Berita

Siti Nurbaya Bakar/Net

Wawancara

WAWANCARA

Siti Nurbaya Bakar: Kami Sudah Berikan Pedoman, Fasilitasi Dan Rambu-rambu Kelanjutan Reklamasi

SENIN, 16 JANUARI 2017 | 09:09 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Menteri Siti mempertanyakan kesigapan Pemprov DKI Jakarta memenuhi syarat kelanjutan pembangunan re­klamasi Teluk Jakarta. Soalnya, Pemprov belum menyer­ahkan Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) untuk proyek tersebut.

Kementerian LHK mem­berikan waktu 120 hari terhitung sejak 26 Desember 2016, atau sejak sanksi terhadap proyek re­klamasi tersebut diperpanjang.

Siti menjelaskan, KLHS merupakan syarat bagi para pengembang untuk membuat anali­sis dampak lingkungan (Amdal) baru. Kata Siti, pembuatan amdal baru itu terbilang cukup rumit, karena harus terinte­grasi dengan Proyek National Capital Integrated Coastal Development (NCICD), atau proyek tanggul raksasa pemerintah pusat.


"Amdal tersebut juga harusmengakomodir kebutuhan ne­layan di Teluk Jakarta. Bagaimana nasibnya pemerintah harus memberikan jaminan yang lebih baik. Kalau nelayan berputar terlalu jauh, harus ada dermaga dia buat nempel di daerah situ," jelasnya.

Pemerintah Pusat sebelumnya telah memutuskan untuk mengh­entikan sementara proyek rekla­masi, termasuk di Teluk Jakarta. Keputusan itu diambil dalam rapat antara Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Sumber Daya Rizal Ramli, Menteri LHK Siti Nurbaya, Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama, serta jajaran Kementerian Kelautan dan Perikanan. Kemudian, oleh Menko Maritim pengganti Rizal, Luhut Pandjaitan, reklamasi itu dilanjutkan. Berikut pernyataan Menteri Siti terkait reklamasi Teluk Jakarta dan pencegahan kebakaran hutan dan lahan (kar­hutla);

Terhadap permintaan agar pemerintah DKI segera me­nyerahkan KLHS?
Responnya positif. Pihak Pemprov DKI Jakarta menyatakan siap untuk mempercepat KLHS. Untuk itu kami berharap kalau bisa cepat (diselesaikan KLHS-nya), ngapain lama-lama. DKI juga kan punya kerjaan banyak, aroma positifnya harus ada un­tuk decision.

Caranya?

Badan Pengelola Lingkungan hidup Daerah (BPLHD) dan Dinas Kebersihan kan sudah bergabung menjadi Dinas ling­kungan hidup dan Kebersihan. Integrasi itu diharapkan bisa mempercepat rentang kendali koordinasi dan langkah-langkah yang lebih teknis.

Terkait permintaan untuk membuat amdal baru ba­gaimana?

Sama, responnya positif. Pemprov DKI Jakarta juga su­dah setuju untuk melakukan su­pervisi terhadap amdal Pulau C, D, dan G yang harus diperbarui. Kementerian LHK sudah mem­berikan rambu-rambu pedoman dan fasilitasi ke Pemprov DKI.

Kenapa sih amdalnya harus diperbarui?
Karena sebelumnya amdal yang digunakan hanya untuk proyek reklamasi, bukan pembangunan di atas pulau reklamasi.

Anda kan meminta agar reklamasi tertintegrasi den­gan proyek tanggul raksasa pemerintah pusat. Ada arahan khusus terkait hal itu?
Tidak ada yang khusus. Tapi tadi kami sudah arahkan agar Pemprov DKIJakarta mem­bangun komunikasi interak­tif dengan Pemda Banten dan Jawa Barat (Jabar). Selain itu juga kami minta agar berkoor­dinasi dengan Bappenas, saat ini proyek tanggul raksasa itu sedang digarap di Bappenas.

Tahun kemarin kan kembali terjadi musibah kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Nah prediksi untuk tahun ini bagaimana?
Prediksinya 2017 lebih buruk dari pada tahun lalu, karena sekarang iklimnya lebih kering.

Daerah mana saja yang palingrawan?
Daerah-daerah seperti Riau, Sumatera Selatan, Jambi, karena punya karakter dua kali musim kemarau dalam satu tahun, yakni akhir Januari-akhir April dan Juni-Oktober. Musim ke­marau harusnya mulai terjadi di akhir Januari ini. Namun, hingga pertengahan Januari ini, musim penghujan belum menunjukan akan berakhir. Jadi kita agak se­lamat di Mei, tapi itu belum juga karena masih nyambung, ya.

Apa yang pemerintah laku­kan guna menghadapinya?
Kami terus melakukan peman­tauan potensi kebakaran hutan. Sejak 31 Desember kemarin, setiap hari kami memantau titik api. Pada tanggal itu, ada api di Kalimantan Tengah, 2 Januari 2017 di Pontianak, dan 8 Januari di Sumatera Barat. Di Sumatera Barat belum mati, hari ini di­beresin karena di daerah terjal.

Tidak ada upaya pencega­han yang bisa dilakukan?

Sejak awal 2016, pemerintah konsisten melaksanakan pro­gram pencegah kebakaran lahan, yakni mengirimkan helikopter berisi air dan modifikasi cuaca.

Selain itu, hingga akhir 2016, pemerintah telah membangun 15.615 sekat kanal, 2.581 embung dan 516 sumur bor demi mence­gah kebakaran lahan. ***

Populer

Jumlah Personel TNI Tidak Masuk Akal

Sabtu, 30 Mei 2026 | 03:36

Penutupan Alfamart dan Indomaret Jangan Salahkan KDKMP

Kamis, 28 Mei 2026 | 06:00

Raksasa Telekomunikasi Ini Bakal Dibubarkan Danantara

Senin, 25 Mei 2026 | 08:33

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Golkar: Jokowi Ikut Tren MBG karena Dekat dengan Dunia Warganet

Senin, 01 Juni 2026 | 13:12

Jawapos TV Tumbang, Televisi dan Radio Daerah Berguguran

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:24

UPDATE

Nicko Widjaja: Investasi ke TaniHub Bukan Kehendak Pribadi

Kamis, 04 Juni 2026 | 22:07

Bos BEI Minta Investor Tidak Panik saat IHSG Anjlok

Kamis, 04 Juni 2026 | 21:57

Di Tengah Gejolak Global, Investor AS Tetap Lirik Peluang di Bali

Kamis, 04 Juni 2026 | 21:56

Pimpinan Baru BGN Fokus Optimalkan MBG ke Daerah 3T

Kamis, 04 Juni 2026 | 21:36

Istana Beri Sinyal Said Iqbal Bakal Masuk Kabinet

Kamis, 04 Juni 2026 | 21:29

Kejagung: Dapur MBG Afiliasi Dadan Cs Tetap Jalan

Kamis, 04 Juni 2026 | 21:22

Legislator PDIP Dorong Kejelasan Skala Prioritas Kurikulum Nasional

Kamis, 04 Juni 2026 | 21:19

Sinergi Polda Sumsel, PTPN IV Optimalkan Sistem Pengamanan Aset Perkebunan

Kamis, 04 Juni 2026 | 21:19

Kepala dan Dua Wakil BGN Baru Dilantik Senin Besok

Kamis, 04 Juni 2026 | 21:17

Sesuai Survei, Kinerja Pertamina Berhasil Jaga Stabilitas Ekonomi Nasional

Kamis, 04 Juni 2026 | 21:13

Selengkapnya