Berita

Ilustrasi/Net

Politik

Tim Ekonomi Sasaran Utama Reshuffle?

KAMIS, 05 JANUARI 2017 | 03:51 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Presiden Joko Widodo baru-baru ini memberikan sinyalemen bahwa dirinya tidak akan mengocok ulang susunan Kabinet Kerja yang dipimpinnya dalam waktu dekat. Di sisi lain, pembicaraan mengenai kocok ulang kabinet semakin marak di tengah masyarakat, khususnya pemerhati politik.

Menurut informasi yang diperoleh redaksi dari perbincangan dengan berbagai kalangan pemerhati politik, bukan tidak mungkin sasaran utama dari reshuffle kali ini adalah tim ekonomi.

Tim ekonomi yang sekarang terkesan lambat memberikan respon yang pas untuk berbagai persoalan yang lebih substansial. Misalnya, riset yang dilakukan JP Morgan dianggap sebagai "serangan" terhadap stabilitas sistem keuangan nasional, disusul keputusan menghentikan hubungan kemitraan dengan lembaga keuangan terbesar di Amerika Serikat itu.


Keputusan ini dianggap sebagai kegagalan tim ekonomi, khususnya Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam memahami situasi sebenarnya dari sistem keuangan nasional. Atau, bisa jadi karena ingin mengingkari. Juga dianggap sebagai kegagalan dalam memahami tingkat keseriusan riset JP Morgan itu sampai-sampai pihak Kementerian Keuangan mengatakan riset itu tidak berdasar dan tidak akurat serta tidak kredibel.

Di tengah berbagai persoalan dan ketegangan yang terjadi, yang memberikan dampak dan tekanan terhadap perekonomian nasional, pendekatan yang dipilih Menkeu Sri Mulyani untuk memecat JP Morgan terbilang aneh.

Bukankah, sebagai sosok yang pernah malang melintang di IMF dan Bank Dunia, seharusnya Sri Mulyani memiliki kemampuan dalam menjalin komunikasi dengan lembaga-lembaga keuangan besar dari blok AS?

Di lain hal, apa pun keputusan Kemenkeu RI masyarakat internasional rasa-rasanya tetap lebih mempercayai riset JP Morgan dibandingkan dengan kemampuan Indonesia memperkuat fundamental ekonomi di tengah bayang-bayang krisis yang sedemikian rupa. Buktinya, setelah peringakat surat utang Indonesia diturunkan, pemerintah berusaha mendapatkan pemasukan dari kenaikan berbagai harga.

Walhasil, keputusan Kemenkeu dinilai sebagai keputusan yang emosional. Bagaimana mungkin Kemenkeu menciptakan konflik baru dengan lembaga pemeringkat surat utang yang selama ini sangat dipercaya pemerintah Indonesia. [dem]

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Ganti Rugi Lahan Belum Tuntas, Warga Medan Polisikan Developer

Minggu, 07 Juni 2026 | 01:40

iPhone Raffi Ahmad Dikirim dari AS Tanpa Disebut dalam Dokumen

Selasa, 09 Juni 2026 | 00:01

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

UPDATE

Dialog BEM di Makassar: Gerakan Mahasiswa Harus Independen dan Berbasis Data

Rabu, 17 Juni 2026 | 20:17

DPR Apresiasi Perbaikan Haji di Era Prabowo, Antrean Jemaah Turun Jadi 26 Tahun

Rabu, 17 Juni 2026 | 20:14

KPK Soroti Nama Besar yang Muncul dalam Persidangan Kasus Bea Cukai

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:59

Polri Serius Garap Universitas Kepolisian yang Bisa Diakses Masyarakat Umum

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:42

Tiyo Ardianto dan Tradisi Panjang Anak Rakyat dalam Sejarah Pergerakan Indonesia

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:33

RUU Perkoperasian Buka Jalan Koperasi Jadi Soko Guru Perekonomian

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:25

Masyarakat Kemuning Ngadu ke BAM DPR soal Klaim Kawasan Hutan

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:21

FPHI Ultimatum OJK, Minta Kejelasan Laporan Keuangan Danantara

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:10

KPK Tagih Perbaikan Sistem MBG di Era Kepala BGN Baru

Rabu, 17 Juni 2026 | 18:56

Kinerja Bertumbuh, Pelindo Setor Rp7,81 Triliun kepada Negara

Rabu, 17 Juni 2026 | 18:50

Selengkapnya