Berita

Joko Widodo saat kampanye/net

Politik

Relawan Jokowi Kritik Janji Ketahanan Energi Yang Belum Terwujud

SABTU, 10 DESEMBER 2016 | 14:33 WIB | LAPORAN:

Situasi cadangan energi Indonesia tidak pernah berunah dari zaman Orde Baru sampai pemerintahan Joko Widodo.

Di era Jokowi, kedaulatan dan ketahanan energi di sektor minyak dan gas (migas) tetap tidak mengalami perbaikan, atau bisa dikatakan hanya mampu memasok kebutuhan negara sampai 15 hari ke depan.

Hal itu diakui sendiri oleh salah satu relawan pendukung Joko Widodo dalam Pilpres 2014, Tumpak Sitorus. Sehari-hari ia menjabat Ketua Bidang Energi Sekretariat Nasional (Seknas) Jokowi.


"Padahal janji Jokowi ketika berhadapan dengan rakyat adalah dia akan membangun kedaulatan dan ketahanan energi," ujar Tumpak Sitorus dalam diskusi "Masa Depan Sektor Migas" di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (10/12).

Tumpak menyatakan sikap kritis Seknas Jokowi ini bukan berarti organisasinya menjadi oposisi terhadap pemerintahan Jokowi. Organisasi relawan ini hanya menjaga sikap kritisnya.

"Kenapa saya harus singgung itu? Perlu juga diketahui bahwa untuk kawasan Asia Selatan ini rawan konflik. Kalau suatu waktu terjadi perang, misalnya, persediaan energi kita hanya untuk 15 hari, apa yang akan terjadi?" ungkapnya.

Dirinya tidak rela pemerintahan Jokowi jatuh karena perang di kawasan Asia Selatan yang bisa terjadi sewaktu-waktu dan mengakibatkan kelangkaan energi yang menyebabkan Indonesia tumbang. Contoh yang kurang lebih sama pernah terjadi pada Jerman di masa kekuasaan Adolf Hitler sewaktu Perang Dunia II.

"Bung masih ingat kekalahan Hitler pada perang dunia dua? Hitler kalah hanya semata-mata karena dia kehabisan energi di musim yang sangat ekstrim, itu perang di Barbarossa. Dia tidak punya cukup cadangan energi," katanya.

Meski demikian, masih menurut Tumpak, kebijakan Presiden Jokowi mencanangkan pembangunan pangkalan militer baru di Kepulauan Natuna, Kepulauan Riau adalah bentuk kesadaran Jokowi akan ancaman perang di kawasan Asia Selatan.

"Artinya, presiden kita secara tegas dan jelas melihat ada ancaman di situ, dan dia persiapkan," lanjutnya. [ald]

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

UPDATE

Andre Rosiade Sambangi Bareskrim Polri Usai Nenek Penolak Tambang Ilegal Dipukuli

Senin, 12 Januari 2026 | 14:15

Cuaca Ekstrem Masih Akan Melanda Jakarta

Senin, 12 Januari 2026 | 14:10

Bitcoin Melambung, Tembus 92.000 Dolar AS

Senin, 12 Januari 2026 | 14:08

Sertifikat Tanah Gratis bagi Korban Bencana Bukti Kehadiran Negara

Senin, 12 Januari 2026 | 14:03

KPK Panggil 10 Saksi Kasus OTT Bupati Lampung Tengah Ardito Wijaya

Senin, 12 Januari 2026 | 14:03

Prabowo Terharu dan Bangga Resmikan 166 Sekolah Rakyat di Banjarbaru

Senin, 12 Januari 2026 | 13:52

Kasus Kuota Haji, Komisi VIII Minta KPK Transparan dan Profesional

Senin, 12 Januari 2026 | 13:40

KPK Periksa Pengurus PWNU DKI Jakarta Terkait Dugaan Korupsi Kuota Haji

Senin, 12 Januari 2026 | 13:12

Prabowo Tinjau Sekolah Rakyat Banjarbaru, Ada Fasilitas Smartboard hingga Laptop Persiswa

Senin, 12 Januari 2026 | 13:10

Air Naik hingga Sepinggang, Warga Aspol Pondok Karya Dievakuasi Polisi

Senin, 12 Januari 2026 | 13:04

Selengkapnya