Berita

Foto: ASPI Strategist

Politik

Analis Australia: Jenderal Gatot Nurmantyo Ambisi Ikut Pilpres 2019 dan Membuat Jokowi Tampak Lemah

SABTU, 14 JANUARI 2017 | 10:18 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo dinilai memiliki ambisi untuk ikut dalam pemilihan presiden tahun 2019. Ambisi itu terlihat jelas (apparent).

Demikian antara lain penilaian analis dari lembaga think thank Australia Strategic Policy Institute (ASPI), John McBeth, dalam artikelnya yang berjudul Jokowi and the General di ASPIStrategist.org.au.

Dalam analisanya, McBeth mengaitkan keputusan menghentikan latihan bersama itu dengan ambisi Gatot Nurmantyo menuju kursi RI-1. Penghentian itu dianggap sebagai upaya Gatot untuk meningkatkan popularitas.


Selain itu, Gatot membuat tidak nyaman Jokowi karena memiliki hubungan yang baik dengan kelompok garis keras Front Pembela ISlam (FPI) dan kelompok lainnya yang berada di balik demo besar 411 dan 212 baru-baru ini yang menuntut agar penistaan agama yang dilakukan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok dibawa ke meja hijau.

McBeth mengutip sejumlah informan yang mengatakan bahwa kasus penistaan agama ini dimunculkan untuk melemahkan posisi Jokowi menuju pilpres 2019. Ahok dikenal memiliki hubungan baik dengan Jokowi. Sebelum menjadi Gubernur DKI Jakarta, Ahok mendampingi Jokowi sebagai Wakil Gubernur Jakarta.

Keputusan Gatot Nurmantyo menghentikan latihan bersama dengan Australia disebutkan tidak membuat hubungan Jakarta dan Canberra rusak. Adalah Jokowi dan Menkopolhukam Jenderal (purn) Wiranto dan Menteri Pertahanan Jenderal (purn) Ryamizard Ryacudu yang berhasil meminimalisir dampak dari keputusan Jenderal Gatot itu.

"Aksi Nurmantyo membuat Presiden Jokowi tampak lemah dan tidak efektif," tulis McBeth lagi.

Menurutnya, untuk membalikkan keadaan, Jokowi dapat melakukan hal seperti memberhentikan Gatot. Dan untuk meredam agresifitas kelompok FPI dengan mengaplikasikan tekanan polisi pada Habib Rizieq.

McBeth juga menyoroti pernyataan-pernyataan Jenderal Gatot dalam banyak kesempatan mengenai proxy war atau perang dengan menggunakan kaki tangan. Menurut Gatot, banyak negara di dunia yang cemburu pada Indonesia yang memiliki performa ekonomi yang baik dan sumber daya alam yang berlimpah.

Gatot juga, menurut McBeth dalam analisanya, secara terbuka menyampaikan kecurigaannya pada kehadiran tentara AS di utara Australia yang menurutnya memiliki kaitan dengan keinginan mendapatkan Papua. [dem]

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

Bos Rokok PT Gading Gadjah Mada Dipanggil KPK

Senin, 27 April 2026 | 14:16

Usai Dilantik, Jumhur Tegaskan Status Hukum Bersih dari Vonis 10 Bulan

Senin, 27 April 2026 | 21:08

UPDATE

Pantura Jawa Penyumbang 23-27 Persen PDB Nasional

Senin, 04 Mei 2026 | 16:19

Dari Riau, Menteri LH Dorong Green Policing Go Nasional

Senin, 04 Mei 2026 | 16:18

Purbaya Jawab Santai Sambil 'Geal-Geol' Diisukan Ambruk dan Mau Dipecat

Senin, 04 Mei 2026 | 16:05

Maritim Indonesia di Persimpangan AI

Senin, 04 Mei 2026 | 15:34

BPJS Kesehatan Siap Bangun Kantor Layanan di IKN

Senin, 04 Mei 2026 | 15:32

Imigrasi Tangkap WNA Terlibat Prostitusi Online di Bali

Senin, 04 Mei 2026 | 15:27

Keberpihakan Prabowo ke Ojol Perkuat Keadilan Ekonomi

Senin, 04 Mei 2026 | 15:26

Ade Kunang dan Sang Ayah Didakwa Terima Suap Rp12,4 Miliar

Senin, 04 Mei 2026 | 15:17

Giant Sea Wall Pantura Digarap 20 Tahun, Libatkan Investor dan 23 Kementerian

Senin, 04 Mei 2026 | 14:50

OPEC+ Umumkan Kenaikan Produksi Setelah Ditinggal UEA

Senin, 04 Mei 2026 | 14:45

Selengkapnya