Berita

Tuan Guru HM Zainul Majdi/Net

Wawancara

WAWANCARA

Tuan Guru HM Zainul Majdi: Kita Akan Tangkapin Bandar-bandar Pelaku Penggundulan Hutan Di Bima...

SELASA, 03 JANUARI 2017 | 10:00 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

TGH M Zainul Majdi mengapre­siasi perhatian dari pemerintah pusat untuk bencana banjir bandang di Kota Bima. Upaya tang­gap darurat yang akan berakhir pada 5 Januari mendatang di­akuinya sudah dilakukan dengan sangat terkonsolidasi.

"Nah nanti pasca-tanggap darurat, upaya rehabilitasi juga akan lebih bagus. Insya Allah, mudah-mudahan," harapnya.

Ke depan, ia berjanji akan mengambil langkah represif terhadap cukong di balik aksi penggundulan hutan di wilayah­nya. Karena berdasarkan laporan dari sejumlah pihak, penyebab banjir dahsyat yang belum lama ini melanda salah satu kota di wilayahnya itu adalah karena adanya penggundulan hutan yang secara masif oleh pihak tertentu. Berikut kutipan seleng­kapnya;


Kajian Anda, faktor apa sebenarnya yang menyebab­kan terjadinya bencana banjir bandang ini?
Itu sebenarnya bagaimana kesesuaian. Kesesuaian antara pembangunan dengan tata ruang misalnya. Jadi apakah ada hal-hal di tata ruang itu yang belum terimplementasikan dengan baik. Kawasan-kawasan yang meru­pakan serapan, apakah masih terjaga atau tidak. Kemudian, lebih jauh dari itu ya kita menga­mankan hutan kita.

Kenapa dengan hutannya?
Karena, saya dapat infor­masi Pak Danrem (Komandan Korem) kemarin keliling pakai helikopter, itu di bagian atas di hulu, daerah Mawu itu hampir rata penggundulan hutannya.

Lalu?
Jadi, itu kan kombinasi dari semua ya. Geografis Bima ini letaknya di muara, curah hujan yang sangat tinggi.

Dan juga ada penggundulan hutan yang masif. Sehingga daerah resapan itu habis.

Apa akan dilakukan inves­tigasi, siapa cukong di balik penggundulan hutan?

Investigasi dalam makna in­trospeksi iya. Tetapi di mana pun bencana kayak begini kan tidak perlu saling salah-menyalahkan. Namun, karena salah satu in­dikasi sebab utamanya itu adalah penggundulan hutan, ya tentu tindakan represif untuk menindak para pelaku illegal logging.

Tindakan represif seperti apa itu konkretnya?
Saya pikir kita punya Polhut, Kepolisian, TNI, ya kita beresin rame-rame. Tangkap-tangkapin bandar-bandarnya. Masukin penjara.

Di awal-awal kejadian, ban­yak keluhan masyarakat atas lambatnya penanganan dari pemerintah?
Ya memang, ini bencana baru tumben terjadi. Seumur-umur ada terjadi di kota Bima. Jadi semua pihak, walaupun secara teori kita sudah diajari simulasi dan segala macam, tapi begitu kejadian kita kaget semuanya.

Ini masif sekali, mungkin di dalam distribusi bantuan itu tidak serta merta dilaksanakan dengan solid, ada kekurangan-kekurangan.

Tapi terus dibenahi. Pak Danrem di sini selalu standby, dari tanggal 22 (Desember), jadi beliau terus memimpin, termasuk distribusi bantuan.

Tanggap darurat kabarnya berakhir sampai 5 Januari nanti, apa yang harus dilaku­kan?
Tanggap darurat sampai tang­gal 5 Januari, jadi dari sekarang ke tanggal 5 itu terus kita tingkat­kan kapasitas untuk memberikan bantuan. Mudah-mudahanlah semua bisa tertangani ya.

Sejauh ini bantuan dari pe­merintah pusat bagaimana?
Perhatian dari pemimpin nasional itu besar sekali. Insya Allah, dengan demikian upaya kita untuk tanggap darurat akan lebih terkonsolidasi. Nah nanti pasca-tanggap darurat, upaya rehabilitasi juga akan lebih bagus. Insya Allah, mudah-mudahan.

Terakhir, pesan Anda untuk warga Bima?

Yang paling utama, sikapi dengan sabar. Sabar itu adalah untuk ketahanan fisik kita, ke­tahanan mental, saling meng­ingatkan. Jangan sampai dalam situasi seperti ini kita saling salah menyalahkan.

Ada kekurangan misalnya dalam distribusi, atau makanan kurang sesuai dengan harapan ya kita terus perbaiki. Tapi intinya, yakinlah bahwa pemerintah itu sungguh-sungguh bekerja untuk menangani itu. ***

Populer

Dosen Unikama Kecewa, Lima Bulan Kampus Dikuasai Kelompok Tak Dikenal

Jumat, 30 Januari 2026 | 02:25

Kasus Hogi Minaya Dihentikan, Komisi Hukum DPR: Tak Penuhi Unsur Pidana

Rabu, 28 Januari 2026 | 17:07

Hologram di Ijazah UGM Jadi Kuncian Mati, Jokowi Nyerah Saja!

Senin, 26 Januari 2026 | 00:29

Wanita di Medan Terima Vonis 2 Tahun Usai Gunakan Data Orang Lain untuk Pengajuan Kredit

Jumat, 30 Januari 2026 | 16:50

Jokowi Butuh Perawatan Kesehatan Super Intensif

Jumat, 30 Januari 2026 | 00:41

Rektor UGM Bikin Bingung, Jokowi Lulus Dua Kali?

Rabu, 28 Januari 2026 | 22:51

KPK Amankan Dokumen dan BBE saat Geledah Kantor Dinas Perkim Pemkot Madiun

Rabu, 28 Januari 2026 | 11:15

UPDATE

TNI AU Bersama RCAF Kupas Konsep Keselamatan Penerbang

Rabu, 04 Februari 2026 | 02:04

Jokowi Dianggap Justru Bikin Pengaruh Buruk Bagi PSI

Rabu, 04 Februari 2026 | 01:45

Besok Jumat Pandji Diperiksa Polisi soal Materi Mens Rea

Rabu, 04 Februari 2026 | 01:28

Penguatan Bawaslu dan KPU Mendesak untuk Pemilu 2029

Rabu, 04 Februari 2026 | 01:17

Musorprov Ke-XIII KONI DKI Diharapkan Berjalan Tertib dan Lancar

Rabu, 04 Februari 2026 | 00:56

Polisi Tetapkan Empat Tersangka Penganiaya Banser, Termasuk Habib Bahar

Rabu, 04 Februari 2026 | 00:41

DPR Minta KKP Bantu VMS ke Nelayan Demi Genjot PNBP

Rabu, 04 Februari 2026 | 00:17

Kejagung Harus Usut Tuntas Tipihut Era Siti Nurbaya

Selasa, 03 Februari 2026 | 23:49

Begini Alur Terbitnya Red Notice Riza Chalid dari Interpol

Selasa, 03 Februari 2026 | 23:25

Penerapan Notaris Siber Tak Optimal Gegara Terganjal Regulasi

Selasa, 03 Februari 2026 | 23:11

Selengkapnya