Berita

Indah Damayanti Putri/Net

Wawancara

Indah Damayanti Putri: Ngoho Masih Favorit, Mudah-mudahan Dengan Pencetakan Sawah, Masyarakat Bisa Berubah

KAMIS, 29 DESEMBER 2016 | 09:57 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Yang dipikirkan Indah Damayanti Putri saat ini adalah bagaimana masyarakat Bima bisa bahu-membahu bang­kit kembali pasca bencana banjir menerjang.

Ke DEPAN, Bupati Bima Indah berencana mendesain ulang tata kota Bima, menormal­isasi sungai-sungai dan menin­gkatkan kembali pengawasan terhadap praktik perambahan hutan. Berikut penuturannya ke­tika berbincang dengan Rakyat Merdeka;

Antara kota Bima dan kabu­paten Bima ini saling terkait dan terkoneksi, termasuk dalam hal banjir. Bagaimana koordinasi yang dibangun agar bencana ini tidak kembali terulang?
Memang antara Kota dan Kabupaten itu sebenarnya tidak bisa dipisahkan. Semua pusat pemerintahan kami di Kabupaten itu masih berpusat di kota. Dan memang, hasil koordinasi kami dengan BNPB, kami butuh nor­malisasi beberapa kecamatan kami yang memang muaranya mengarah ke kota Bima.

Memang antara Kota dan Kabupaten itu sebenarnya tidak bisa dipisahkan. Semua pusat pemerintahan kami di Kabupaten itu masih berpusat di kota. Dan memang, hasil koordinasi kami dengan BNPB, kami butuh nor­malisasi beberapa kecamatan kami yang memang muaranya mengarah ke kota Bima.

Kemudian?
Kita berharaplah setelah keja­dian ini ada perbaikan, sehingga ke depannya hal ini Insya Allah kita harapkan tidak terjadi lagi.

Back-up dari Pemkab Bima pasca bencana seperti apa?
Tentu kami pemerintah kabu­paten Bima ya akan mem back-up penuh apa yang bisa kami lakukan dari sisi kemanusiaan, masyarakat kami juga hadir memberikan bantuan, sampai tentunya keadaan ini benar-benar pulih kembali. Insya Allah.

Sudah dipetakan titik-titik krusial mana saja yang butuh segera diperbaiki?

Sudah, sudah kami sampai­kan. Jadi, di sekitar Ambalawi, Sape, dan Mawu itulah memang yang muaranya itu mengarah ke kota. Di samping memang, di kota ini penataan tata kotanya betul-betul perlu didesain kem­bali. Karena kita memikirkan kota Bima ini, untuk 5 sampai 10 tahun ke depan.

Kapan bisa direalisasikan?
Kalau penyampaian dari BNPB, pelaksanaan ini lang­sung dilaksanakan tahun 2017. Insya Allah.

Ini apakah ada kaitannya dengan perambahan hutan illegal?

Memang tidak bisa mengata­kan itu tidak terjadi. Ya memang, Ngoho istilahnya atau peladan­gan liar itu memang masih fa­vorit bagi masyarakat kami. Tapi kami percaya, dengan adanya program pemerintah dengan program percetakan sawah baru yang sangat luas, mudah-muda­han sedikit demi sedikit hal itu bisa kita kurangi.

Di samping memang, kami semua berkomitmen dengan pak Gubernur bahwa penanaman hutan ini betul-betul menjadi program serius yang wajib di­laksanakan oleh seluruh kabu­paten/ kota.

Kami berharap juga agar pro­gram ini tidak hanya bagi kami yang sudah terkena bencana, mungkin ini perlu lagi digalak­kan seperti dulu-dulunya se­cara nasional. Jadi betul-betul masyarakat itu bukan sekedar wajib tapi setengah kita paksa untuk melakukannya.

Ada aturan atau regulasi khusus yang ingin dibuat un­tuk mengantisipasi hal itu?

Memang sebenarnya kami sudah berjalan. Di pengantin baru, atau anak yang baru la­hir itu wajib ditanamkan satu pohon. Tapi wilayah kami ini wilayah hutan yang pegunungan kami ini sangat luas. Mereka tetap menanam, tetapi mungkin mereka juga tetap melakukan peladangan liar. Jadi ini memang menjadi PR dan tanggung jawab kami yang pertama.

Apa mungkin masyarakat tidak tahu atau tidak paham batas-batas hutan yang tidak boleh dirambah?
Nggak sih. Rata-rata kalau hu­tan yang masih terjaga, dia ada­lah hutan tutupan. Dan memang mereka ini senang berladang.

Nah, ini bagaimana solusinya?

Kami nanti akan duduk ber­sama nanti dengan Kehutanan, karena sekarang kewenangan kabupaten sudah dilimpahkan ke provinsi, nanti kami akan duduk bersama kembali.

Kabarnya Kabupaten Bima ini punya potensi mengalami bencana yang sama?
Kalau kami ada juga banjir, tapi memang tidak berdampak pada perumahan penduduk. Tapi pada lahan pertanian. Itu sangat besar. Karena memang kabupaten Bima ini, punya lahan sawah yang sangat besar, baik itu padi, maupun bawang yang menjadi komoditi andalan kami. ***

Populer

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

UPDATE

324 Hunian Layak untuk Warga Bantaran Rel Senen Rampung Juni 2026

Senin, 06 April 2026 | 18:15

Kasus Amsal Sitepu Harus jadi Refleksi Penegakan Hukum

Senin, 06 April 2026 | 17:59

WFH Jumat Tak Boleh Ganggu Produktivitas

Senin, 06 April 2026 | 17:45

Putri Zulhas Ngaku Belum Tahu Gugatan Pengosongan Rumah

Senin, 06 April 2026 | 17:45

Petinggi Tiga Travel Haji Dicecar KPK soal Perolehan Keuangan Tidak Sah

Senin, 06 April 2026 | 17:37

Konversi LPG ke Jargas

Senin, 06 April 2026 | 17:25

Prabowo Naikkan Target Bedah Rumah Tahun Ini Jadi 400 Ribu Unit

Senin, 06 April 2026 | 17:21

Impor Sparepart Pesawat dapat Insentif Bea Masuk Nol Persen

Senin, 06 April 2026 | 17:12

Sahroni Cabut Laporan Terhadap Influencer Indira dan Rena

Senin, 06 April 2026 | 16:59

PB Orado: Turnamen Domino Jatim Fondasi Menuju Kejurnas

Senin, 06 April 2026 | 16:55

Selengkapnya