Berita

Politik

Indonesia Bangsa Yang Mulia, Simbol Bhinneka Bukan Penista Agama

SABTU, 07 JANUARI 2017 | 12:47 WIB | OLEH: ARIEF GUNAWAN*

BUKU yang mengemukakan pentingya menjaga kerukunan antar umat beragama dan toleransi sosial, Negara Kertagama, proses penulisannya ternyata sedikit banyak "terinspirasi" oleh terjadinya peristiwa perang besar di Eropa, yaitu Perang Salib.

Perang Salib sendiri berlangsung selama kurang lebih dua abad (1096-1291), tidak berkecamuk secara terus menerus, sebagian besar adalah masa damai, bahkan ada periode kedua belah pihak yang berperang hidup saling berdampingan.

Negara Kertagama sendiri baru selesai ditulis oleh Empu Prapanca pada sekitar tahun 1365.


Prapanca yang cendikiawan, pujangga, dan pejabat tinggi kepercayaan Raja Hayam Wuruk dikisahkan banyak menerima kabar atau cerita mengenai adanya perang besar tersebut dari para pendatang yang berlabuh di Majapahit, yang berasal dari berbagai kalangan dan berlayar dari berbagai negeri.

Selain Empu Prapanca, Empu Tantular juga menulis sebuah buku lainnya yang juga tidak kalah terkenal, Kitab Sutasoma, yang di dalamnya terdapat bait yang kemudian jadi motto nasional NKRI, Bhinneka Tunggal Ika...

Intinya juga mengajarkan kerukunan antar umat beragama dan sikap toleransi dalam berbagai perbedaan yang ada.

Jadi, nenek moyang orang Indonesia bukan hanya terkenal rajin dan pekerja keras karena suka membangun candi dimana-mana dan berlayar ke berbagai belahan dunia, tetapi juga punya tokoh-tokoh futuristik yang pemikirannya mampu melampaui zaman. Pemimpin-pemimpin yang punya kemampuan intuitif, yang dengan kekuasaan di tangannya menebarkan kebaikan, yang dengan pengaruh dari mulutnya tak pernah muncrat kata-kata makian, kebencian, dan penistaan terhadap agama..

Waktu Panitia Persiapan Kemerdekaan merumuskan dasar negara Indonesia, Bhinneka Tunggal Ika disematkan dalam lambang negara Garuda Pancasila. Para founding fathers yang berasal dari berbagai suku, etnis, agama, profesi, dan afiliasi politik itu kembali memberikan contoh bagaimana bersikap toleran, rendah hati, dan mengedepankan sikap kenegarawanan untuk tercapainya persatuan dan kesatuan Indonesia, atas dasar saling menghormati, termasuk saling menghormati antar pemeluk agama dengan tidak menistakannya.

Mochtar Lubis wartawan ideal, sastrawan, dan pejuang yang terhormat, di dalam bukunya "Manusia Indonesia Sebuah Pertanggungjawaban" menyebut orang Indonesia umumnya punya daya sinkretis yang besar. Semua yang lama dan baru kita terima, dan dapat hidup berdampingan bersama di dalam jiwa kita.

Bangsa ini tidak akan hancur oleh karena alamnya yang rawan bencana, tidak akan punah oleh karena perbedaan-perbedaan tradisi dan budayanya, tetapi justru dapat musnah oleh karena ulah elitenya, dan sejarah keruntuhan kerajaan-kerjaaan di Nusantara telah banyak membuktikan hal ini.

Esensinya adalah terletak kepada manusianya yang menjadi elite atau yang menjadi penguasa.

Aristoteles di dalam bukunya, "Politics" menyebut, kalau seorang manusia dididik secara baik, ia binatang terbaik di dunia, tetapi kalau kurang didikan dan tidak mau tunduk kepada hukum dan keadilan, maka dia adalah binatang yang terburuk di dunia.

Manusia yang tidak taat kepada hukum, tidak mempedulikan keadilan, tidak memiliki toleransi, dan tidak memiliki hati nurani yang bersih adalah sangat berbahaya, manusia seperti itu adalah yang terbuas di antara binatang-binatang buas di dunia ini, dengan nafsu-nafsunya dan kerakusan-kerakusannya.

Dalam konteks keindonesiaan manusia dengan tabiat seperti itu pada dasarnya adalah perusak kebhinnekaan. Jangan malah dijadikan simbol. Jangan sampai semua nilai-nilai mulia dan nilai-nilai luhur bangsa ini hanya menjadi historical irrelevance belaka, akibat pemutarbalikan fakta dan plintiran opini yang menyesatkan yang didukung oleh kekuatan finansial besar para taipan yang menjadikan negeri ini sekarang Negara Mangsa untuk kepentingan mereka. [***]

Penulis adalah wartawan senior Rakyat Merdeka


Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

UPDATE

Beruang di Istana

Kamis, 30 April 2026 | 12:14

Rincian 13 Proyek Hilirisasi Bernilai Rp116 Triliun yang Baru Diresmikan Prabowo

Kamis, 30 April 2026 | 11:56

KPK Periksa Pejabat Pemkot Madiun dalam Kasus Dugaan Pemerasan Wali Kota Maidi

Kamis, 30 April 2026 | 11:43

Menteri PPPA Disorot Usai Minta Maaf, Dinilai Perlu Tingkatkan Sensitivitas dan Komunikasi Publik

Kamis, 30 April 2026 | 11:27

Arab Saudi Beri Asuransi Khusus Risiko Panas Saat Puncak Haji

Kamis, 30 April 2026 | 11:06

Bangkit dari Kubur! Friendster Sang Pelopor Medsos Resmi Kembali di 2026

Kamis, 30 April 2026 | 11:05

Hasil Komunikasi Dasco dengan Presiden Prabowo, Pemerintah Siapkan Rp 4 Triliun Perbaiki Perlintasan Kereta Api

Kamis, 30 April 2026 | 11:02

Harga Emas Antam Ambruk ke Rp2,7 Juta per Gram di Akhir Bulan

Kamis, 30 April 2026 | 10:50

Suami Bupati Pekalongan Dicecar KPK soal Aliran Uang Perusahaan Keluarga

Kamis, 30 April 2026 | 10:45

Prabowo Dijadwalkan Hadiri Puncak Hari Buruh di Monas Besok

Kamis, 30 April 2026 | 10:28

Selengkapnya