Berita

Politik

Umat Islam Melawan Propaganda Makar Rezim Otoriter

JUMAT, 09 DESEMBER 2016 | 11:25 WIB | OLEH: GDE SIRIANA

OTORITARIANISME biasa disebut juga paham otoriter, yaitu pemerintahan yang dalam menjalankan kekuasaannya menggunakan dasar wewenang dalam berpikir.

Wewenang itu digunakannya untuk membatasi kebebasan individu dan masyarakat. Ketika berhadapan dengan masalah publik, orang otoritarian tidak fokus pada hakikat dan kepentingan suatu masalah tapi cenderung ikut campur dan mengurus perkara yang dipersoalkannya.

Pemimpin yang otoritarian lebih memilih komunikasi satu arah dalam menjalankan tugasnya baik dalam menyampaikan gagasan, pemikiran, dan pesan. Secara singkat hanya satu bentuk komunikasi yang dipahaminya, yaitu instruksi.


Dalam bertindak, kekuasaan yang otoritarian lebih suka main paksa yaitu dengan melumpuhkan orang, menggunakan ancaman dan menyepelekan masalah yang besar. Atasan yang otoritarianisme menuntut bawahan untuk menuruti semua perintah, mengabaikan peranan bawahan, sering mempermainkan perasaan bawahannya dan dengan sengaja membuat mereka merasa salah dan malu. Secara singkat orang otoritarianisme akan berkutat pada kekuasaan yang dimilikinya karena memandang kekuasaan bukan sebagai sarana melainkan untuk tujuan sendiri. Yang terpenting bagi mereka adalah bagaimana kekuasaan berfungsi, digunakan dan dipertontonkan.

Otoritarianisme berkembang dan banyak muncul dalam masyarakat yang formalistik, legalistis, dan konvensionalistis. Perbedaan otoriter dan totaliter adalah kharisma kepemimpinan pada totaliter sangat kuat, sedangkan pada otoriter kharisma sangat lemah. Tingkat korupsi pada otoriter lebih tinggi dari totaliter. Totaliter juga menganut suatu ideologi yang jelas sedangkan pemerintahan otoriter berjalan tanpa ideologi. Legitimasi pemerintahan totaliter juga jauh lebih kuat dari pemerintahan otoriter.

Ketika penguasa otoritarianisme melihat tanda-tanda kejatuhannya mereka menjadi panik, kalap, menindas dengan kekuasaan, membungkus niat jahat dengan kebohongan dan menjadi uring-uringan. Kekuasaannya segera dibentengi dengan perangkat kekuasaan di bawahnya. Sikap intoleransinya terhadap kritik bisa berwujud fitnah, intimidasi, ancaman, pemecatan, sampai perang urat saraf.

Terkait dengan penangkapan para tokoh nasionalis dan aktivis, itu adalah bukti bahwa pemerintahan Jokowi menganut otoritarianisme. Kritik yang disampaikan para tokoh nasionalis dan aktivis yang menyerukan kembali ke UUD 1945 asli dianggap membahayakan kekuasaannya.

Rencana aksi menyampaikan pendapat ke DPR yang merupakan hak konstitusional warga negara justru dituduh sebagai kegiatan makar. Padahal menurut pasal 87 KUHP menegaskan tindak pidana makar baru terjadi apabila telah dimulainya perbuatan-perbuatan pelaksanaan dari si pembuat makar.

Yang dimaksud dengan makar dalam delik ini adalah penggantian pemerintahan dengan cara yang tidak sah yang tidak berdasarkan saluran yang ditetapkan dalam undang-undang. Jika merujuk pada kronologi penangkapan para tokoh nasionalis dan aktivis jelang aksi 212 maka rumusan dan syarat delik ini tidak dapat terpenuhi karena bukti-bukti tidak cukup. Tetapi untuk menyelamatkan muka penguasa yang telah menyebarluaskan tuduhan makar pada mereka, maka tuduhan bergeser kepada tindakan menyebar kebencian. Inilah yang terjadi pada Sri Bintang Pamungkas dan Hatta Taliwang, yang awalnya ditangkap dengan tuduhan makar.

Patroli di medsos dengan senjata undang-undang ITE dirasakan publik sebagai bentuk sweeping terhadap akun medsos yang dianggap menyerang penguasa dengan dalih menyebarkan kebencian. Padahal ujaran kebencian itu multi tafsir yang setiap saat dapat direkayasa penguasa untuk memberangus kebebasan berpendapat.

Propaganda tuduhan makar oleh pemerintahan Jokowi juga didukung oleh beberapa media mainstream. Pemaknaan atau penafsiran atas opini makar yang dibentuk oleh media mainstream tertentu didominasi oleh argumentasi kelompok-kelompok sekuler dan liberal.[***]


Pengamat dari Soekarno Institute For Leadership


Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

UPDATE

Bos Exxon Prediksi Harga Minyak Bakal Lebih Meledak

Sabtu, 02 Mei 2026 | 14:21

SSMS Bagikan Dividen Rp800 Miliar dari Laba 2025

Sabtu, 02 Mei 2026 | 13:51

Postidar Kecam Video Diduga Pernyataan Amien Rais soal Sekkab Teddy

Sabtu, 02 Mei 2026 | 13:18

Bank Dunia Proyeksikan Harga Emas dan Perak Turun pada 2027

Sabtu, 02 Mei 2026 | 13:00

Hardiknas 2026, Komisi X DPR Ingin Pendidikan Berkualitas Merata ke Pelosok

Sabtu, 02 Mei 2026 | 12:37

Polda Metro Pulangkan 101 Orang yang Diamankan Saat May Day

Sabtu, 02 Mei 2026 | 12:30

China Minta PBB Tinjau Ulang Rencana Penarikan Pasukan UNIFIL dari Lebanon

Sabtu, 02 Mei 2026 | 12:21

Ratusan Demonstran Ditangkap dalam Aksi Hari Buruh di Turki

Sabtu, 02 Mei 2026 | 11:17

Komisi III DPR: Pemberantasan Narkoba Tak Boleh Kendor!

Sabtu, 02 Mei 2026 | 10:59

Yen Bergolak: Intervensi Jepang Paksa Dolar AS Rasakan Kerugian Mingguan Terburuk

Sabtu, 02 Mei 2026 | 10:41

Selengkapnya