Berita

Jaya Suprana/Net

Jaya Suprana

Menjunjung Tinggi Bhinneka Tunggal Ika

RABU, 30 NOVEMBER 2016 | 10:26 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

TERNYATA naskah yang saya tulis di Havana, Kuba tentang long march Ciamis-Jakarta yang dimuat RMOL 29 November 2016 memperoleh perhatian dan tanggapan dari berbagai pihak. Ada yang menyatakan bahwa long march tersebut batal. Ada pula yang menyatakan tidak setuju dengan long march meski ada pula yang setuju bahkan ingin memberikan sumbangsih minuman dan makanan bagi para peserta long march.

Anggapan bahwa saya melakukan profokasi tegas saya tolak sebab saya TIDAK menganjurkan siapa pun turun ke jalan untuk melakukan unjuk-rasa termasuk long march. Namun selama merasa terharu belum dilarang maka mohon dimaafkan bahwa saya pribadi memang benar-benar merasa terharu atas semangat melakukan long march selama TIDAK melakukan kekerasan.

Sementara puteri sulung Gus Dur yang kerap saya sebut sebagai adik-bukan-kandung saya, Alissa Wahid berbaik hati mengoreksi jumlah peserta long march yang diberitakan oleh berita yang saya petik.


Berdasar pengamatan mbak Alissa jumlah peserta long march yang sampai saat naskah ini ditulis masih berjalan kaki menempuh perjalanan dari Ciamis ke Jakarta sebenarnya bukan ribuan namun hanya sekitar 86 orang saja. Memang di tengah perjalanan, banyak santri yang ikut bergabung ke dalam barisan long march sehingga massa terkesan banyak namun lazimnya hanya untuk beberapa kilometer saja lalu para simpatisan itu mengundurkan diri dari barisan akibat sadar bahwa diri mereka tidak cukup kuat secara lahir-batin untuk berjalan kaki ke Jakarta.

Saya berterima kasih atas koreksi adinda Alissa Wahid meski sebenarnya yang membuat sanubari terharu bukan jumlah namun semangat para pelaku long march. Saya terharu atas semangat mereka berjerih-payah melakukan long march demi mencari keadilan yang kini memang sudah tergolong langka di Tanah Air Udara kita tercinta ini.

Keterharuan saya berdasar kesadaran bahwa bagi diri saya pribadi yang bukan cuma sekadar overweight  namun bahkan sudah obesitas ini jangankan jarak Ciamis-Jakarta sementara jarak seratus meter saja sudah membuat saya terengah-engah kelelahan apabila harus saya tempuh dengan berjalan kaki.

Apalagi akhir-akhir ini pergelangan kaki kiri saya terkilir dan kaki kanan saya masih dalam tahap pemulihan kembali setelah jatuh di bandara Labuan Bajo. Maka menempuh perjalanan Ciamis-Jakarta dengan berjalan kaki bagi saya bukan saja merupakan suatu hal yang hanya mengagumkan namun benar-benar mengharukan lubuk sanubari terdalam saya.

Keterharuan saya sama sekali TIDAK ada kaitan dengan kasus penistaan agama namun terbatas pada semangat para pelaku long march Ciamis-Jakarta yang bagi saya bukan sesuatu hal yang ringan dan mudah. Dapat diyakini bahwa 86 santri yang bertekad melakukan long march Ciamis-Jakarta pasti memiliki keteguhan tekad semangat yang luar biasa kuat berkat keteguhan keimanan yang luar biasa kuat.

Andaikata mereka gagal mencapai Jakarta pun, tidak mengurangi rasa hormat saya atas semangat mereka. Yang membuat sanubari saya makin terharu-biru adalah kenyataan bahwa 86 santri peserta long march Ciamis-Jakarta  atas kehendak mereka sendiri telah sengaja secara sadar memilih berjalan kaki sebagai ungkapan rasa keprihatinan mereka ketimbang terjerumus melakukan kekerasan yang jelas mustahil saya benarkan dengan alasan apapun juga.

Para santri peserta long march Ciamis-Jakarta telah berikrar sumpah sama halnya dengan sesama rakyat Indonesia yang akan menyelenggarakan doa bersama di Monas 2 Desember 2016 untuk sama sekali TIDAK akan melakukan kekerasan dalam bentuk apapun juga. Maka menurut pendapat saya, long march para santri  memang layak dihormati, dihargai bahkan didoakan agar dianugerahi kekuatan lahir-batin oleh Yang Maha Kasih demi memungkinan penempuhan perjalanan dari Ciamis ke Jakarta dengan berjalan kaki sebagai upaya mencari keadilan dengan tetap menjunjung tinggi Bhinneka Tunggal Ika di persada Nusantara kita tercinta ini. [***]

Penulis mendambakan persatuan-kesatuan Indonesia

Populer

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

UPDATE

Utang dan Delusi Pembangunan

Rabu, 16 September 2026 | 05:52

Tak Ulangi Kesalahan Purbaya, Suahasil Diharapkan Terus Gelorakan Ekonomi Konstitusi

Rabu, 16 September 2026 | 05:22

Pengukuhan Pengurus PERKAPI Bakal Dihadiri Menhum dan Ketua Komisi XIII DPR

Rabu, 16 September 2026 | 04:44

Fungsi KDKMP yang ‘Disabotase’

Rabu, 16 September 2026 | 04:24

Menhan Sjafrie Apresiasi Bantuan Jepang dalam Atasi Karhutla

Rabu, 16 September 2026 | 03:57

Politikus Senior PKS: PPHN Jangan jadi RPJPN Kedua

Rabu, 16 September 2026 | 03:30

38 Aset Senilai Rp846 Miliar Disita Kejagung dalam Kasus Febrie

Rabu, 16 September 2026 | 03:03

Kegiatan Belajar di SMPN 16 Medan Pulih 100 Persen Usai Dilanda Banjir

Rabu, 16 September 2026 | 02:48

WNA Malaysia Laporkan Pamen Polri Terkait Kasus Investasi Emas ke Bareskrim

Rabu, 16 September 2026 | 02:24

Kemensos Apresiasi Sekolah Rakyat Terintegrasi 3 Sulsel Mulai Beroperasi

Rabu, 16 September 2026 | 01:59

Selengkapnya