Hubungan Presiden AS Donald Trump dengan wartawan kian memanas. Setelah sebelumnya "kasar" terhadap wartawan CNN dalam jumpa pers perdananya pekan lalu, kini Trump "mendepak" memindahkan ruang pers wartawan istana keluar dari lingkungan Gedung Putih. Robert Reich, eks menteri di era pemerintahan Bill Clinton tak ragu menyebut Trump sebagai preman dan tiran atas tindakannya ini.
Tim Presiden terpilih Donald Trump memindahkan ruangan wartawan dari West Wing yang terletak hanya beberapa langkah dari Oval Office (kantor utama Presiden) ke gedung lain di luar bangunan utama Gedung Putih.
Majalah Esquire pada Sabtu lalu, melaporkan, mereka akan dipindahkan ke Old Executive Office Building. Kepala Staf Gedung Putih Reince Priebus beralasan, pemindahan itu untuk "memperluas" ruang wartawan yang dianggap sempit.
Ruang pers saat ini memiliki luas 73 meter persegi dengan sekitar 49 kursi. Sementara saat konpers perdana Trump di New York, wartawan mencapai 250 orang. Jika orang yang terlibat lebih banyak bukan lebih sedikit, bukankah (relokasi) itu hal yang baik?" kata Priebus dalam acara "
This Week" di
ABC.
Senada dengan Priebus, Wakil Presiden terpilih Mike Pence menyebut, langkah ini bertujuan menunjukkan bahwa pemerintahan Trump berkomitmen terhadap transparansi dan kebebasan awak pers untuk bekerja secara independen. "Kepentingan tim adalah untuk memastikan bahwa kami mengakomodasi jumlah media dari seluruh negeri dan di seluruh dunia," kata Pence seperti dilansir dalam acara
CBS "Face the Nation". Ketua Asosiasi Koresponden Gedung Putih, Jeff Mason mengingatkan, upaya untuk menjauhkan Trump dari media akan berakibat buruk.
Mason mengatakan akan berjuang untuk menjaga ruang pers dan akses ke pejabat pemerintahan tetap terbuka. "Akses terhadap staf senior pemerintah di
West Wing, termasuk Kepala Pers, sangat penting untuk transparansi dan membantu jurnalis menjalankan tugas mereka," tegas Mason.
Koresponden Reuters ini menyebut sudah berunding hampir dua jam dengan sekretaris pers Gedung Putih Sean Spicer pada Minggu lalu. Para jurnalis menilai, pemindahan ruang media dari lokasi strategis di West Wing ke bangunan lain di luar bangunan utama Gedung Putih,
Executive Office Building, merupakan cerminan hubungan buruk Trump dengan media yang telah terjadi selama ini.
Menurut Robert Reich, alasan memindahkan ruang wartawan ke tempat lebih besar terdengar masuk akal. Namun dia yakin alasan sebenarnya adalah ruangan yang lebih besar itu nantinya akan diisi oleh wartawan tidak jelas yang berasal dari media pendukung Trump dan staf-staf bayaran. Mereka ada di sana untuk menanyakan pertanyaan yang ingin dijawab oleh Trump dan menyoraki para reporter yang menanyakan pertanyaan kritis ke presiden terpilih ini.
Inilah yang terjadi di konferensi pers perdana Trump pekan lalu. "Itu adalah konferensi pers palsu. Audiensnya kebanyakan adalah staf bayaran Trump yang menyoraki reporter yang kritis dan bertepuk tangan setiap kali Trump mengulang janji kampanyenya," ucap bekas menteri di era Clinton ini seperti dikutip dari blognya,
robertreich.org.
Menurut pria yang kini mengajar di University of California ini, "tiran dan preman seperti Trump tidak akan suka menanggapi pertanyaan terbuka dan membenci kebebasan pers. Inilah eranya Raja Trump," tegas Reich. ***