Berita

Foto/Net

Bisnis

Pangkas Dulu Dong Rantai Distribusinya

Mendag Mau Harga Minyak Goreng Stabil
SENIN, 19 DESEMBER 2016 | 09:43 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (Gimni) mendukung langkah Kementerian Perdagangan untuk menstabilkan harga minyak goreng. Penyebab utama kenaikan harga minyak goreng adalah panjangnya rantai distribusi dari pabrik sampai ke tangan konsumen. Karena itu, selama rantai distribusinya tidak dipangkas harganya akan terus naik turun.

Direktur Eksekutif Gimni Sahat Sinaga mengatakan, Men­teri Perdagangan Enggartia­sto Lukita meminta produsen minyak goreng untuk menjaga stabilitas harga. Sebab, menje­lang hari besar agama, seperti Natal sangat rawan terjadinya kenaikan harga. Padahal, harga dari pabriknya tidak naik.

"Kita sepakat untuk men­jaga pasokan terutama minyak goreng curah supaya harganya tidak naik. Sedangkan, minyak goreng kemasan kita tidak atur karena kelasnya konsumen su­dah berbeda," ujarnya kepada Rakyat Merdeka, kemarin.


Selama ini, setiap ada kenai­kan harga minyak goreng di pasar yang selalu disalahkan adalah produsennya. Padahal, produsen jarang menaikkan harga minyak goreng. Faktor yang menyebabkan kenaikan harga minyak goreng adalah harga pasar internasional dan melemahnya nilai tukar ru­piah terhadap dolar. "Selama itu aman, harga stabil," katanya.

Menurut dia, penyebab tidak stabilnya harga minyak goreng di pasar, apalagi menjelang hari besar keagamaan adalah per­mainan para pedagang karena panjangnya rantai distribusi. Produsen tidak bisa mengontrol harganya sampai konsumen.

"Pedagang bisanya meman­faatkannya (hari keagamaan) untuk meraup keuntungan yang lebih besar," jelasnya.

Karena itu, dia meminta, pemerintah untuk turun tan­gan mengendalikan harga dan memangkas rantai distribusi minyak goreng yang panjang itu. Sahat mengungkapkan, ada selisih harga Rp 900 per liter dari harga pabrik Rp 9400 per liter sampai ke tangan konsumen.

Pemerintah, seharusnya bisa belajar dari Malaysia dalam mengendalikan harga bahan pokoknya. Misalnya, harga minyak goreng di Negeri Jiran itu tidak mengalami lonjakan harga saat mendekati hari-hari besar keagamaan.

Kenapa mereka bisa mengen­dalikan harga? Menurut Sahat, mereka menerapkan dana pung­utan untuk mengendalikan harga bahan pokok. Selain itu, Malaysia juga menerapkan undang-undang yang mengatur harga.

"Dalam aturan itu, pedagang maksimum boleh menaikan harga hanya 5 persen. Jika lebih dari itu bisa dipidanakan," tegasnya.

Untuk mengantisipasi lonja­kan harga minyak goreng saat Natal, produsen akan menggelar operasi pasar supaya masyarakat tidak kesulitan. "Ini merupakan inisiatif produsen," jelasnya.

Sahat menambahkan, saat ini produksi minyak goreng baik curah maupun kemasan 680 ribu ton per bulan. Sedangkan, stok yang ada mencover 30 hari. Dan, sekarang trennya terjadi peralihan penggunaan minyak goreng dari curah kekemasan. "Ini dipengaruhi oleh maraknya bermunculan toko modern di Tanah Air," tukasnya.

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukito mengata­kan, Kementerian Perdagangan (Kemendag) berencana mem­buat aturan khusus perihal harga minyak goreng. Aturan ini tidak termasuk dalam harga acuan Ke­mendag untuk lima komoditas prioritas yang telah dikeluarkan sebelumnya.

"Saya sudah bikin pertemuan dengan industri minyak goreng dan industri dari CPO nya untuk membahas soal minyak. Nantinya akan dibuatkan aturan supa­ya harganya stabil," ujar politisi Nasdem ini.

Berdasarkan catatan perda­gangan Kemendag beberapa waktu lalu, telah terjadi lonjakan harga minyak goreng sekira Rp 500-Rp 600 per liter. Guna menyelesaikan lonjakan harga tersebut, Kemendag akan terus berkoordinasi dengan industri minyak goreng dan industri crude palm oil (CPO) untuk menyusun langkahnya.

"Biasanya harga CPO naik, harga naik. Tapi saya tidak mau harga minyak goreng tidak boleh naik lagi," tuturnya.

Sementara itu untuk harga acuan, pihaknya bersama Ke­menterian Pertanian masih melakukan perhitungan. Selain itu, ada dua komoditas yang dikeluarkan dari harga acuan yakni cabai dan kedelai. "Kita keluarkan karena memang cabai harganya berfluktuasi, kalau kedelai dikeluarkan karena kita mau konsen di lima bahan pokok dulu supaya betul-betul konsentrasi," tukasnya.   ***

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

UPDATE

Koreksi Tata-Kelola MBG: Ekspektasi Publik dan Komitmen Presiden

Minggu, 14 Juni 2026 | 01:56

Bank Dunia Soroti Penyusutan Jumlah Pekerja Kelas Menengah RI

Minggu, 14 Juni 2026 | 01:30

Literasi Perpajakan Diharapkan jadi Jantung Kepercayaan Masyarakat

Minggu, 14 Juni 2026 | 01:04

Menkomdigi: Aksi Damai dan Ruang Digital Sehat Harus Dijaga

Minggu, 14 Juni 2026 | 00:40

Pesan Arief Budiman di Balik #SellIndonesia Lawan #SellSingapura

Minggu, 14 Juni 2026 | 00:20

MUI Dorong Fatwa Perlindungan Al-Quds dari Upaya Yahudinisasi Israel

Minggu, 14 Juni 2026 | 00:05

Pembelaan Terakhir John Field Cs: Kami Tidak Lari dan Hilangkan Bukti

Sabtu, 13 Juni 2026 | 23:41

Legislator PDIP Sebut Kenaikan BBM Ancam Daya Beli Kelas Menengah

Sabtu, 13 Juni 2026 | 23:14

Golkar: Mahasiswa Punya Hak untuk Menyampaikan Pendapat

Sabtu, 13 Juni 2026 | 22:52

Gagalkan Peredaran Ribuan Pil Terlarang, Satu Pengedar Ditangkap di Blora

Sabtu, 13 Juni 2026 | 22:27

Selengkapnya