Berita

Agus Martowardojo/Net

Wawancara

WAWANCARA

Agus Martowardojo: Oh Ya, Saya Nggak Ada Komentar Ya...

RABU, 26 OKTOBER 2016 | 08:42 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Disebut-sebut terlibat dalam kasus dugaan korupsi pen­gadaan e-KTP oleh bekas Bendahara Partai Demokrat Nazaruddin, eks Menteri Keuangan yang kini menjadi bos Bank Indonesia, Agus Martowardojo memilih bungkam. Ia lebih banyak berkomentar terkait kondisi ekonomi pasca disetujuinya postur RABPN 2017 oleh Badan Anggaran DPR, untuk dibawa ke Paripurna.

Seperti diberitakan, Agus dijadwalkan akan diperiksa sebagai saksi atas tersang­ka Irman, mantan Direktur Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kementerian Dalam Negeri, terkait dengan kasus dugaan korupsi proyek e-KTP (kartu tanda penduduk elektronik).

Pemeriksaan terhadap Agus dalam kapasitasnya sebagai Menteri Keuangan. Agus ditud­ing oleh Nazar sebagai orang yang menggelontorkan anggaran proyek e-KTP.


Tapi, Agus memilih mangkir dari panggilan penyidik KPK yang harusnya dijadwalkan kemarin. Sebelumnya, pada 18 Oktober 2016, dia juga tidak memenuhi panggilan penyidik KPK. Berikut penuturan seleng­kapnya;

Anda disebut-sebut Nazaruddin yang menyetujui proyek e-KTP. Benar begitu?
Oh ya, saya nggak ada komen­tar ya. Nggak ada komentar.

Lalu, kenapa anda tidak memenuhi panggilan penyidik KPK?

Saya nggak komentar ya...

Kalau soal angka pertumbu­han ekonomi disepakati cuma 5,1 persen. Itu kan artinya makin turun dari tahun ke tahun. Ini bagaimana anda melihatnya?
Kondisi ekonomi dunia mem­buat terjadi penyesuaian dan pada saat itu memang belum ada angka terakhir revisi dari ekonomi dunia. Ketika revisi revisi ekonomi dunia diturunkan menjadi 3,1 persen, dapat dipa­hami bahwa di Indonesia pun recovery-nya masih ada makan waktu sehingga diturunkan men­jadi 5,1 persen.

Tapi saya melihat itu sebagai suatu kesepakatan yang cu­kup konservatif, kita harapkan bahwa di tahun 2017 nanti kondisinya bisa dicapai lebih baik dari itu.

UMP tahun depan naik 8,25 persen, kira-kira bisa mem­pengaruhi tingkat konsumsi nggak tuh?
Kalau yang kita lihat seka­rang, sebetulnya kan konsumsi swasta kan sebetulnya sudah mulai membaik. Tantangan utama kita adalah di investasi swasta. Kalau investasi swasta ini bisa cepat bangkit, ini bisa cepat membantu pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Menyikapi kondisi itu, apa langkah BI (Bank Indonesia)?
Bank Indonesia di rapat de­wan Gubernur bulan Oktober juga menyesuaikan seven-day reverse repo rate itu antara lain karena kita melihat fundamental ekonomi kita semakin membaik, dilihat dari inflasi, stabilitas nilai tukar, transaksi berjalan di tahun 2016 ini di bawah lima persen, tetapi juga untuk bisa membantu pertumbuhan ekonomi yang kita lihat masih belum seperti hara­pan di tahun 2016.

Lalu di tahun depan?
Tahun 2017, kita juga mengi­kuti adanya mulai perbaikan dari komoditas. Kalau kita lihat year to date itu ada cukup banyak komoditi yang pertumbuhan harganya sudah di atas 20 persen dibandingkan tahun lalu. Jadi year to date ya. Kita harapkan ini merupakan suatu kondisi yang positif bagi ekonomi kita di tahun 2017.

Yang perlu diwaspadai di tahun 2017 mendatang apa?
Yang perlu kita waspadai di ta­hun depan ini, yang utama adalah di tahun 2016 akan ada kenaikan Fed Fund Rate. Di tahun 2017 nanti akan ada lagi kenaikan Fed Fun Rate. Jadi ini sesuatu yang perlu kita waspadai.

Cuma itu saja?

Yang lain, yang perlu kita waspadai adalah kita lihat bahwa pertumbuhan ekonomi dunia ini kan masih ditandai oleh pertum­buhan ekonomi dunia, ini kan masih ditandai dengan adanya ketidaksinkronan, ada negara seperti Amerika yang tumbuh ekonominya dikoreksi turun. Ada Eropa dan India yang diko­reksi naik. Jadi tentu yang perlu kita waspadai dari pertumbuhan ekonomi 2017 di dunia masih tetap buruk. Karena perdagan­gan dunia turun drastis. Hal-hal ini perlu kita waspadai.

Oya, kajian anda inflasi di tahun depan akan berada di angka berapa?

Tingkat inflasi tahun depan, Bank Indonesia mendengar keputusannya adalah empat persen. Kita menyimak juga bahwa di tahun 2017 akan ada penyesuaian harga tarif listrik untuk yang 900 dan 450 VA. Nah ini kalau tidak dikelola dengan baik bisa membuat tekanan kepada inflasi. Bank Indonesia masih meyakini inflasi akan ada di kisaran empat plus minus satu persen. ***

Populer

Jumlah Personel TNI Tidak Masuk Akal

Sabtu, 30 Mei 2026 | 03:36

Penutupan Alfamart dan Indomaret Jangan Salahkan KDKMP

Kamis, 28 Mei 2026 | 06:00

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Golkar: Jokowi Ikut Tren MBG karena Dekat dengan Dunia Warganet

Senin, 01 Juni 2026 | 13:12

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

Raksasa Telekomunikasi Ini Bakal Dibubarkan Danantara

Senin, 25 Mei 2026 | 08:33

UPDATE

Nicko Widjaja: Investasi ke TaniHub Bukan Kehendak Pribadi

Kamis, 04 Juni 2026 | 22:07

Bos BEI Minta Investor Tidak Panik saat IHSG Anjlok

Kamis, 04 Juni 2026 | 21:57

Di Tengah Gejolak Global, Investor AS Tetap Lirik Peluang di Bali

Kamis, 04 Juni 2026 | 21:56

Pimpinan Baru BGN Fokus Optimalkan MBG ke Daerah 3T

Kamis, 04 Juni 2026 | 21:36

Istana Beri Sinyal Said Iqbal Bakal Masuk Kabinet

Kamis, 04 Juni 2026 | 21:29

Kejagung: Dapur MBG Afiliasi Dadan Cs Tetap Jalan

Kamis, 04 Juni 2026 | 21:22

Legislator PDIP Dorong Kejelasan Skala Prioritas Kurikulum Nasional

Kamis, 04 Juni 2026 | 21:19

Sinergi Polda Sumsel, PTPN IV Optimalkan Sistem Pengamanan Aset Perkebunan

Kamis, 04 Juni 2026 | 21:19

Kepala dan Dua Wakil BGN Baru Dilantik Senin Besok

Kamis, 04 Juni 2026 | 21:17

Sesuai Survei, Kinerja Pertamina Berhasil Jaga Stabilitas Ekonomi Nasional

Kamis, 04 Juni 2026 | 21:13

Selengkapnya