Berita

Jokowi/Net

Politik

Dua Tahun Memimpin, Jokowi Diminta Stop Pencitraan

SENIN, 17 OKTOBER 2016 | 21:51 WIB | LAPORAN:

Wakil Ketua DPR RI Fadli Zon mengimbau Joko Widodo-Jusuf Kalla (Jokowi-JK) menghentikan pencitraan. Pasalnya, selama dua tahun menjalankan pemerintahan hanya sedikit hasil yang dirasakan masyarakat.

"Presiden harus berhenti pencitraan, dua tahun ini hasilnya cuma sedikit yang dirasakan masyarakat. Karena kita ini people centered development bukan membangun beton," ujarnya di Gedung DPR, Jakarta (Senin, 17/10).

Menurutnya, apa yang menjadi cita-cita memenuhi janji kampanye Pilpres 2014, pemerintahan Jokowi-JK dalam semua bidang masih jauh dari kenyataan. Di sisi ekonomi, sebagian masyarakat merasakan kalau ekonomi semakin sulit, harga naik, daya beli masyarakat rendah, dan kesulitan lapangan kerja.


"Di bidang politik, dua tahun ini masih didominasi keinginan untuk melakukan satu penguasaan terhadap kelompok atau partai politik," jelas Fadli.

Dia menilai, kondisi tersebut membuat kehidupan politik Indonesia kurang sehat karena ada beberapa parpol dipecah belah lantaran intervensi pemerintah. Kondisi itu menyebabkan kehidupan demokrasi Indonesia masih diwarnai demokrasi diintervensi keinginan kekuasaan.

Di bidang hukum, secara singkat terlihat bahwa hukum di Indonesia semakin tidak jelas karena tumpul ke atas namun tajam ke bawah. Selain itu, diskriminasi hukum terjadi di mana-mana. Seperti Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) yang menyampaikan ada indikasi kerugian negara namun tidak diusut melainkan petty corruption atau korupsi kecil yang dikejar.

Fadli memastikan bahwa, dalam memimpin, Jokowi terlalu power oriented sehingga bukan bekerja sesuai yang diharapkan menjadi realitas. Dia mencontohkan sejauhmana janji Jokowi ingin mendirikan 50 ribu Puskesmas dalam lima tahun, kemudian janji membeli kembali Indosat.

"Presiden harus fokus pada hasil kerja sehingga tagline kerja nyata yang selalu dikatakan presiden. Bukan hanya slogan saja," tegas politisi Partai Gerindra itu. [wah]

Populer

Mantan Jubir KPK Tessa Mahardhika Lolos Tiga Besar Calon Direktur Penyelidikan KPK

Rabu, 24 Desember 2025 | 07:26

Kejagung Copot Kajari Kabupaten Tangerang Afrillyanna Purba, Diganti Fajar Gurindro

Kamis, 25 Desember 2025 | 21:48

Sarjan Diduga Terima Proyek Ratusan Miliar dari Bupati Bekasi Sebelum Ade Kuswara

Jumat, 26 Desember 2025 | 14:06

Mantan Wamenaker Noel Ebenezer Rayakan Natal Bersama Istri di Rutan KPK

Kamis, 25 Desember 2025 | 15:01

8 Jenderal TNI AD Pensiun Jelang Pergantian Tahun 2026, Ini Daftarnya

Rabu, 24 Desember 2025 | 21:17

Connie Nilai Istilah Sabotase KSAD Berpotensi Bangun Framing Ancaman di Tengah Bencana

Rabu, 31 Desember 2025 | 13:37

Camat Madiun Minta Maaf Usai Bubarkan Bedah Buku ‘Reset Indonesia’

Selasa, 23 Desember 2025 | 04:16

UPDATE

Komisi III DPR Sambut KUHP dan KUHAP Baru dengan Sukacita

Jumat, 02 Januari 2026 | 14:12

Bea Keluar Batu Bara Langkah Korektif Agar Negara Tak Terus Tekor

Jumat, 02 Januari 2026 | 14:08

Prabowo Dua Kali Absen Pembukaan Bursa, Ini Kata Purbaya

Jumat, 02 Januari 2026 | 14:07

Polri Susun Format Penyidikan Sesuai KUHP dan KUHAP Baru

Jumat, 02 Januari 2026 | 14:06

Koalisi Permanen Mustahil Terbentuk

Jumat, 02 Januari 2026 | 14:01

Polri-Kejagung Jalankan KUHP dan KUHAP Baru Sejak Pukul 00.01 WIB

Jumat, 02 Januari 2026 | 13:58

Tutup Akhir Tahun 2025 DPRD Kota Bogor Tetapkan Dua Perda

Jumat, 02 Januari 2026 | 13:46

Presiden Prabowo Harus Segera Ganti Menteri yang Tak Maksimal

Jumat, 02 Januari 2026 | 13:42

Bitcoin Bangkit ke Level 88.600 Dolar AS

Jumat, 02 Januari 2026 | 13:41

Berjualan di Atas Lumpur

Jumat, 02 Januari 2026 | 13:41

Selengkapnya