Berita

Donald Trump/Net

Politik

Kemenangan Donald Trump Tidak Mengejutkan

KAMIS, 10 NOVEMBER 2016 | 13:27 WIB | OLEH: TANTOWI YAHYA

KEMENANGAN Donald Trump kemarin mengejutkan banyak pihak tapi tidak bagi sekelompok pengamat, termasuk saya, yang mengikuti proses pilpres AS dari awal hingga hari pencoblosan secara netral (tidak memihak ke siapapun).

Bagi saya, baik Trump maupun Clinton mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing dalam konteks hubungan bilateral dengan Indonesia.

Pengamatan saya, kemenangan Trump disebabkan oleh dua hal.


Pertama kehandalannya dalam memelihara basis suara di red-states yang secara tradisional adalah pendukung Partai Republik. Di sisi lain, Hillary gagal menjaga dukungan buatnya dari basis-basis Demokrat selama ini. Ironisnya, di kampung halamannya pun, Arkansas Hillary kalah.

Barangkali karena kurangnya waktu atau strategi yang tidak tepat, Hillary tidak sempat berkunjung ke negara-negara bagian utama yang menjadi basis dukungannya Partai Demokrat selama ini. Dan ternyata dia memang kalah disana.

Kedua, masyarakat dunia saat ini menginginkan perubahan. Mereka menggandrungi pemimpin yang tidak mainstream. Polished politicians menyingkir dulu deh. Trump itu mulutnya jorok. Dia menistakan lawan-lawannya di depan publik. Dia menyerang kelompok etnis dan kepercayaan tertentu, tapi toh rakyat Amerika tetap memilihnya.

Artinya rakyat lebih percaya content daripada delivery-nya. Itulah mengapa tokoh-tokoh seperti Trump, Duterte dan Ahok naik daun.

Namun pada perspektif lain, ada juga hal-hal yang patut kita catat dan renungkan. Bagaimana mungkin seorang calon yang diyakini betul akan menang, pada kenyataannya kalah menyakitkan?

"Inilah politik", inilah istilah yg sering digunakan pengamat yang menempatkan seolah politik adalah sesuatu yang gaib dan misterius. Padahal politik sesungguhnya bisa dirasionalisasikan.

Dalam pengamatan saya, Hillary dan timnya terlalu terlena dengan statusnya sebagai incumbent dan terbuai oleh berbagai hasil survei yang selama ini mengunggulkannya. Kita tidak memperdebatkan lembaga survei karena mekasnime dan sistem yang dipergunakan oleh lembaga-lembaga survei kredibel pastilah bisa dipertanggung jawabkan secara akademik.

Perdebatan kita bukan disana. Saya hanya menyoroti satu hal yang menurut saya tidak terekam dengan baik oleh lembaga-lembaga survei yaitu suasana kebatinan di masyarakat.

Dari sekian banyak jualan Trump, ada tiga program yang mengena di masyarakat; tolak imigran, singkirkan Muslim dan tolak LGBT.

Tiga janji Trump ini seperti menjadi pemuas dahaga rakyat Amerika, khususnya yang tinggal di bagian selatan Amerika atau yang biasa disebut dengan Red States. Sebagai masyarakat tradisional dan masih puritan, tiga hal tersebut adalah kekhawatiran utama mereka selama ini.

Saya, sedikit banyaknya, tahu mengenai hal ini karena sebagai pencinta dan penggiat musik country, setiap kali saya ke Amerika saya menyempatkan diri untuk berkunjung ke Tennessee, Oklahoma, Alabama dan lain-lain, karena disinilah basis musik country. Sedikit banyak saya mengenal karakter dan kebiasaan mereka. Mereka masih rajin ke gereja dan menjadikan pendeta sebagai informal leaders.

Masyarakat di red-states begitu mempercayai Trump akan menjadi penyelamat. Baru kali ini setelah sekian lama, ada capres yang mengusung interest mereka.

Kelompok masyarakat tradisional dan puritan ini adalah silent majority yang jauh dari hiruk pikuk sosmed. Mereka yang kebanyakannya adalah petani dan blue-collar sudah menentukan pilihannya jauh sebelum hari pencoblosan. Mereka firmed dengan pilihan sehingga apapun yang ditawarkan Hillary tidak lagi menarik buat mereka. Mereka tidak lagi bisa dipengaruhi oleh hasil survei, hasil debat dan pemberitaan di media yang tidak memihak ke Trump. Tanggal 8 Nopember rakyat Amerika menunjukkan perlawanannya.

Riak-riak dan suasana kebatinan di masyarakat tidak direkam dengan baik oleh timses dan polster-polster Hillary. [***]

Penulis adalah anggota Komisi I DPR. Tulisan ini bersifat catatan pribadi.

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harta Zita Anjani PAN Melonjak Seribu Persen dalam Dua Tahun

Selasa, 16 Juni 2026 | 17:30

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

Ganti Rugi Lahan Belum Tuntas, Warga Medan Polisikan Developer

Minggu, 07 Juni 2026 | 01:40

UPDATE

Dialog BEM di Makassar: Gerakan Mahasiswa Harus Independen dan Berbasis Data

Rabu, 17 Juni 2026 | 20:17

DPR Apresiasi Perbaikan Haji di Era Prabowo, Antrean Jemaah Turun Jadi 26 Tahun

Rabu, 17 Juni 2026 | 20:14

KPK Soroti Nama Besar yang Muncul dalam Persidangan Kasus Bea Cukai

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:59

Polri Serius Garap Universitas Kepolisian yang Bisa Diakses Masyarakat Umum

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:42

Tiyo Ardianto dan Tradisi Panjang Anak Rakyat dalam Sejarah Pergerakan Indonesia

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:33

RUU Perkoperasian Buka Jalan Koperasi Jadi Soko Guru Perekonomian

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:25

Masyarakat Kemuning Ngadu ke BAM DPR soal Klaim Kawasan Hutan

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:21

FPHI Ultimatum OJK, Minta Kejelasan Laporan Keuangan Danantara

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:10

KPK Tagih Perbaikan Sistem MBG di Era Kepala BGN Baru

Rabu, 17 Juni 2026 | 18:56

Kinerja Bertumbuh, Pelindo Setor Rp7,81 Triliun kepada Negara

Rabu, 17 Juni 2026 | 18:50

Selengkapnya