Berita

Retno LP Marsudi/Net

Wawancara

WAWANCARA

Retno LP Marsudi: Satu Orang Meninggal Karena Malaria, Tak Ada Uang Tebusan Untuk Perompak

SELASA, 25 OKTOBER 2016 | 09:33 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Empat WNI yang disandera oleh perompak Somalia, sudah dibebaskan pada Sabtu (22/10) pukul 13.00 WIB. Saat ini keempat WNI tersebut telah berada di Nairobi, Kenya, dan akan segera dipulangkan ke Indonesia.

Menteri Luar Negeri (Menlu), Retno Marsudi mengucap­kan terima kasih kepada semua pihak yang telah bekerja sama, membebaskan 26 anak buah ka­pal Naham 3 yang disandera se­jak Maret 2012 lalu. Pemerintah Indonesia berkoordinasi negara-negara yang warganya juga dis­andera, dengan LSM, organisasi internasional, dan Perserikatan Bangsaâ€"Bangsa (PBB).

"Empat tahun proses yang tidak pendek. Kami terus bekerja sama dengan negara Kamboja, Vietnam, Taiwan, dan China yang ABK-nya juga disandera. Selain itu kami juga bekerja sama dengan LSM-LSM inter­nasional serta PBB," ujarnya di Kantor Kementerian Luar Negeri (Kemlu), Jakarta Pusat.


Secara khusus Retno mengucapkan terimakasih kepada Badan Intelijen Negara (BIN). Namun dia tidak memaparkan lebih jauh peran BIN dalam operasi pembebasan tersebut.

Empat sandera tersebut ber­nama Sudirman, Supardi, Adi Manurung, dan Elson Pesireron. Mereka merupakan bagian dari 26 sandera yang dibebaskan setelah mengalami pembajakan pada 26 Maret 2012 di perairan Seychelles. Mereka bekerja di kapal Naham 3, yaitu kapal ikan Taiwan yang dioperasikan oleh perusahaan Oman. Berikut wawancara selengkapnya:

Bagaimana kondisi keempat WNI tersebut?

Alhamdulillah sehat. Saya telah berbicara langsung dengan salah satu dari empat sandera tersebut, yaitu Bapak Sudirman pada pukul 21.45 WIB. Kami berbincang selama 15 menit setelah mereka mendarat di Bandara Nairobi.

Apakah mereka akan langsung dipulangkan ke Indonesia?

Tidak. Mereka harus men­jalani pemeriksaan kesehatan terlebih dahulu. Pemeriksaannya sudah dimulai kemarin. Mereka harus melewati beberapa hari masa pemulihan sebelum dipu­langkan ke Indonesia.

Para keluarga korban apakahsudah diberitahu?

Sudah. Malam kemarin juga, setelah keempat sandera men­darat di Nairobi, pihak keluarga langsung kami diberitahukan. Bagaimanapun kan selama ini kami juga selalu berkomunikasi dengan keluarga mereka.

Memang kapan para sandera ini tiba di Nairobi?

Pada Minggu tanggal 23, seki­tar pukul 21.00 WIB, keempat sandera bersama dengan 22 sandera lainnya telah mendarat di Bandara Nairobi. Selain dari Indonesia, ABK yang bebas tersebut berasal dari Filipina, Kamboja, Thailand, Tiongkok dan Vietnam. Dubes RIN airobi dan Tim Kemlu yang diketuai oleh Dir PWNI/BHImenyambut mereka ketika tiba. Sebab tim kami telah berada di Nairobi sehari sebelum ketibaan sandera di Nairobi.

Kalau tidak salah, yang disandera ada 5 orang (WNI), satu lagi ke mana?

Betul. Satu orang WNIitu meninggal dunia karena sakit malaria. Jadi korban mening­gal itu ada tiga orang. Pertama Kapten Kapal meninggal saat terjadinya pembajakan pada 26 Maret 2012. Sementara dua sandera meninggal karena sakit pada tahun 2014. Dari dua yang meninggal tersebut, salah sa­tunya adalah WNIatas nama Nasirin asal Cirebon.

Bisa diterangkan sedikit bagaimana kronologis pem­bebasan sandera ini?
Begini, lokasi pembajakan kapal tersebut kan di sebuah perairan tepatnya 114 km sebelah selatan dari kepulauan Seychelles. Kemudian, para sandera dibawa ke lokasi penyanderaan pertama, yakni di kota kecil yang ber­nama Hobyo tepatnya 511 km dari Mogadishu, Ibu Kota Somalia.

Setelah disekap di Hobyo, mereka kemudian dipindahkan ke tempat penyanderaan kedua di Budbud yang terletak 287 km dari Mogadishu. Selama hampir lima tahun, para sandera hidup di sana, terombang-ambing di tempat yang asing dan jauh dari keluarga. Nah, dari tempat penyanderaan kedua ini dimulai­lah proses pembebasan sampai berhasil.

Setelah berhasil?
Setelah upaya negosiasi akh­irnya berhasil, para sandera ke­mudian dibebaskan dengan mo­bil yang dikendarai ke Galkayo Town, 689 km dari Mogadishu. Inilah safe house pertama setelah mereka dibebaskan.

Apakah ada sejumlah dana yang harus dibayar untuk membebaskan keempat sand­era tersebut?
Tidak ada pembayaran tebu­san bagi para sandera. Semuanya diselesaikan melalui upaya ne­gosiasi yang panjang. Setiap tahapnya ini, ada berbagai macam hal yang dilaksanakan. Sikap Indonesia selalu tegas, tidak akan pernah membayarkan tebu­san bagi pemberontak. ***

Populer

Rumah Bersejarah di Menteng Berubah Wujud

Sabtu, 07 Maret 2026 | 22:49

Pengacara Terkenal yang Menyita Perhatian Publik

Minggu, 08 Maret 2026 | 11:44

KPK Dikabarkan Gelar OTT di Cilacap Jawa Tengah

Jumat, 13 Maret 2026 | 14:54

Anggaran Pendidikan Diperebutkan, Sistemnya Tak Pernah Dibereskan

Sabtu, 14 Maret 2026 | 07:48

Siapa Berbohong, Fadia Arafiq atau Ahmad Luthfi?

Sabtu, 07 Maret 2026 | 06:42

Bangsa Tak Akan Maju Tanpa Makzulkan Gibran dan Adili Jokowi

Senin, 09 Maret 2026 | 00:13

Prabowo Berpeluang Digeruduk Demo Besar Usai Lebaran

Rabu, 11 Maret 2026 | 06:46

UPDATE

Obituari Dudi Sudibyo

Senin, 16 Maret 2026 | 21:36

Sekda Jateng Diperiksa Kejati

Senin, 16 Maret 2026 | 21:12

Mendes Optimistis Ekonomi Desa Bergerak Bersama Pemudik

Senin, 16 Maret 2026 | 21:06

Kopra by Mandiri Pertahankan Gelar Best Trade Finance Provider in Indonesia 2026

Senin, 16 Maret 2026 | 20:58

Lebih dari 32 Ribu Orang Ikut Mudik Gratis Presisi 2026

Senin, 16 Maret 2026 | 20:58

Kunjungi Kantor Agrinas, Menkop Godok Operasional Kopdes

Senin, 16 Maret 2026 | 20:49

Media Berperan Penting sebagai Pilar Demokrasi

Senin, 16 Maret 2026 | 19:48

PT KAI Bangun 5.484 Rusun Nempel Stasiun di Empat Kota

Senin, 16 Maret 2026 | 19:28

Survei Konsumen: Komitmen Lingkungan Jadi Penentu Pilihan AMDK

Senin, 16 Maret 2026 | 19:14

Untung dari Perang

Senin, 16 Maret 2026 | 19:05

Selengkapnya