Berita

Jaya Suprana/Net

Jaya Suprana

(UUD 1945) Asli Dan Palsu

SELASA, 13 DESEMBER 2016 | 07:43 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

SAYA diminta untuk menulis pendapat saya pribadi tentang perlu-tidaknya kita kembali ke UUD 1945 yang asli. Terus terang, permintaan ini berhasil membuat saya terbingung-bingung. Saya baru sadar bahwa ternyata ada UUD 1945 yang asli.

Jika ada yang Asli berarti ada yang palsu. Celakanya adalah yang dipertanyakan adalah perlu-tidaknya kita kembali ke UUD 1945 yang asli! Berarti  UUD 1945 yang kini sedang kita gunakan justru yang palsu.

Saya menjadi teringat ke produk aksesori kaliber super mewah yang pada kenyataan di pasar justru lebih banyak yang palsu ketimbang yang asli! Celakanya produk yang palsu lebih banyak digemari sebab harganya jauh lebih murah ketimbang produk yang alsi, sementara dalam hal penampilan organoleptik tidak terlalu mudah ketahuan mana yang palsu mana yang asli. Tergantung siapa yang menggunakannya.


Jika yang menggunakan dikenal termasuk daftar orang terkaya di Indonesia maka tas berlogo Hermes yang ditentengnya langsung divonis sebagai produk asli. Namun jika yang menentengnya kebetulan tidak dikenal status kekayaan bendawinya, maka tas Hermes yang ditentengnya langsung dicemooh palsu.
Pada kenyataan industrial memang sudah lazim bahwa produk mewah negara-negara maju dibuat di negara-negara kurang maju dalam arti biaya produksi lebih murah akibat UMK jauh lebih rendah. Dan wajar produk mewah yang dibuat di negeri dengan UMK lebih murah bisa diam-diam dipasarkan dengan harga jauh lebih murah padahal mutunya sama akibat yang membuat sama.

Maka pada hakikatnya, di masa kini masalah palsu atau asli sudah menjadi kurang relevan apalagi setelah hadir produk palsu yang memang nyata dibutuhkan seperti misalnya gigi, bola mata, kaki atau tangan sampai kumis atau alis palsu. Keterampilan bedah kosmetik juga sangat dibutuhkan untuk membuat bagian tubuh mulai dari bulu mata, alis, hidup, bibir sampai lipatan mata palsu.

Deodoran juga ampuh membuat bau badan yang tidak asli alias palsu. Bahkan rasa makanan palsu seperti daging palsu untuk kaum vegetarian sulit dibedakan dari daging asli. Robot pada hakikatnya merupakan suatu bentuk manusia palsu yang malah dalam hal akurasi lebih bisa diandalkan ketimbang manusia.

Sebutan artificial inteligence secara tanpa malu-malu  mengakui kepalsuan dirinya.

Berdasar telaah kelirumologis mengenai segenap kenyataan serba palsu yang ternyata sudah kaprah hadir di peradaban umat manusia masa kini, maka bagi saya pribadi yang kebetulan pendiri Pusat Studi Kelirumologi, sebenarnya palsu atau aslinya UUD 1945 menjadi lebih tidak terlalu penting ketimbang baik atau buruknya niat dan cara penggunaan UUD 1945 demi kepentingan negara, bangsa dan terutama rakyat Indonesia.

Selama suatu undang-undang digunakan hanya terbatas bagi kepentingan golongan, kelompok apalagi insan tertentu saja, dengan sendirinya sang undang-undang terlepas palsu atau asli , langsung berfungsi sebagai sesuatu yang tidak baik .

Tentu saja, pendapat saya pribadi sekadar terbatas pada upaya melaksanakan permintaan redaksi Kantor Berita Politi RMOL, maka sama sekali tidak layak menjadi pedoman untuk menentukan nasib bangsa, negara dan rakyat Indonesia.

Lebih baik, apabila para ilmuwan, ahli dan pemikir hukum tata negara berkenan menyempatkan diri untuk duduk bersama sesuai asas kerakyatan yang tersirat dan tersurat di dalam Pancasila, demi bergotong-royong menyelenggarakan musyawarah-mufakat mencari titik temu antara beda pendapat mengenai perlu-tidaknya kita kembali ke UUD 1945 yang asli. [***]

Penulis adalah pendiri Pusat Studi Kelirumologi

Populer

Jumlah Personel TNI Tidak Masuk Akal

Sabtu, 30 Mei 2026 | 03:36

Penutupan Alfamart dan Indomaret Jangan Salahkan KDKMP

Kamis, 28 Mei 2026 | 06:00

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

UPDATE

Istana Minta Kritik terhadap BI Dijadikan Evaluasi Penguatan Komunikasi

Sabtu, 06 Juni 2026 | 14:23

Kursi Dua Wamen Kosong, Pemerintah Belum Siapkan Pengganti

Sabtu, 06 Juni 2026 | 14:10

Mensesneg soal Kabar Said Iqbal Masuk Kabinet: Masih Didiskusikan

Sabtu, 06 Juni 2026 | 13:59

Mubes V Kosgoro 1957 Digoyang Penolakan Daerah

Sabtu, 06 Juni 2026 | 13:52

AS Hantam Iran dengan Sanksi Baru, Jaringan Penyelundupan LPG Jadi Target

Sabtu, 06 Juni 2026 | 13:37

Istana Bantah Isu Menkeu dan Gubernur BI Bakal Dicopot

Sabtu, 06 Juni 2026 | 13:31

Prasetyo Hadi: Sinergi Pemerintah, DPR, dan BI Kunci Jaga Stabilitas Ekonomi

Sabtu, 06 Juni 2026 | 13:20

Bank Indonesia Sudah Intervensi, Mengapa Rupiah Tetap Melemah?

Sabtu, 06 Juni 2026 | 13:08

Menkeu Purbaya Bantah Omzet Warteg Turun Jadi Bukti Daya Beli Lesu

Sabtu, 06 Juni 2026 | 12:47

Daftar Komoditas Dirilis, Danantara SDI Siap Kendalikan Rezim Baru Ekspor RI

Sabtu, 06 Juni 2026 | 12:21

Selengkapnya