah duka menggunakan e-banking. Setibanya di rumah duka, staf membantah ada karyawan yang bernama Diki dan meminta uang," terang Didi.

Merasa dirinya telah ditipu, korban pun melapor ke pihak berwajib untuk menindaklanjuti laporannya.

Tak hanya tersangka, polisi juga mengamankan sejumlah barang bukti yang diyakini sebagai alat pendukung untuk melancarkan aksinya. Antara lain, beberapa unit ponsel dan kartu perdana, 80 kartu ATM dan buku tabungan dari berbagai bank.

Untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, tersangka dijerat Pasal 378 KUHP tentang Penipuan juncto Pasal 55 dan atau Pasal 56 KUHP tentang Bantuan Melakukan Kejahatan dan atau Pasal 480 KUHP tentang Penadahan dan atau Pasal 5 UU 8/2010 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang. [ald]

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Langsung Terbang ke Jakarta, Maukah Chatib Basri Ganti Purbaya?

Jumat, 05 Juni 2026 | 06:58

Ironis! Terima Penghargaan Negara tapi Terjerat Korupsi

Jumat, 05 Juni 2026 | 01:00

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

UPDATE

Besok Pantura Jateng Diprediksi Banjir Rob Lebih Lama

Minggu, 14 Juni 2026 | 22:22

Turun Ke Kupang, Komut Pertamina Pastikan Pasokan Energi di Perbatasan Aman

Minggu, 14 Juni 2026 | 21:47

Prabowo Terima Laporan Rosan soal Lonjakan Kepercayaan Investor Global

Minggu, 14 Juni 2026 | 21:40

Masyarakat Harus Jaga Persatuan di Tengah Tekanan Ekonomi Global

Minggu, 14 Juni 2026 | 21:26

Prabowo Kumpulkan Sejumlah Menteri di Kertanegara, Bahas Apa?

Minggu, 14 Juni 2026 | 21:21

Ketum PKB: Politik Bukan Cuma Rebutan Kekuasaan!

Minggu, 14 Juni 2026 | 21:19

Wakapolri dan Akpol '90 Bakti Sosial dan Kesehatan Gratis

Minggu, 14 Juni 2026 | 20:49

Tuan Guru Batak Kecam Eks Ketua BEM UGM yang Diduga Hina Presiden

Minggu, 14 Juni 2026 | 20:32

PKB Jabar Fest Siapkan Kader Muda jadi Pemimpin Masa Depan

Minggu, 14 Juni 2026 | 20:31

KPK Buka Fakta Viral Foto Tumpukan Uang Valas Silmy Karim

Minggu, 14 Juni 2026 | 19:53

Selengkapnya