Berita

Foto/Net

Hukum

Orang Gila Di Jakarta Semakin Menggila

SELASA, 03 JANUARI 2017 | 09:20 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Coretan dinding bernada penghinaan terhadap Presiden Jokowi dan Kapolri Jenderal Tito Karnavian di Kolong Tol Kebon Baru, Cilincing, Jakarta Utara membuat resah. Pelaku akhirnya ditangkap dan ternyata memiliki gangguan jiwa. Aduh, orang gila di Jakarta semakin gila saja...

Pencoret itu bernama Jamil Adil. Pria berusia 49 tahun itu diciduk polisi tidak jauh dari lokasi dia membuat mural bernada menghina. Tiang-tiang flyover dia tulis dengan kata-kata provokatif seperti "Jokowi An**** dan Kapolri ***".

Nah, tidak sulit menebak siapa yang menulis menggunakan cat semprot itu. Pasalnya, di coretan dinding itu juga tertulis identitas penulis, "Jamil teroris ISIS". Pencoret pun terkesan eksis dengan menulis identitas, "Jamil Adil Keb. Baru". Langsung saja polisi memburu Jamil Adil, dimulai dari lokasi coretan itu berada.


Diketahui, coretan sudah ada sejak Kamis (29/12), dini hari. Esok harinya, polisi melakukan penelusuran. Singkat cerita, Jamil diciduk tidak jauh dari tulisan yang dia tulis. Penciduknya adalah jajaran Polres Jakarta Utara. Jamil pun dibawa ke kantor polisi untuk diperiksa. Hasilnya, Jamil diduga kuat sedang mengalami gangguan jiwa. Namun atas perbuatannya, dia tetap mendapat ancaman hukuman penjara.

"Tersangka Jamil Adil yang menulis di tiang dan di dinding Kolong Tol Kebon Baru serta kontainer," kata Kapolres Jakarta Utara, Kombes Awal Chairuddin, Jumat (30/12).

"(Pelaku) sudah dijerat dengan pasal 207 KUHPidana tentang penghinaan, dihukum selama 1 tahun 6 bulan penjara," tambahnya.

Kapolsek Cilincing, Kompol Ali Yuzron menceritakan tentang gangguan jiwa yang diduga dialami Jamil. Menurutnya, Jamil tidak nyambung saat ditanya apa maksud tulisan itu, sekaligus apa itu ISIS yang dia tulis kalau dia adalah teroris ISIS.

"Kita sempat mintakan keterangan dia (Jamil) apa tuh maksudnya tulis-tulis di Kolong Tol, dengan kalimat seperti itu. Si Jamil bilang ke anggota itu, saya nggak tahu pak, kata dia," ujar Yuzron, kepada wartawan di Jakarta, Jumat (30/12).

Tapi, dia mengaku yang menulis kalimat-kalimat kotor yang diperuntukkan Presiden dan Kapolri di Kolong Tol itu. Kita tanya lagi, apa maksudnya menulis begitu. Dia malah menjawab 'Nggak tahu saya pak'. "Dia jawabnya juga sambil senyum-senyum saja. Diduga, pria ini ada gangguan pada kejiwaannya," kata Yusron.

Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Utara, AKBP Yuldi Yuswan membenarkan ada dugaan Jamil mengalami gangguan jiwa. Tetapi, pihaknya sampai saat ini masih melakukan penyelidikan dan mendalami kasus yang dilakukan oleh Jamil.

"Jamil kini sudah dibui dan dilakukan pemeriksaan mendalam di Polres Metro Jakarta Utara. Belum diketahui apakah pria ini memang pura-pura jadi orang gila, apa memang gila beneran. Ini masih diselidiki. Tapi, memang Jamil pelaku yang menghina Bapak Presiden dan Bapak Kapolri, yang oleh dia ditulis dengan mencoret-coret tiang, dinding Kolong Tol Kebon Baru dan peti kemas. Bahkan, dia juga mengaku-ngaku kalau dia itu anggota ISIS," jelasnya.

Menanggapi ini, sosiolog senior dari Universitas Indonesia, Prof Musni Umar menganalisa. Dia menyebut fenomena ini sebagai kacamata sumber daya manusia di Indonesia. Dan sebaiknya pemerintah tidak reaktif menanggapi peristiwa ini.

"Iya, orang gila semakin gila saja. Tapi sudahlah, dihapus saja tulisan itu dan pelakunya dibebaskan," ujar Musni kepada Rakyat Merdeka, semalam.

Menurut Umar, sekalipun yang menulis terkategori memiliki gangguan jiwa, tetapi ini adalah representasi rakyat atas minimnya pembangunan sumber daya manusia. Baginya, sejak Orde Baru hingga saat ini, pembangunan masih terfokus pada fisik saja, bukan manusianya.

"Bisa saja dia stres karena mahalnya sembako dan menyalahkan pemerintah. Ini bukan mencari siapa yang salah, mari kita benahi bersama bangsa ini," katanya.

Umar menyarankan, sebaiknya pemerintah tidak tipis kuping mendapat kritikan dari masyarakat. Pasalnya, saat ini adalah era digital dan banyak orang menulis di media sosial, termasuk cara lama menyampaikan aspirasi dengan coretan dinding.

"Era dahulu dan sekarang beda. Sekarang harus tebal telinga. Masyarakat dipandu saja mengkritik dengan cara yang baik dan benar," pungkasnya. ***

Populer

Jumlah Personel TNI Tidak Masuk Akal

Sabtu, 30 Mei 2026 | 03:36

Penutupan Alfamart dan Indomaret Jangan Salahkan KDKMP

Kamis, 28 Mei 2026 | 06:00

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Golkar: Jokowi Ikut Tren MBG karena Dekat dengan Dunia Warganet

Senin, 01 Juni 2026 | 13:12

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

Raksasa Telekomunikasi Ini Bakal Dibubarkan Danantara

Senin, 25 Mei 2026 | 08:33

UPDATE

Nicko Widjaja: Investasi ke TaniHub Bukan Kehendak Pribadi

Kamis, 04 Juni 2026 | 22:07

Bos BEI Minta Investor Tidak Panik saat IHSG Anjlok

Kamis, 04 Juni 2026 | 21:57

Di Tengah Gejolak Global, Investor AS Tetap Lirik Peluang di Bali

Kamis, 04 Juni 2026 | 21:56

Pimpinan Baru BGN Fokus Optimalkan MBG ke Daerah 3T

Kamis, 04 Juni 2026 | 21:36

Istana Beri Sinyal Said Iqbal Bakal Masuk Kabinet

Kamis, 04 Juni 2026 | 21:29

Kejagung: Dapur MBG Afiliasi Dadan Cs Tetap Jalan

Kamis, 04 Juni 2026 | 21:22

Legislator PDIP Dorong Kejelasan Skala Prioritas Kurikulum Nasional

Kamis, 04 Juni 2026 | 21:19

Sinergi Polda Sumsel, PTPN IV Optimalkan Sistem Pengamanan Aset Perkebunan

Kamis, 04 Juni 2026 | 21:19

Kepala dan Dua Wakil BGN Baru Dilantik Senin Besok

Kamis, 04 Juni 2026 | 21:17

Sesuai Survei, Kinerja Pertamina Berhasil Jaga Stabilitas Ekonomi Nasional

Kamis, 04 Juni 2026 | 21:13

Selengkapnya