Berita

Rizal Ramli/Net

Politik

Rizal Ramli: Nama Baik Gus Dur Harus Dibersihkan dari Ahok

SELASA, 03 JANUARI 2017 | 08:49 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Tidak sedikit anggota masyarakat, juga kalangan pengamat dari luar, yang memberikan cap kepada Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok sebagai simbol kebhinnekaan dan toleransi.

Cap itu tidak pantas, karena yang dilakukan Ahok adalah sebaliknya, yakni merusak kebhinnekaan dan mengganggu toleransi baik dengan kata-kata kasar yang keluar dari mulutnya, maupun lewat kebijakan pembangunan yang membelah masyarakat.  Ahok sangat jelas terlihat membela kepentingan satu kelompok dan meminggirkan rakyat banyak demi memenangkan kepentingan satu kelompok itu.

Demikian dikatakan tokoh nasional DR. Rizal Ramli dalam diskusi terbatas menyambut tahun baru 2017 di kediamannya di Jalan Bangka, Jakarta Selatan, Senin petang (2/1).


Rizal kembali mengulangi pesan yang disampaikannya dalam peringatan wafat Abdurrahman Wahid alias Gus Dur baru-baru ini, bahwa ada upaya untuk menyamakan Ahok dengan Gus Dur.

"Benar bahwa Gus Dur membela minoritas. Tetapi minoritas yang dibela Gus Dur adalah minoritas yang tertindas. Gus Dur tidak akan pernah membela penindas, walaupun si penindas itu dari kalangan minoritas," ujar Rizal Ramli yang memainkan peranan penting dalam pemerintahan Gus Dur.

"Nama baik Gus Dur harus kita bersihkan dari tindakan-tindakan Ahok yang menciderai kebhinnekaan, rasa kebangsaan dan mengganggu toleransi," kata Rizal lagi.

Rizal Ramli juga prihatin karena kasus penistaan agama yang dilakukan Ahok ini telah menguras energi bangsa dan pemerintahan Joko Widodo yang sedang menghadapi berbagai persoalan yang jauh lebih pelik dari sekadar urusan Ahok.

"Sebetulnya masalah Ahok ini mudah diselesaikan. Semua penista agama ditangkap. Maka kalau Ahok ditangkap dan ditahan, seperti yang lainnya, energi bangsa bisa kita hemat untuk fokus pada urusan-urusan yang lebih penting," demikian mantan Menko Kemaritiman dan Sumber Daya ini. [dem]

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Ganti Rugi Lahan Belum Tuntas, Warga Medan Polisikan Developer

Minggu, 07 Juni 2026 | 01:40

iPhone Raffi Ahmad Dikirim dari AS Tanpa Disebut dalam Dokumen

Selasa, 09 Juni 2026 | 00:01

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

UPDATE

Dialog BEM di Makassar: Gerakan Mahasiswa Harus Independen dan Berbasis Data

Rabu, 17 Juni 2026 | 20:17

DPR Apresiasi Perbaikan Haji di Era Prabowo, Antrean Jemaah Turun Jadi 26 Tahun

Rabu, 17 Juni 2026 | 20:14

KPK Soroti Nama Besar yang Muncul dalam Persidangan Kasus Bea Cukai

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:59

Polri Serius Garap Universitas Kepolisian yang Bisa Diakses Masyarakat Umum

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:42

Tiyo Ardianto dan Tradisi Panjang Anak Rakyat dalam Sejarah Pergerakan Indonesia

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:33

RUU Perkoperasian Buka Jalan Koperasi Jadi Soko Guru Perekonomian

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:25

Masyarakat Kemuning Ngadu ke BAM DPR soal Klaim Kawasan Hutan

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:21

FPHI Ultimatum OJK, Minta Kejelasan Laporan Keuangan Danantara

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:10

KPK Tagih Perbaikan Sistem MBG di Era Kepala BGN Baru

Rabu, 17 Juni 2026 | 18:56

Kinerja Bertumbuh, Pelindo Setor Rp7,81 Triliun kepada Negara

Rabu, 17 Juni 2026 | 18:50

Selengkapnya