Berita

Antasari Azhar/Net

Wawancara

WAWANCARA

Antasari Azhar: Jangan Ada Lagi Pejabat Atau Rakyat Mengalami Ketidakadilan Seperti Saya

JUMAT, 18 NOVEMBER 2016 | 10:04 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Setelah menghirup udara bebas, Antasari menyempat­kan diri berbincang-bincang dengan Rakyat Merdeka seputar penegakan hukum di Indonesia. Salah satu yang menjadi fokus bincang-bincang hari itu adalah reformasi hukum yang dicanangkan Presiden Jokowi. Berikut wawancara selengkapnya;

Soal reformasi hukum yang dilakukan di era Presiden Jokowi, apa komentar Anda?
Bahwa hukum ini memang harus direformasi. Saya sep­endapat dengan Presiden Jokowi yang mencanangkan reformasi di bidang hukum. Tapi saya belum melihat secara substansi, apa saja pointers-pointersnya. Supaya tidak ada lagi ke depan siapa pun, apakah pejabat, apak­ah rakyat biasa yang mengalami seperti saya.

Konkretnya, di mana yang perlu di direformasi?

Konkretnya, di mana yang perlu di direformasi?
Sejak laporan masuk, telaah data, kemudian penyelidikan, penyidikan, penuntutan dan peradilan. Nah, masing-masing tahapan itu secara totalitas harus diperbaiki. Misalnya dalam Undang-Undang Kejaksaan, jaksa itu dalam posisi sentral.

Maksudnya dia harus menel­iti betul bahwa apakah perkara ini layak diangkat atau tidak, itu jaksa yang menentukan. Penyidik bisa menyidik setebal apapun, tapi kalau dinilai tidak layak untuk diangkat, jaksa tidak akan bawa ke per­sidangan.

Selain itu?
Kemudian pengadilan, seka­lipun jaksa sudah yakin, tapi kalau hakim menilai alat bukti dan pertimbangan hukumnya tidak tepat dia tidak layak menghukum. Jangan dianggap setiap perkara itu yang diangkat itu harus dihukum.

Boleh saja dibebaskan?
Jaksa boleh menuntut bebas, hakim apalagi boleh memutus bebas. Dengan demikian kea­dilan itu akan terwujud. Karena selama ini kita selalu berteriak penegakan hukum. Tapi setelah saya di dalam, dan dari masukan-masukan selama saya tujuh tahun bersama narapidana, saya meli­hat: Wah kalau begini penegakan hukum yang selalu diteriakkan itu sudah tidak tepat lagi.

Jadi, standing point dari reformasi hukum ini harusnya berorientasi pada keadilan?

Harusnya penegakan keadilan. Kalau sudah melakukan penegakan keadilan berarti sudah melakukan penegakan hukum. Kalau hanya penegakan hukum, maka setiap orang harus dihu­kum, katanya harus ada kepastian hukum kan. Nah kepastian hukum itu tidak berarti menghukum.

Lalu?
Tapi adanya keseimbangan rasa keadilan. Orang tidak salah ya jangan dihukum. Orang salah ya dihukum. Ada adegium yang masih sering kita dengar akhir-akhir ini adalah: Lebih baik membebaskan seribu orang yang bersalah daripada menghukum orang yang tidak bersalah. Nah itu.

Artinya ini sangat bergan­tung pada SDM penegakan hukum bukan di subtansi undang-undangnya?
Oh iya, prinsip saya ya: Sediakan saya lima penegak hukum yang baik sekalipun peraturan itu kurang baik saya mampu untuk menegakkan hukum. Tapi sebaliknya, bikinlah peraturan sebaik-baiknya, kalau penegak hukum tidak baik, tidak mampu untuk menegakkan hukum.

Jadi yang harus dibersihkan ini penegak hukumnya ya?
Tidak hanya dibersihkan, tapi kompetensinya harus diting­katkan. Penyelidikan itu adalah kegiatan pengumpulan data. Dari pengumpulan data tersebut maka akan dinilai apakah sudah terjadi tindak pidana. Nah apabila terjadi tindak pidana, dilakukan penyidi­kan. Penyidikan adalah kegiatan mengumpulkan alat bukti, dari alat bukti tersebut maka baru ditemukan siapa tersangkanya. Jangan dibalik. Jangan tersangka dulu ditetapkan, baru dicari alat bukti. Nah hal-hal seperti ini.

Kok bisa dibolak-balik be­gitu?
Sebetulnya, KUHAP kita sudah mengatur itu, tapi tetap saja tetap­kan tersangka dulu baru dicari alat bukti. Begitu juga tahap selan­jutnya. Kejaksaan misalnya, dia bertanggung jawab di pengadilan untuk pembuktian, sehingga jaksa harus teliti betul berkas layak disidangkan atau tidak, kalau tidak layak tidak diterima. Kasih petunjuk, P19. Jangan sampai nanti, karena diterima begitu saja, setelah disidang kebingungan ini ke mana ini. Maka bawalah dakwaan yang betul-betul sudah konkret, supaya diputus menjadi adil. Kita kan butuh keadilan. Katakanlah 1.000 satu bulan perkara hukum bisa ditegakkan, tapi kalau keadilan tidak tercapai untuk apa. ***

Populer

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

UPDATE

Keempat Kalinya Indonesia Jadi Tuan Rumah PENSA 2026

Minggu, 25 Oktober 2026 | 00:25

OMC Bantu Sejukkan Jakarta

Minggu, 25 Oktober 2026 | 00:02

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

TVRI dan PIM Jajaki Kolaborasi Angkat Kiprah Perempuan Indonesia

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:23

KNMP Kota Sorong Buka Peluang Pasar bagi Nelayan Lokal

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:00

Modal Asing Kabur Imbas Sentimen MSCI, BI Jamin Likuiditas Rupiah Memadai

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 22:44

Kapal Asal Malaysia Bawa 1,16 Ton Ketamin, Dasco Tegaskan Jaga Generasi Muda

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 22:16

BSI Himpun Dana Tabungan Haji Rp18 Triliun, Nasabah Gen Z Naik 30 Persen

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 21:15

Wilayah Berdekatan, Mengapa Jakarta Lebih Panas Saat Bogor Masih Diguyur Hujan?

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 21:03

KemenHAM Tampilkan Peta Pemenuhan Hak Dasar Hingga Tingkat Desa Berbasis Digital

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 18:35

Selengkapnya