Berita

Basuki Tjahaja Purnama/Net

Jaya Suprana

Mengukur Keberanian Ahok Minta Maaf Ke Warga Bukit Duri

SENIN, 10 OKTOBER 2016 | 20:15 WIB

DALAM berikhtiar menghayati warisan ajaran almarhum Gus Dur mengenai keberanian menyatakan yang benar sebagai benar dan yang tidak benar sebagai tidak benar, saya menulis naskah Menghargai Ahok Minta Maaf yang disebarluaskan RMOL pada tanggal 10 Oktober 2016.  

Pada prinsipnya, saya memang tulus menghargai kekesatriaan sikap Ahok minta maaf  kepada seluruh umat Islam di Indonesia yang merasa tersinggung dengan ucapan Ahok dalam menafsirkan Surat Al-Maidah ayat 51 saat berkunjung ke Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu pada 27 september lalu.  

Permintaan maaf Ahok sangat penting demi meredam gejolak amarah umat Islam Indonesia yang merasa tersinggung akibat tafsir Ahok terhadap kitab suci Al Quran. Semula Ahok memang merasa tidak bersalah maka tidak mau minta maaf.  


Sikap tidak mau minta maaf ini dibenarkan bahkan didukung secara gigih oleh para pendukung fundamentalis Ahok. Apabila Ahok bersikeras untuk tidak mau minta maaf, dikhawatirkan amarah umat Islam Indonesia rawan meledak menjadi kekerasan. Syukur Alhamdullilah, Ahok masih memiliki sikap kekesatriaan sehingga akhirnya pada pagi hari 10 Oktober 2016 di Balai Kota Ahok mengumumkan permintaan maaf atas tafsir Ahok terhadap Surat Al-Maidah ayat 51 yang terbukti telah melukai perasaan umat Islam di Indonesia. Maka kemudian saya menulis naskah Menghargai Ahok Minta Maaf Kepada Bukit Duri demi menghargai kekesatriaan Ahok memohon maaf.

Semula saya tidak menduga bahwa naskah saya akan memicu kritik. Maka saya terkejut ketika muncul kritik bahwa saya melakukan kampanye-putih terhadap Ahok jauh sebelum masa kampanye resmi dimulai. Naskah saya yang menghargai Ahok minta maaf dikhawatirkan oleh para lawan Ahok akan menimbulkan efek-samping yaitu meningkatkan elektabilitas Ahok yang sedang merosot tajam akibat penggusuran dan penistaan Al Quran.
Tentu saja saya tegas bantah kritik tersebut! Saya sama sekali tidak memiliki kepentingan politis dalam menghargai sikap kesatria Ahok minta maaf. Naskah saya hanya tulus ingin menghargai kesudian Ahok minta maaf. Sebab, menurut pendapat saya permintaan maaf Ahok potensial mengurangi ketegangan suasana sosio-kultural akibat kemarahan umat Islam. Namun ada pula kritik yang menganggap naskah penghargaan saya kepada Ahok pada hakikatnya tidak fair alias tidak adil terhadap warga Bukit Duri yang telah digusur Ahok dengan cara yang melanggar hukum secara sempurna.

Terbukti kepada umat Islam yang merasa terhina, Ahok mau minta maaf sebaliknya kepada warga Bukit Duri yang telah digusur dengan cara melanggar hukum secara sempurna, Ahok tidak mau minta maaf. Saya dapat memahfumi makna kritik masalah ketidak fairan tersebut. Maka melalui naskah yang dimuat RMOL ini, saya mengikrarkan janji bahwa apabila akhirnya Ahok minta maaf kepada warga Bukit Duri, saya berjanji akan menulis naskah Menghargai Ahok Minta Maaf Kepada Bukit Duri.

Bahkan apabila Ahok benar-benar memohon maaf kepada warga Bukit Duri yang telah sewenang-wenang digusur dengan cara pelanggaran hukum secara sempurna, maka selama kesehatan saya memungkinkan, di samping menulis naskah penghargaan, saya akan menghadap Ahok untuk menyampaikan ucapan terima kasih tak terhingga sambil saya bersembah-sujud kepada Ahok. Saya siap mengorbankan harga diri pribadi saya demi warga Bukit Duri yang kini tidak memiliki apa pun kecuali harga diri sebagai rakyat Indonesia. [***]

Penulis adalah pemerhati sosial  

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Tim Mawar dan Tambang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:59

UPDATE

KPK Panggil PNS dan Karyawan Swasta di Kasus Gratifikasi Mantan Sekjen MPR

Rabu, 01 Juli 2026 | 14:21

Kapolda Riau: Penghargaan Nugraha Sakanti Prestasi Seluruh Personel

Rabu, 01 Juli 2026 | 14:20

Mahfud MD Ajak Masyarakat Tetap Cintai Polri Seburuk Apa Pun Kinerjanya

Rabu, 01 Juli 2026 | 14:16

KPK Panggil Sejumlah Pejabat Imigrasi di Kasus Pemerasan Silmy Karim

Rabu, 01 Juli 2026 | 14:10

KPK Masih Periksa Bupati Kuansing Suhardiman Amby

Rabu, 01 Juli 2026 | 13:48

Audit Dugaan Penyimpangan Impor Sianida PPI, KPK dan BPKP Didesak Turun Tangan

Rabu, 01 Juli 2026 | 13:39

Komisi I DPR Ungkap Alasan Draf RUU KKS Belum Dibuka ke Publik

Rabu, 01 Juli 2026 | 13:35

Bos Maktour yang Juga Mertua Dito Ariotedjo Dipanggil KPK

Rabu, 01 Juli 2026 | 13:21

Masih Penyesuaian Sistem, Pajak Olshop di Marketplace Berlaku Mulai 1 Agustus

Rabu, 01 Juli 2026 | 13:16

Prabowo Layak Dicontoh Bagi Siapa Pun yang Ingin Jadi Presiden

Rabu, 01 Juli 2026 | 13:01

Selengkapnya