Berita

Presiden Jokowi/Net

Politik

Presiden Jokowi Hanya Pencitraan Selama Dua Tahun

KAMIS, 20 OKTOBER 2016 | 08:53 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

. Usia Pemerintahan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla genap dua tahun pada hari ini, Kamis, 20 Oktober 2016.

Pemerhati politik yang juga Direktur Gaspol Indonesia, Virgandhi Prayudantoro mengatakan, dua tahun Jokowi-JK, rakyat masih merasakan tidak ada perubahan yang berarti.

"Bahkan, banyak kalangan menilai jika keadaan Indonesia saat ini semakin buruk dibandingkan rezim sebelumnya," kata Virgandhi kepada redaksi, Kamis (20/10).


Ia menyatakan kinerja pemerintahan Jokowi-JK selama dua tahun terakhir dinilai belum maksimal.

"Presiden Jokowi dalam dua tahun terakhir hanya melakukan pencitraan yang kinerjanya sangat tidak dirasakan masyarakat luas," ungkap Virgandhi.

Padahal, lanjut dia, banyak aspek yang masih harus segera diselesaikan oleh Pemerintah seperti di bidang politik, hukum dan ekonomi.

"Kegaduhan terjadi di Kabinet Kerja, di mana adanya bongkar pasang menteri, menteri rangkap jabatan, terpilihnya warga negara asing menjadi menteri, serta perpecahan kekuatan partai politik," ujar Virgandhi.

Dari perspektif hukum, era Jokowi-JK kacau-balau. Saat ini, Pemerintah seakan-akan lebih fokus mengurus pungli ketimbang kasus-kasus besar seperti BLBI, Bank Century, RS Sumber Waras, dan Reklamasi Jakarta.

Kemudian dari segi ekonomi, pertumbuhan ekonomi bukan saja stagnan, tapi justru mengalami penurunan dimana pada tahun 2014 ekonomi tumbuh 5,02 persen dan pada saat 2015 ekonomi turun sekitar  4,8 persen dan pada tahun 2016 hanya berkisar 5,04 persen. Ditambah lagi pemerintah yang diwakili Kementerian Keuangan berdasarkan hasil rapat dengan DPR hanya mampu menargetkan sekitar 5,1 persen dimasa yang akan datang.

Beban hutang luar negeri per akhir Juli 2016, utang luar negeri mencapai 324,2 milliar dolar AS yang artinya naik 6,4 persen dari tahun ke tahun, ada pula yang menyebutkan bahwa jumlah utang luar negeri sangat fantastis dimana pada tahun 2016 ini mencapai kisaran Rp. 3.263.52 triliun, pada tahun 2015 lalu mencapai angka Rp. 3.098.64 triliun, yang artinya melonjak begituh jauh.

"Hal ini menjadikan rakyat semakin pesimis terhadap kinerja rezim ini. Ekpektasi rakyat yang besar terhadap kepada rezim Jokowi saat ini ternyata tidak sesuai janji kampanye yang lalu. Karena rezim ini tidak pro rakyat," tutup Virgandhi. [rus]

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

KPK Periksa Faisal Assegaf dalam Kasus Dugaan Suap Bea Cukai

Selasa, 07 April 2026 | 11:56

UPDATE

JK Menjelma Imam Besar Bagi Kelompok di Luar Kekuasaan

Rabu, 08 April 2026 | 10:17

KPK Benarkan Panggil Pengusaha Rokok Haji Her, Tapi Mangkir dari Pemeriksaan

Rabu, 08 April 2026 | 10:02

Komisi X DPR Tekankan Kesejahteraan Guru dalam Revisi RUU Sisdiknas

Rabu, 08 April 2026 | 10:00

Iran Sebut Trump Setuju Penuhi 10 Syarat Gencatan Senjata

Rabu, 08 April 2026 | 09:56

IHSG Balik ke Level 7.000-an, Rupiah Menguat Usai Tersungkur ke Rekor Terendah

Rabu, 08 April 2026 | 09:54

Akselerasi Penyehatan, Adhi Karya Lakukan "Bersih-Bersih" Neraca

Rabu, 08 April 2026 | 09:40

Manuver JK Tak Perlu Dikhawatirkan

Rabu, 08 April 2026 | 09:33

Imparsial: Sudah Mendesak Dilakukan Revisi UU Peradilan Militer

Rabu, 08 April 2026 | 09:32

Berkas Kasus Penyiraman Air Keras Andrie Yunus Dilimpahkan ke Oditurat Militer

Rabu, 08 April 2026 | 09:21

KPK Soroti Dugaan Aliran Fasilitas ke Faisal Assegaf

Rabu, 08 April 2026 | 09:04

Selengkapnya