Berita

Benny K Harman/Net

Politik

Demokrat: Tidak Elok Kabinet Jokowi Salahkan Pemerintahan SBY

KAMIS, 13 OKTOBER 2016 | 12:14 WIB | LAPORAN:

. Komisi III DPR RI menyelenggarakan rapat dengar pendapat (RDP) dengan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) di Gedung Nusantara II, Senayan, Jakarta, Kamis (13/10).

Rapat tersebut membahas tentang beberapa isu terkait pelangggran HAM. Diantaranya terkait hilangnya dokumen temuan Tim Pencari Fakta (TPF) kasus pembunuhan Munir.

Wakil Ketua Komisi III DPR RI, Benny K Harman mengaku dirinya yakin dokumen tersebut sesungguhnya masih ada. Kalaupun benar hilang, pemerintah cukup meminta lagi ke TPF.


"Minta lagi aja ke TPF, kan pasti punya filenya. Saya yakin punya. Itu soal simple. Jangan masalah substansi dilebarkan ke soal teknis," kata Benny, politisi Partai Demokrat itu.

Karenanya, dia meminta kabinet pemerintahan Joko Widodo untuk tidak terus-terusan menyalahkan pemerintahan mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

"Tidak elok menyalahkan pemerintahan periode lalu. Selesaikan yang ada di depan mata ini. Itu hakikat pemerintah untuk jaga kesinambungan. Masa lampau yang baik harus dilanjutkan yang kurang baik perbaiki," imbaunya.

Benny yakin bahwa dokumen tersebut tidak akan mungkin hilang. Apalagi, tambahnya, semasa pemerintahan SBY, salah satu orang terdekat Jokowi, AM Hendro Priyono menjadi Kepala Badan Intilejen Negara.

Sebelumnya, Presiden Jokowi memerintahkan Jaksa Agung HM. Prasetyo untuk menelusuri keberadaan dokumen laporan Tim Pencari Fakta (TPF) atas kematian aktivis HAM Munir Said Thalib. "Sehingga bisa ditelusuri lebih lanjut apakah ada novum (bukti baru) yang kemudian dapat ditindaklanjuti atau tidak," ujar Staf Khusus Presiden, Johan Budi, Rabu kemarin (12/10). Tambah Johan, Presiden juga menginginkan kasus kematian Munir tuntas.

Namun, dokumen laporan TPF tidak berada di Kementerian Sekretariat Negara. Jaksa Agung juga mengaku tidak menyimpan dokumen itu.

Staf Khusus Menteri Sekretaris Negara, Alexander Lay mengatakan, dia justru mengetahui dari media massa bahwa laporan TPF kematian Munir dipegang oleh Presiden keenam RI, Susilo Bambang Yudhoyono. "Pak Sudi Silalahi (Mensesneg era ) juga mengatakan demikian bahwa yang menerima itu, Pak SBY, sejumlah eksemplar (TPF Munir)," ujar Alex. Namun, tidak mengetahui apakah pernyataan Sudi itu benar atau tidak. [rus]

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

UPDATE

Andre Rosiade Sambangi Bareskrim Polri Usai Nenek Penolak Tambang Ilegal Dipukuli

Senin, 12 Januari 2026 | 14:15

Cuaca Ekstrem Masih Akan Melanda Jakarta

Senin, 12 Januari 2026 | 14:10

Bitcoin Melambung, Tembus 92.000 Dolar AS

Senin, 12 Januari 2026 | 14:08

Sertifikat Tanah Gratis bagi Korban Bencana Bukti Kehadiran Negara

Senin, 12 Januari 2026 | 14:03

KPK Panggil 10 Saksi Kasus OTT Bupati Lampung Tengah Ardito Wijaya

Senin, 12 Januari 2026 | 14:03

Prabowo Terharu dan Bangga Resmikan 166 Sekolah Rakyat di Banjarbaru

Senin, 12 Januari 2026 | 13:52

Kasus Kuota Haji, Komisi VIII Minta KPK Transparan dan Profesional

Senin, 12 Januari 2026 | 13:40

KPK Periksa Pengurus PWNU DKI Jakarta Terkait Dugaan Korupsi Kuota Haji

Senin, 12 Januari 2026 | 13:12

Prabowo Tinjau Sekolah Rakyat Banjarbaru, Ada Fasilitas Smartboard hingga Laptop Persiswa

Senin, 12 Januari 2026 | 13:10

Air Naik hingga Sepinggang, Warga Aspol Pondok Karya Dievakuasi Polisi

Senin, 12 Januari 2026 | 13:04

Selengkapnya