Berita

Publika

Pekerja China Atau Wisatawan Asal China

JUMAT, 30 DESEMBER 2016 | 22:58 WIB

PUBLIK kembali digegerkan dengan isu membanjirnya Tenaga Kerja Asing (TKA) yang berasal dari Tiongkok. Hal yang wajar jika publik merasa resah dengan berita ini, karena jika ini benar, akan membuat masyarakat Indonesia semakin kesulitan dalam memperoleh lapangan kerja di negaranya sendiri.

Hal ini juga akan menimbulkan sebuah opini bahwa negara lebih memilih tenaga kerja asing daripada rakyatnya sendiri. Dengan begitu dapat disimpulkan bahwa negara tidak menghendaki masyarakatnya sejahtera, melainkan lebih memilih untuk mensejahterakan masyarakat dari negara lain.

Namun Presiden Joko Widodo (Jokowi) menepis isu mengenai 10 juta - 20 juta pekerja Tiongkok yang masuk menyerbu Indonesia. Dia menegaskan bahwa angka ini bukanlah jumlah pekerja, melainkan jumlah target wisatawan dari Tiongkok yang diharapkan akan datang berkunjung ke Indonesia.


Alasannya adalah karena pemerintah memang sedang gencar berupaya untuk menjadikan pariwisata sebagai sektor andalan negara. Sejumlah langkah pun dilakukan dan dikebut untuk meningkatkan jumlah wisatawan asing berkunjung ke Indonesia, termasuk dari Tiongkok.

sebelumnya, langkah tersebut telah diusahakan sejak kunjungan Presiden jokowi ke Tiongkok pada Maret 2015 silam. Saat itu salah satu pembahasannya adalah mengenai kerja sama pariwisata agar terjadi peningkatan jumlah wisatawan Tiongkok ke Indonesia.

Mantan Ketua DPR-RI Ade Komarudin (Akom)mempunyai tanggapan lain mengenai isu tentang TKA asal Tiongkok di Indonesia. Ia beranggapan bahwa memang benar adanya pekerja asal Tiongkok yang cukup besar di Indonesia. Namun ia mengatakan tidak memiliki data pastinya.
Kebijakan jokowi terkait bebas visa kemudian menjadi sorotan, banyak yang mengtaakan bahwa masuknya para tenaga kerja asing ini disebabkan dari kebijakan tersebut. Namun Jokowi mengatakan bahwa, kebijakan bebas visa hanya berlaku untuk kepentingan turis bukan pekerja.

Beda persepsi antar kedua lembaga negara ini kemudian menimbulkan opini bahwa ada semacam sesuatu hal yang tidak deal antara eksekutif dan legislative. Maka kemudian keduanya saling melempar argument ke publik melalui media. Disinilah kemudian masyarakat akan menjadi hakim dan memutuskan mana yang sejatinya benar.
Namun kemudian yang jadi masalah dalam masyarakat kita adalah, ia akan membela seorang tokoh terserah mau itu salah atau benar.

Hal ini dikarenakan minimnya atau bahkan tidak adanya pendidikan politik yang baik yang dilakukan pemerintah. Bahkan partai politik yang memiliki tugas dan fungsi tersebut, sangat minim dalam memberikan pendidikan politik terhadap masyarakat luas. Ditambah lagi arus media yang begitu hebat, maka argument siapa yang paling massif itu lah kemudian yang dianggap benar.

Harusnya, pemerintah merespon hal ini dengan cepat. Mengumpulkan para pejabat terkait untuk membuat sebuah pengumuman resmi. Hal ini penting menurut saya, mengingat begitu majemuknya bangsa kita juga karena kejadian politik belakangan sangat memungkinkan untuk semakin menumbuh suburkan kebencian antar warga terkhusus kepada warga negara Indonesia keturunan tionghoa.

Tapi jika kita melihat dari kacamata kepentingan modal, massifnya isu soal Tiongkok sangat diwajarkan karena memang negeri tirai bambu ini mengalami kenaikan yang cukup signifikan dalam hal investasinya di Indonesia. Namun yang merajai masih tetap Singapura dan Jepang.

Kita juga bisa melihat kepentingan Amerika Serikat di papu yang sampai saat ini juga belum mendapatkan kejelasan, apakah akan diperpanjang atau tidak. Ada semacam kecemburuan, karena AS yang sebelumnya selalu diprioritaskan, di era Jokowi agak dianaktirikan.

Secara historis, Isu Tiongkok juga sangat mudah untuk menjadi viral di masyarakat kita. Karena memang negara China atau Tiongkok ini adalah Negara yang menganut paham komunis. Sedangkan komunis adalah hal yang sensitive didalam masyarakat kita. Ditambah lagi beberapa kasus seperti narkoba yang berasal dari Tiongkok hingga konflik natuna serta Laut China Selatan yang belakangan terjadi.

Maka hal pentingnya menurut saya, justru terletak pada jangan sampai kita sebagai masyarakat hanya dimanfaatkan oleh kepentingan para elit saja. Kita harus benar-benar memahami permasalahan pokoknya. Percuma juga jika kita sudah mati-matian menolak China, tapi modal atau investor dari negara lain tetap menghegemoni bangsa ini. Pada akhirnya, kita sebagai masyarakat tidak mendapatkan apa-apa kecuali kesulitan mencari kerja, tetap tidak mampu mengakses pendidikan dan kesehatan juga upah yang kian hari kian mencekik.[***]


Arif Hidayatullah

Sekjend Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi


Populer

Mantan Jubir KPK Tessa Mahardhika Lolos Tiga Besar Calon Direktur Penyelidikan KPK

Rabu, 24 Desember 2025 | 07:26

Kejagung Copot Kajari Kabupaten Tangerang Afrillyanna Purba, Diganti Fajar Gurindro

Kamis, 25 Desember 2025 | 21:48

Sarjan Diduga Terima Proyek Ratusan Miliar dari Bupati Bekasi Sebelum Ade Kuswara

Jumat, 26 Desember 2025 | 14:06

Mantan Wamenaker Noel Ebenezer Rayakan Natal Bersama Istri di Rutan KPK

Kamis, 25 Desember 2025 | 15:01

8 Jenderal TNI AD Pensiun Jelang Pergantian Tahun 2026, Ini Daftarnya

Rabu, 24 Desember 2025 | 21:17

Connie Nilai Istilah Sabotase KSAD Berpotensi Bangun Framing Ancaman di Tengah Bencana

Rabu, 31 Desember 2025 | 13:37

Camat Madiun Minta Maaf Usai Bubarkan Bedah Buku ‘Reset Indonesia’

Selasa, 23 Desember 2025 | 04:16

UPDATE

Komisi III DPR Sambut KUHP dan KUHAP Baru dengan Sukacita

Jumat, 02 Januari 2026 | 14:12

Bea Keluar Batu Bara Langkah Korektif Agar Negara Tak Terus Tekor

Jumat, 02 Januari 2026 | 14:08

Prabowo Dua Kali Absen Pembukaan Bursa, Ini Kata Purbaya

Jumat, 02 Januari 2026 | 14:07

Polri Susun Format Penyidikan Sesuai KUHP dan KUHAP Baru

Jumat, 02 Januari 2026 | 14:06

Koalisi Permanen Mustahil Terbentuk

Jumat, 02 Januari 2026 | 14:01

Polri-Kejagung Jalankan KUHP dan KUHAP Baru Sejak Pukul 00.01 WIB

Jumat, 02 Januari 2026 | 13:58

Tutup Akhir Tahun 2025 DPRD Kota Bogor Tetapkan Dua Perda

Jumat, 02 Januari 2026 | 13:46

Presiden Prabowo Harus Segera Ganti Menteri yang Tak Maksimal

Jumat, 02 Januari 2026 | 13:42

Bitcoin Bangkit ke Level 88.600 Dolar AS

Jumat, 02 Januari 2026 | 13:41

Berjualan di Atas Lumpur

Jumat, 02 Januari 2026 | 13:41

Selengkapnya