Berita

Agus Harimurti Yudhoyono/Net

Wawancara

WAWANCARA

Agus Harimurti Yudhoyono: Kami Punya Konsep & Visi, Kami Akan Serius Awasi Adanya Pemilih Siluman

RABU, 21 DESEMBER 2016 | 09:07 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Jago yang diusung koalisi Partai Demokrat ini sudah men­gendus kemungkinan adanya pengerahan pemilih silu­man di Pilkada DKI Jakarta. Praktik curang itu ditegaskan AHY- sapaan akrab Agus Harimurti, akan diawasi secara ketat. Berikut pernyataan AHY terkait hal tersebut;

Belakangan diberitakan banyak temuan pemilih silu­man di Pilkada DKI. Sikap anda?
Kami juga mendengar berita itu, tentunya tim sukses juga akan menyoroti dan membahas secara serius terkait dengan kemungkinan adanya hal-hal yang di luar kelaziman. Apalagi ini dapat berpengaruh negatif terhadap jalannya pemilu atau pilkada yang harusnya berjalan dengan aman, damai, dan juga demokratis.

Apa yang akan anda laku­kan?

Apa yang akan anda laku­kan?
Ini tentunya juga akan diter­uskan kepada KPUD, sehingga kita semua memiliki awarenes yang proporsional terkait hal-hal tersebut, dan mencegahnya bersama-sama. Kalau ada in­dikasi kecurangan-kecurangan oleh siapapun.

Ada temuan dari Tim anda?
Ee... Sementara nanti akan dijelaskan lebih lanjut. Saya tidak bisa menjelaskan sekarang. Tim advokasi dan timses lain­nya tentu akan memiliki sikap sendiri. Pada saatnya nanti akan dijelaskan.

Oh ya, anda belum menjelas­kan secara spesifik bagaimana visi anda, salah satunya dalam mengatasi macet Jakarta?

Tentu kami berdua tidak ber­niat mencalonkan diri kalau tidak punya konsep dan visi. Memang tidak secara spesifik menyebutkan persoalan macet. Kami berdua memiliki 10 pro­gram unggulan. Tiga hari yang lalu, kami menggelar town hall meeting, dengan tema smart, greated and green city.

Apa yang menjadi fokus soro­tan anda dalam pertemuan itu?
Yang jelas kami menyoroti bahwa Jakarta harus menjadi green city, livable dan suistin­able city. Pembangunan yang harus memperhatikan dampak lingkungannya. Jangan mem­bangun tanpa memperhatikan generasi kita selanjutnya.

Jadi proyek reklamasi akan dihentikan?
Saya dan Mpok Sylvi tidak pernah mengatakan akan melan­jutkan atau membatalkan (rekla­masi). Karena kami tahu sebuah kebijakan itu diambil dengan sebuah alasan.

Maksud anda?
Ketika banyak aduan-aduan mengenai lingkungan, sosial dan juga kekhawatiran nelayan, maka kami harus menghentikan sejenak untuk review secara komprehensif.

Bagaimana pula soal banjir?
Kita tahu sumber-sumber banjir tidak hanya kelebihan vol­ume air hujan. Di level strategis dan teknis itu memang bukan tugas saya secara detil, tapi pertama pendekatan air hujan itu adalah dengan menyerap air hujan. Butuh sumur resapan, penyebarannya itu tanggung jawab pemda dan di-support masyarakat. Horizontal drai­nase, jangan semua buang ke kali dan laut. Karena 13 sungai yang melewati Jakarta kapasitas nya sangat terbatas. Kemudian, sistem pemantau curah hujan, supaya ada sistem cegah dini. Tidak hanya preventive, tapi juga reaksi cepat, quick respon. So I think, megapolitan city ter­jadi dalam mindset pembangu­nan harus duduk bersama, tidak hanya eksekutif dan legislatif di Jakarta, tapi juga dengan pemda Bogor, dan lainnya.

Cuma gitu aja?
Kemudian mengatasi banjir ini perlu edukasi. Kebanyakan rumah DKI membelakangi kali, padahal saya membayangi ven­ice, water sport, olahraga air. Kalau membelakangi kan main buang-buang aja (sampah) gitu. Tapi kalau depan rumah semua menghadap kali kan malu buang sampah sembarangan. Kalau di sini kan demokrasi, kita minta supaya aware. Bukan negara dengan sistem militer. Kita kerjasama dengan penggiat sosial. Banyak sekarang peng­giat sosial, jual kaos kemudian untungnya buat bersihin kali.

Kalau soal macet?
Ini kota bukan didesain untuk belasan juta orang. Nah mindset yang kami bawa bukan untuk membawa kendaraan pribadi, tapi bagaimana mobilitasnya. Yang bisa kita lakukan adalah imbauan.

Cukup dengan imbauan saja?
Imbauan tidak cukup, perlu ada insentif. Insentif pertama, keamanan. Kedua, kenyamanan, ketiga tepat waktu. Jangan sam­pai tidak ada manajemen yang baik, maka terlambat. Keempat. Harus terjangkau (tarif transpor­tasi). Di luar negeri mau tuh antri naik bus, tidak harus kendaraan pribadi.

Bagaimana menurut anda pilihan moda transportasi yang dibangun selama ini?
Terkait moda transportasi, saya apresiasi gubernur-gubernur sebe­lumnya. Eksekusi is one thing, tapi sebelumnya ada planning. Apalagi Mpok Silvy melewati tujuh gubernur, tahu persis ba­gaimana perjalanannya. ***

Populer

Jumlah Personel TNI Tidak Masuk Akal

Sabtu, 30 Mei 2026 | 03:36

Penutupan Alfamart dan Indomaret Jangan Salahkan KDKMP

Kamis, 28 Mei 2026 | 06:00

Raksasa Telekomunikasi Ini Bakal Dibubarkan Danantara

Senin, 25 Mei 2026 | 08:33

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Golkar: Jokowi Ikut Tren MBG karena Dekat dengan Dunia Warganet

Senin, 01 Juni 2026 | 13:12

Jawapos TV Tumbang, Televisi dan Radio Daerah Berguguran

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:24

UPDATE

Nicko Widjaja: Investasi ke TaniHub Bukan Kehendak Pribadi

Kamis, 04 Juni 2026 | 22:07

Bos BEI Minta Investor Tidak Panik saat IHSG Anjlok

Kamis, 04 Juni 2026 | 21:57

Di Tengah Gejolak Global, Investor AS Tetap Lirik Peluang di Bali

Kamis, 04 Juni 2026 | 21:56

Pimpinan Baru BGN Fokus Optimalkan MBG ke Daerah 3T

Kamis, 04 Juni 2026 | 21:36

Istana Beri Sinyal Said Iqbal Bakal Masuk Kabinet

Kamis, 04 Juni 2026 | 21:29

Kejagung: Dapur MBG Afiliasi Dadan Cs Tetap Jalan

Kamis, 04 Juni 2026 | 21:22

Legislator PDIP Dorong Kejelasan Skala Prioritas Kurikulum Nasional

Kamis, 04 Juni 2026 | 21:19

Sinergi Polda Sumsel, PTPN IV Optimalkan Sistem Pengamanan Aset Perkebunan

Kamis, 04 Juni 2026 | 21:19

Kepala dan Dua Wakil BGN Baru Dilantik Senin Besok

Kamis, 04 Juni 2026 | 21:17

Sesuai Survei, Kinerja Pertamina Berhasil Jaga Stabilitas Ekonomi Nasional

Kamis, 04 Juni 2026 | 21:13

Selengkapnya