Berita

Ahok/Net

Politik

Perkuat Niat Tak Menistakan Kitab Suci, Ahok Kutip Buku Berlindung Di Balik Ayat Suci

SELASA, 13 DESEMBER 2016 | 09:55 WIB | LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI

. Basuki Thahaja Purnama alias Ahok, saat membacakan nota keberatan dalam sidang perdana kasus penistaan agama di Pengadilan Negeri Jakarta Utara (Selasa, 13/12), mengutip pandangan bahwa hanya Tuhan dan yang mengatakan pernyataan tersebut yang mengetahui niatnya terkait dengan satu perkataan.

Ahok memastikan sama sekali tak berniat menistakan kitab suci umat Islam dan juga ulama. Untuk mendukung penjelasan bahwa ia tak berniat menistakan tersebut, Ahok mengutip buku yang ditulis pada tahun 2008, dengan judul "Berlindung di Balik Ayat Suci." Dengan mengutip buku ini, Ahok berharap kata-katanya bisa dipahami dengan baik.

Ahok mengutip buku tersebut bahwa selama karir politik, mulai saat menjadi anggota partai, pengurus cabang partai hingga melalukan verifikasi dan mengikuti pemilu, lalu kampanye pemilihan bupati sampai dengan pemilihan gubernur, ada oknum-oknum yang menggunakan ayat-ayat suci untuk memecah belah rakyat, dan mereka membawa roh kolonialisme karena tidak bisa bersaing dengan visi misi, program dan integritas.


Ahok, dalam buku itu dinyatakan, bahwa ia sempat bertanya kepada teman-teman agama Islam terkait dengan Quran Surat Al-Maidah ayat 51, dijelaskan bahwa ayat-ayat ini terkait dengan sekelompok orang yang mau membunuh nabi besar Muhammad SAW, lalu mereka berkoalisi dengan kaum yahudi dan nasrani di tempat itu. Jadi jelas ayat tersebut bukan dalam rangka kepala pemerintahan, sebab di dalam negara RI, kepala pemerintahan bukan kepala agama.

Dalam buku itu juga disebutkan bahwa karena banyak oknum elit yang pengecut dan tak bisa menang suara kecuali dengan mengandalkan hitungan suara berdasarkan suku, agam, ras, dan antar-golongan, maka banyak sumber daya ekonomi yang disia-siakan. Dengan cara-cara oknum ini maka seorang putera terbaik Padang atau Batak Islam tak bisa menjadi pemimpin di Sulawesi, apalagi di Papua. Pun demikian, seorang Papua tidak mungkin menjadi pemimpin di Aceh atau di Padang.

"Kondisi inilah yang memicu kita tidak mendapatkan pemimpin yang terbaik dari yang terbaik, melainkan yang buruk dari dari yang terburuk. Karena rakyat diajari, dihasut untuk memilih yang sesuku, seagama dan se-ras," kata Ahok, mengutip buku itu lagi. [ysa]

Populer

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

KPK Panggil Bos Rokok HS di Kasus Suap Cukai

Kamis, 02 April 2026 | 10:39

UPDATE

Tidak Mengutuk Tapi Ayo Gugat Israel di PBB

Minggu, 05 April 2026 | 01:55

Energi Transisi Sulap Desa Rentan jadi Resisten

Minggu, 05 April 2026 | 01:32

1.305 Rekomendasi Audit BPK di Kementerian PU Belum Tuntas

Minggu, 05 April 2026 | 01:10

Pakistan Gratiskan Transportasi Umum Buntut Demo Kenaikan BBM

Minggu, 05 April 2026 | 00:52

Menang di Tingkat Kasasi, Natalia Rusli Fokus Kawal Perkara Pidana

Minggu, 05 April 2026 | 00:32

Pemerintah Desak DK-PBB Lindungi Pasukan Perdamaian di Lebanon

Minggu, 05 April 2026 | 00:12

Pelni Sukses Layani 467 Ribu Penumpang Selama Arus Mudik-Balik Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 23:57

KSAD: Tiga Prajurit Gugur, Kami Sangat Kehilangan

Sabtu, 04 April 2026 | 23:32

Menlu Ungkap Ada Tiga Prajurit TNI Lagi Terluka di Lebanon

Sabtu, 04 April 2026 | 23:11

ITERA: Fenomena Langit Lampung Timur Diduga Sampah Antariksa Roket China

Sabtu, 04 April 2026 | 22:42

Selengkapnya