Berita

Foto/Net

Bisnis

Tren Suku Bunga Rendah Diramal Masih Berlanjut

Pertumbuhan Kredit Hingga Akhir Tahun Di Bawah 10 Persen
SENIN, 16 JANUARI 2017 | 09:22 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Bahana Securities mem­perkirakan, tren suku bunga rendah tahun ini masih berlanjut, menyusul pertumbuhan kredit perbankan yang masih di bawah 10 persen di akhir tahun 2016.

Ekonom Bahana Securities Fakhrul Fulvian melihat, seka­lipun ada risiko dari pergerakan suku bunga The Fed yang nanti­nya akan berpengaruh pada ting­kat volatilitas dolar AS, fenom­ena tersebut sudah diperkirakan oleh pasar dan investor.

Fakhrul mengatakan, rendah­nya serapan kredit berdampak terhadap pertumbuhan ekonomi. Diharapkan, suku bunga rendah ini mampu mendorong konsumsi masyarakat yang menjadi motor penggerak roda perekonomian Indonesia.


Meski pergerakan suku bunga tidak hanya dipengaruhi oleh faktor domestik, tapi ada faktor global yang turut mempengar­uhinya. "Untuk itu, emiten se­harusnya lebih jeli mencermati kesempatan ini. Tahun 2017 ada­lah tahun terakhir suku bunga rendah dan tahun depan, tren suku bunga sudah akan naik," ucap Fakhrul kepada Rakyat Merdeka.

Sejak 2016, meski kondisi perekonomian belum pulih sepenuhnya, beberapa emiten memberanikan diri mencari pendanaan dengan menerbitkan surat utang, atau menerbitkan saham perdana di pasar modal karena pendanaan tidak bisa sep­enuhnya mengandalkan kredit perbankan.

Bahana Securities selama tahun 2016, tambah Fakhrul, menjadi salah satu underwriter yang berhasil mengantarkan beberapa emiten menerbitkan surat utang, di antaranya ada 26 transaksi penawaran umum berkelanjutan.

Ada dua transaksi penerbitan surat utang jangka menengah dan sukuk serta ada tiga transaksi penerbitan surat utang global. Atas transaksi terbesar yang berhasil dibantu Bahana, yakni penerbitan senior bonds PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk senilai Rp 4,65 triliun.

Transaksi tersebut jadi bukti nyata, dalam kondisi pasar yang masih diliputi ketidakpastian, Bahana mampu melihat peluang yang tepat bagi BRI untuk bisa menerbitkan surat utang dengan yield yang pantas.

"Tahun ini, beberapa emiten harus mencari pendanaan untuk menambah modal ekspansi usaha, membayar surat utang (obligasi) jatuh tempo. Bahana memperkirakan jumlah emiten yang akan menerbitkan surat utang pada tahun 2017, akan lebih ramai dibandingkan tahun lalu," katanya.

Tahun ini, Fakhrul bilang, Ba­hana meyakini selisihnya akan cenderung stabil atau mengecil karena tren penurunan suku bunga dan berlanjutnya perbai­kan ekonomi.

Deputi Gubernur Bank In­donesia (BI) Perry Warjiyo mengakui, pelonggaran trans­misi kebijakan moneter yang dilakukan BI melalui jalur suku bunga acuan BI 7-Day Reverse Repo Rate (Repo Rate) belum dijawab secara optimal oleh perbankan.

Hal ini khususnya dalam suku bunga kredit. Perry menyatakan, bank sentral telah menurunkan suku bunga acuan mencapai 150 basis poin atau 1,5 persen sepanjang tahun 2016.

Saat ini, Repo Rate berada pada level 4,75 persen. "Dampak penurunan suku bunga acuan 1,5 persen di sepanjang 2016, itu be­lum optimal khususnya di suku bunga kredit," katanya.

Menurut Perry, setelah bank sentral menurunkan suku bunga acuan pada tahun 2016, respon perbankan belum maksimal. Buktinya, suku bunga kredit baru turun sebesar 67 basis poin atau 0,67 persen.

Meski begitu, ia optimistis bahwa transmisi kebijakan mon­eter melalui jalur suku bunga masih akan terus berlanjut. Masih ada potensi bagi per­bankan untuk menurunkan suku bunga kredit secara bertahap.

"Suku bunga kredit kan baru turun 0,67 persen, masih ada kemungkinan turun dampak dari penurunan 1,5 persen itu lebih terhadap suku bunga kredit lebih lanjut. Transmisi suku bunga kredit akan turun," tuturnya.

Sebelumnya, Gubernur BI Agus Martowardojo mem­perkirakan, penurunan suku bunga kredit bank masih ber­lanjut. Pasalnya, penurunan suku bunga kredit bank relatif masih kecil.

Di tahun 2016, suku bunga deposito turun 137 basis poin. Kemudian, suku bunga kredit hanya turun 67 basis poin. "Hal ini seharusnya jadi perhatian kita. Kredit itu seharusnya masih bisa turun, turun ini tentu setelah bank secara umum stabil," kata Agus. ***

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Langsung Terbang ke Jakarta, Maukah Chatib Basri Ganti Purbaya?

Jumat, 05 Juni 2026 | 06:58

Ironis! Terima Penghargaan Negara tapi Terjerat Korupsi

Jumat, 05 Juni 2026 | 01:00

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

UPDATE

KPU akan Berulang Tahun ke-73 di November Tahun Ini

Minggu, 14 Juni 2026 | 12:22

Nasib Atlet Setelah Lampu Stadion Padam

Minggu, 14 Juni 2026 | 11:33

Trump: Perjanjian Damai dengan Iran akan Diteken Hari Ini

Minggu, 14 Juni 2026 | 11:33

Pemuda 24 Tahun Jadi Tersangka Usai Bawa Botol Diduga Bom Molotov ke Aksi DPR

Minggu, 14 Juni 2026 | 11:25

Ekonom Ungkap Akar Munculnya Narasi "Sell Indonesia"

Minggu, 14 Juni 2026 | 10:41

KPK Bongkar Korupsi "Sempurna" di Muara Enim

Minggu, 14 Juni 2026 | 10:39

Panggung Atraksi Wushu di Sekolah Rakyat Manado Pukau Mensos

Minggu, 14 Juni 2026 | 10:01

Daya Beli Masyarakat Terancam Jika BBM Subsidi Ikut Naik

Minggu, 14 Juni 2026 | 09:51

KPK Amankan Dokumen saat Geledah Kantor Hingga Rumah Dinas Bupati Muara Enim

Minggu, 14 Juni 2026 | 09:44

Menhan Jepang Persembahkan Model Kapal Perang "Makasa" ke Prabowo di Kertanegara

Minggu, 14 Juni 2026 | 09:31

Selengkapnya