Berita

Nasaruddin Umar/Net

Merawat Toleransi (19)

Mewujudkan Islam Damai

RABU, 14 DESEMBER 2016 | 09:30 WIB | OLEH: NASARUDDIN UMAR

BERAGAMA berarti mengin­ternalisasikan nilai-nilai aja­ran agama di dalam kehidu­pan sehari-hari, baik secara pribadi, bersama keluarga, maupun sesama anggota masyarakat, tanpa membe­dakan etnik, kewarganega­raan, agama, dan percayaan. Perbedaan bukan alasan un­tuk merusak kedamaian. Sebaliknya perbedaan dan pluralitas dalam kehidupan bermasyarakat diharapkan bisa menawarkan keindahan, sep­erti dilukiskan dalam ayat: Hai manusia, sesung­guhnya Kami menciptakan kamu dari seorang la­ki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku su­paya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguh­nya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. (Q.S. A-Hujurat/49:13).

Islam sebagai agama sangat menekankan perlunya memupuk kedamaian. Islam barasal dari kata aslama-yuslimu berarti memberi ke­damaian. Agak ironis jika atas nama Islam lalu kita melakukan tindakan yang mencederai ke­damaian, apalagi menciptakan rasa takut kepa­da orang lain. Tuhan memberi nama agamanya dengan Islam, bukan salam yang mengisyarat­kan kementahan umat, bukan juga istislam yang mengisyaratkan ekslusivisme. Islam (ben­tuk ruba'i) lebih bernuansa moderat. Tanpa me­nambahkan kata tawassuthiyyah (moderat), sesungguhnya Islam sudah mengisyaratkan moderat. Kata tawassuthiyyah lebih berarti penekanan (muqayyad) dari pada berarti sifat (shifah).

Nilai-nilai keislaman dan keindonesiaan sa­ma-sama menekankan pentingnya kedamaian dan persaudaraan. Sangatlah tidak tepat jika atas nama keagamaan (Islam) dan kebangsaan (keindonesiaan) lantas suasana kedamaian ter­usik. Mestinya kata Islam dan keindonesiaan sama-sama memberikan nuansa kedamaian. Jika antara keislaman dan keindonesiaan ber­hadap-hadapan, apalagi berkonflik satu sama lain maka tentu sangat disayangkan. Jika hal itu terjadi pasti ada sesuatu yang salah. Pasti ada salah satu di antaranya atau kedua-duanya berubah pola. Kedua komponen utama bangsa ini selalu harus dirawat dengan cara garis de­markasinya dipelihara sedemikian rupa sehing­ga satu sama lain tidak terjadi ketegangan yang tidak akan menguntungkan siapun.


Banyak cara orang menampilkan rasa dan ra­sio keagamaannya di dalam masyarakat. Ada yang lebih menekankan aspek substansi ajaran agamanya diimplementasikan di dalam kehidu­pan masyarakat. Ada juga yang lebih menekank­an aspek formal-logic ajaran agamanya terlebih dahulu harus diwujudkan guna mewadahi kepent­ingan umat beragama. Tentu ada juga orang yang secara simultan memulai penerapan substansi nilai-nilai ajaran agam pada dirinya seraya ber­juang dan menunggu isntitusi dan pranata kea­gamaannya terwujud di dalam masuarakat.

Dalam masyarakat plural seperti Indonesia, cara paling efektif menampilkan corak keagamaan kita ialah dengan cara-cara toleran, kooperatif, dan demokratis. Cara-cara seperti ini jangan di­artikan cara paling rendah dan lemah seseorang menampilkan ajaran agamanya. Dengan kata lain, bukanlah orang yang beragama secara kuat diukur melalui kekuatan dan konsistensi sese­orang memegang ajaran agamanya di dalam ke­hidupan masyarakat. Cara ini tidak peduli orang lain dan dalam keadaan apapun dan di manapun ia konsisten menampilkan aspek formal-logic ajaran agamanya. Seringkali kita menyaksikan orang mengintrupsi sebuah pertemuan tanpa membedakan pertemuan penting atau tidak pent­ing, demi untuk para peserta menyelenggarakan ibadah kemudian dilanjutkan sesudahnya. Orang tersebut tidak salah karena memang ada ajaran agama menganjurkan orang beribadah di awal waktu lebih baik, namun kenyataan sejarah juga menunjukkan bahwa terkadang ibadah ditang­guhkan beberapa saat demi untuk menuntas­kan sebuah pembicaraan penting. Memaksakan kehendak pribadi di tengah komunitas lain tanpa memilah kepentingannya merupakan cara yang kurang bijaksana.

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

Suyudi Pede Gusur Puluhan Pati-Pamen Loyalis Listyo

Selasa, 06 Oktober 2026 | 05:09

Pergantian Kapolri untuk Antisipasi Putusan MK soal Gibran

Kamis, 01 Oktober 2026 | 18:19

UPDATE

Main di Kandang PSIM, Persija Menang Telak 4-0

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 19:49

Cukai MBDK Mulai Dipungut Semester II/2027, Target Rp1,7 Triliun

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 19:30

DPR Ingatkan Bijak di Ruang Digital dan Cegah Perundungan Siber

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 18:51

Ekspor Emas Anjlok, Bea Cukai Ungkap Perusahaan Tahan Pengiriman

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 18:38

Usai Dilantik, Kapolda Metro Jaya Serap Aspirasi Insan Pers

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 17:49

Pertamina Perkuat Ekosistem MyPertamina di MotoGP Mandalika

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 17:30

Tegas dan Loyal, Demokrat: Tidak Ada Nama Selain Prabowo untuk Kontestasi 2029

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:36

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

YLBHI Minta Polresta Solo Hentikan Dugaan Kriminalisasi Kasus Perdata jadi Pidana

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 15:36

Pertamina Perkuat Pengelolaan Sampah Mandalika Lewat Dukungan untuk Bank Sampah Putri Nyale

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 15:09

Selengkapnya